My Sweet Ghost Dreanda

My Sweet Ghost Dreanda
Dreanda Bab 8


__ADS_3

"Sandra, makan malam dulu nak"


Ujar ibu ketika melihat anak gadisnya sibuk dengan tugas kuliah.


"iya buk, bentar lagi''


Sahut Sandra yang masih fokus dengan layar di depannya.


" tapi nanti keburu dingin, ayo ayo makan dulu"


Ibu menuntun Sandra untuk ke meja makan kemudian mendudukkannya di kursi kesayangannya.


"ya ampun bu, Sandra bukan anak kecil"


"kalau tidak begini, kamu gak bakalan makan sampai subuh"


Ujar ibu sambil menyendok nasi ke piring Sandra.


Sandra melihat ibunya yang sibuk menghidangkan makanan untuk dia, seharusnya dialah yang harus melayani ibu dengan baik. Dia begitu bersyukur telah dilahirkan ke dalam keluarga yang sesempurna ini. Punya ayah yang selalu melindunginya dan ibu yang selalu mengkhawatirkan keadaannya.


"Oya, ayah belum pulang buk"


Tanya Sandra kemudian mulai memakan makannya.


"belum tuh, coba kamu telfon nanti"


Jawab ibu kemudian duduk di depan Sandra.


"siap nyonya ratu"

__ADS_1


Ujar Sandra sambil membuat gerakan hormat kepada ibunya.


"ada-ada saja"


Ibu tertawa melihat tingkah anak semata wayangnya.


*****


Seorang pria paruh baya terlihat kewalahan memperbaiki mobilnya yang mogok di tengah jalan. Sebelumnya mobil itu baik-baik saja saat pergi mengantar barang, namun begitu pulang masalah mulai terjadi.


Pria bernama Hamid itu terkejut ketika tiba-tiba saja suara dering handphone terdengar dari saku bajunya. Dilihatnya nama yang tertera di layar, sebuah panggilan dari gadis kesayangannnya. Tanpa sadar seutas senyum tersungging dari wajahnya yang tampak kelelahan.


"halo ayah, ayah dimana"


"iya nak, ini ayah lagi di jalan. Ada apa kamu telpon ayah jam segini". Pria itu bertanya sambil melihat jam di hp yang menunjukkan pukul dua belas malam.


Ujar anak gadisnya itu persis seperti anak kecil berusia lima tahun.


"mungkin besok ayah sampai di rumah ya nak". Pria itu beralih menatap mobil tuanya yang sedari tadi berusaha dia perbaiki.


"beneran ayah?? Syukurlah. Oya, ayah sekarang istirahat aja dulu, jangan ngebut-ngebut di jalan, bahaya"


Ucap anaknya di seberang sana yang terdengar bahagia. Begitupun dengan pria itu, dia juga merasa bahagia ketika bisa mendengar suara anak kesayangannya itu. Rasa lelah seakan hilang terganti dengan semangat yang kuat untuk bisa kembali memperbaiki mobilnya.


Setelah telepon terputus, dia kembali lagi melanjutkan pekerjaannya. Beberapa mesin mobil terlihat kusam dan bergeratan karena dimakan usia, terlihat beberapa bercak noda minyak di sekeliling tangki yang menghitam.


Pak Hamid terus saja memperbaiki beberapa mesin, sesekali dia mengelap agar terlihat bersih dan mengkilap. Walaupun itu tidak sepenuhnya bisa dikatakan bersih.


Tanpa terasa beberapa menit telah berlalu.

__ADS_1


Pak Hamid hampir selesai dengan pekerjaan, jika saja tidak diganggu oleh segerombolan makhluk halus penghuni pohon mangga di sebelah mobilnya. Andai saja mobil itu mogok di jalan yang penuh dengan pertokoan, mungkin dia tidak perlu repot-repot harus memperbaiki mobil ini sendirian. Dan ditemani oleh setan-setan itu.


Khikk.... Khikkk... Khik...


Suara kikikan terdengar dari atas pohon tepat di sampingnya. Pak Hamid yang tahu jika itu ulah makhluk halus tidak begitu peduli dengan suara itu. Dia terus saja melanjutkan kerjanya sambil merapalkan mantra-mantra pelindung dari makhluk itu.


Stttttt


Suara itu terdengar lain, seperti suara ular yang berdesis. Pak Hamid menoleh guna melihat apakah ada ular di sekitarnya atau tidak. Dan sepertinya itu bukanlah suara ular, melainkan suara sosok yang tepat berada di sampingnya.


Hampir saja pria itu terloncat kaget ketika melihat keberadaan 'mereka' yang tiba-tiba sudah ada di sebelahnya. Mantra kembali dibaca dengan suara yang terdengar nyaring. Bau busuk yang begitu menyengat membuat pernapasan terasa sesak, aroma bangkai juga bau amis tercium begitu dekat dengan dia.


Tidak butuh waktu lama, makluk itu pergi meninggalkan pak Hamid. Pria itu terlihat mengap-mengap kehabisan nafas sambil terduduk di atas jalan.


Tiba-tiba saja, angin berhembus dengan kuat menebarkan aroma wangi yang terasa dingin. Aroma itu semakin kuat ketika angin mulai berhenti bertiup. Suasana begitu menenangkan dan membuat siapa saja terlarut dalam kedamaian. Pak Hamid mulai bisa mengatur kembali nafasnya, dan menoleh ke belakang guna melihat siapa pemilik wangi tersebut.


"kamu?"


-


-


-


-


Mari saling dukung


Tinggalkan kesan manisnya...

__ADS_1


__ADS_2