
Lisa buru-buru menyuguhkan air putih kepada Mira. Sedangkan Doni hanya bisa menatap dengan perasaan iba, terlebih lagi ketika melihat wajah temannya yang sudah kelihatan pucat seperti mayat hidup.
"tisu?". Ujar Lisa melihat ke arah Doni. Namun karena Doni tidak punya tisu, alhasil dia kembali masuk ke dalam ruang pasien hanya untuk mengambilnya.
Di dalam ruangan, Sandra masih terbaring lemah dengan kepalanya yang diperban. Tidak ada sapaan seperti biasa ketika mereka bertemu, Doni merasa sangat sedih melihat sahabatnya mengalami hal yang sedemikian rupa. Teringat saat pertama kali dia dan Mira naik ke lantai atas untuk mencari Sandra. Berkali-kali mereka berkeliling di semua ruangan, namun Sandra tidak ada di sana.
Di ruangan pak Tono, mereka sudah mencarinya berkali-kali, sampai-sampai terbesit hal buruk yang telah terjadi pada sahabat mereka, apakah Sandra di culik?namun dengan cepat mereka menepis pikiran itu.
Doni dan Mira terus saja mencari Sandra di manapun. Hal itu masih terus berlanjut sampai mereka berdua memeriksa ke ruangan rektor yang terletak paling ujung, bahkan sangat jauh dari ruangan dosen. Bukannya menemukan Sandra, justru mereka menemukan pak rektor yang sedang duduk manis sambil memakan banyak makanan. Alhasil, mereka berdua dimarahi mentah-mentah oleh pria itu.
Sampai pada akhirnya, Mira melihat ada seseorang yang terbaring di depan tangga. Awalnya mereka tidak curiga jika orang itu adalah teman yang sedang mereka cari. Namun melihat dia membutuhkan pertolongan, tentu saja Mira dan Doni akan membantunya. Sampai mereka berada di tempat gadis itu dan melihat siapa dia.
"Don...". Tepuk seseorang di pundak Doni. Langsung saja dia berbalik dan mendapati Lisa sedang menatap ke arahnya dengan cemas. Doni hanya berbalas senyum dan mengambil tisu untuk Mira. Begitu akan keluar, Lisa menahannya. Kali ini dia butuh penjelasan.
"bisakah kita bicara?" Tanya Lisa. Melihat Doni yang tidak mengindahkan pertanyaannya. Sekali lagi dia mengulang hak yang sama. "sebentar, please..." mohon Lisa, kemudian beralih menatap pintu ruang yang terbuka.
__ADS_1
"apa sudah ada yang menghubungi orang tuanya Sandra?". Tanya Mira yang berdiri di depan pintu.
"astaga! Lupa. Aku akan menghubunginya sekarang". Ujar Doni, kemudian berjalan keluar dan mulai menghubungi orangtua Sandra. Meninggalkan Lisa yang tadinya ingin membicarakan sesuatu hal dengannya.
Selepas Doni pergi, Mira berjalan mendekati Lisa yang berdiri tidak jauh di depannya. "bagaimana keadaan di kampus sekarang?". Tanya kemudian.
"sepertinya aman-aman saja. Acara masih berlangsung dengan meriah" jawab Lisa tanpa mengalihkan pandangan dari kotak tisu yang ada di tangannya.
Keduanya saling diam, tidak ada pertanyaan maupun percakapan lagi di antara mereka. Semuanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Apalagi sekarang memang bukan waktunya membahas hal-hal yang tidak penting, terlebih pekerjaan yang telah mereka tinggalkan tadi.
"Sandra...." ucap ibunya sambil mengelus tangan anak gadisnya itu.
"sebenarnya apa yang terjadi?. Tanya pak Hamid, ayahnya Sandra memandang ke arah Doni, Lisa dan juga Mira yang berdiri di depannya.
" b-begini pak, kami menemukan Sandra tergeletak pingsan di lantai dua. Kami juga tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya". Jelas Doni menatap orang di dalam ruangan itu bergantian.
__ADS_1
"saya juga ada di sana waktu itu, pak". Lanjut Mira membenarkan perkataan Doni. Dia takut jika orang-orang tidak percaya dengan apa yang dikatakan laki-laki itu.
"pak, sebaiknya kita bicarakan di luar" ucap pak Tono seketika melihat gelagat tidak baik dari orangtua Sandra. Jujur dia juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tadinya dia hanya menyuruh Sandra untuk membantu mencari kertas laporan di kantornya. Namun yang di tunggu-tunggu tidak juga kembali dalam tiga jam, sampai pada akhirnya dia sendiri mendapat berita dari Doni jika Sandra dibawa ke rumah sakit.
"baiklah". Mau tidak mau, akhirnya mereka berempat keluar dari ruangan, meninggalkan Lisa, Sandra dan ibunya yang masih tetap setia di dalam sana.
-
-
-
-
-
__ADS_1
Tinggalkan kesan manisnya ya say