My Sweet Ghost Dreanda

My Sweet Ghost Dreanda
Dreanda Bab 11


__ADS_3

"sandraa"


Sandra menoleh ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Dari kejauhan terlihat Doni berlari dengan cepat menghampiri dirinya dan Mira yang sedang duduk di kantin. Sungguh menyedihkan ketika melihat lelaki gemulai itu berlari terseok-seok hampir jatuh.


"huh.. Huh.. San, Mir... Aduh"


Doni terlihat kesusahan mengatur nafasnya. Belum pernah dia berlari sekencang itu sebelumnya.


"hahahaha"


Mira tiba-tiba saja tertawa keras melihat Doni yang sedang kesusahan. Alhasil semua orang yang ada di kantin menatap mereka dengan aneh. Sandra terlihat malu dengan kelakuan Mira. Begitupun Doni, dia merasa jengkel dengan Mira yang terus menertawakannya.


"ssstttt, apaan sih"


Ujar Doni kemudian duduk di sebelah Sandra.


"hahaha, maaf-maaf... hahaha"


Mira tidak bisa berhenti tertawa, dia terus membayangkan saat Doni berlari.


"udahlah Mir, ya tuhan maluuu"


Ujar Sandra sambil menutup wajahnya dengan buku, dia merasa risih ditatap oleh banyak orang.


"iya iya, heemm"


Mira meneguk es kelapa milik Sandra.


"jadi ada masalah apa"


Tanya Sandra ketika melihat Doni yang mengambil alih bubur ayamnya.


"ini kenapa kalian pada makan punya aku semua sih"


"hehh sorry San, Oya aku cuma mau bilang kalau dosen killer itu panggil kalian berdua ke kantornya.... sekarang"


"APAAAA"


Kata terakhir Doni membuat mereka terkejut dan serempak berteriak, harusnya Doni mengatakannya dari tadi. Jadi mereka tidak harus telat pergi ke kantor. Sandra dan Mira tidak bisa membayangkan apa yang dilakukan dosen itu ketika muridnya tidak tepat waktu.


"yaudah ayok San, cepetan"


Mira terlihat sibuk membereskan tasnya.


"oi Doni, kita duluan ya"


"jangan lupa bayar ya Doniiii, byeeee"


Teriak Mira dari kejauhan, meninggalkan Doni yang terbengong mengetahui makanan mereka belum di bayar.


"ehhh Mirrr....ya ampuuun"

__ADS_1


*****


"telat 30 menit"


Ujar dosen berkacamata itu sambil melihat jam tangannya.


Mira dan Sandra yang sejak tadi berdiri di depan pria itu mulai merasa was-was, mereka sudah mempersiapkan telinga untuk mendengar segala omelan pria itu.


"silahkan duduk"


Mira dan Sandra saling menoleh ketika mendengar ucapan dosen. Belum pernah pria itu mempersilakan mereka untuk duduk di sofa kehormatannya. Dan hari ini mereka diberi kesempatan untuk merasakan empuknya sofa yang begitu legendaris itu.


"uhh, nyaman"


Bisik Mira sambil tersenyum.


"sstt, diam"


"hemmm, jadi apa kalian tau alasan kalian ada di ruangan saya''


Tanya pak dosen sambil melepaskan kacamatanya. Terlihat wajah pria itu sedikit lucu karena tidak memakai kacamata.


" kan bapak belum bilang, ya tuhann"


Ujar Mira dalam hati. Dia belum punya cukup keberanian untuk mengatakan hal itu secara langsung.


"maaf pak, sebelumnya. Apa ini ada hubungan dengan tugas minggu lalu?"


"salah, kalian salahh.. Coba tebak lagi"


Ujar dosen yang bernama Tono itu. Nama yang lucu bagi seluruh mahasiswa di kampus. Namun sayang, sifatnya tidak selucu namanya.


"lahh jadi kita sekarang main tebak-tebakan yaa?"


Mira tersenyum ke arah pak Tono, namun senyuman Mira malah menjadi masalah tersendiri bagi pria berkumis tebal itu.


"kamu, tidak usah menggoda saya!. Sekarang coba jawab kenapa kalian ada di sini?"


Ucapan pak Tono membuat Mira terkejut. Sejak kapan dia suka menggoda pria itu, lagian dosen itu yang ke gr-ran sendiri dengan senyuman dari Mira.


"yaa kan bapak panggil kami tadi, makanya kami ada di sini"


Ujar Mira ketus, seketika dia mendapat cubitan dari Sandra yang menatapnya tajam.


"yaaa benar sekali, kalian itu ada di sini karena suruhan saya"


Mira dan Sandra saling melongo heran dengan perkataan pria itu.


"jadi saya ingin menyampaikan jika kampus kita, terkhususnya mahasiswa semester akhir akan mengadakan pergelaran kesenian tradisional"


Sandra terlihat mangut-mangut mendengar penjelasan pak Tono, namun sebaliknya dengan Mira dia tidak terlalu memedulikannya.

__ADS_1


"saya sebagai ketua acara, jadi meminta kepada kalian untuk menjadi ketua panitia bagian, bagaimana bisa kan"


Mira yang sejak awal kurang suka acara, begitu mendengar dia ditunjuk sebagai ketua membuatnya semakin malas. Sedangkan Sandra begitu suka dengan kesenian, jadi kemungkinan besar dia akan setuju dengan anjuran dosen.


"baik pak, kami mau jadi ketua"


Ujar Sandra mantap.


Tanpa sengaja tatapan Sandra beralih menatap rak buku yang ada di belakang pak Tono, sesuatu yang berkilat dan bercahaya terlihat dari sela-sela buku tebal itu dan menyita perhatiannya. Sandra merasa ada sesuatu yang aneh dengan penglihatannya. Benda berkilat itu seolah berusaha menghipnotisnya dan membawanya dalam sebuah dimensi yang lain.


Benda itu terlihat bergeser sedikit, menimbulkan bunyi halus dari kayu dan buku yang menutupinya. Tiba-tiba sebuah bayangan hitam lewat begitu cepat di balik pak Tono. Sekilas terlihat seperti seorang perempuan.


"San?"


Sandra tersadar ketika mendapat tepukan halus di bahunya.


"ehh iya, ada apa"


Tanya Sandra sambil menatap Mira yang terlihat bingung.


"kamu jadi ketua keamanan, bisa kan?"


Tanya Mira lembut.


"eh.. Iya saya siap"


Ujar Sandra.


"ya sudah, kalau begitu sampai di sini pertemuan kita"


Ujar pak Tono sambil merapikan berkas-berkas di mejanya dan keluar dari ruangan, meninggalkan Sandra yang terlihat bimbang.


"ayo San"


Mira mengandeng tangan Sandra dan meninggalkan ruangan itu.


Sebenarnya Sandra masih penasaran dengan apa yang dilihatnya tadi, tapi dia masih merasa takut untuk kembali melirik benda itu. Sesuatu yang tersembunyi di balik sana seaakan ingin menjeratnya kuat, dia takut jika hal itu terjadi dan menyakiti dirinya.


-


-


-


-


-


-


-

__ADS_1


Hai semua, bantu vote karya ini ya, agar author lebih semangat lagi dalam menulis..


__ADS_2