My Sweet Ghost Dreanda

My Sweet Ghost Dreanda
Dreanda Bab 15


__ADS_3

Dreanda terkejut dan langsung berjalan ke arah Sandra ketika dia mendengar keinginan gadis itu untuk pulang. Namun, sesuatu yang lebih besar terus menimbulkan tanda tanya di benaknya. Benarkah gadis itu ingin agar dia pergi dari kehidupannya. Meninggalkannya sendirian tanpa ada lagi sebuah pertemuan untuk hubungan pertemanan mereka?


"kenapa? Bawaa aku pulang sekarang!"


Sandra berteriak keras di depan Dre. Sungguh menyakitkan ketika melihat pemuda itu terus saja terdiam seakan tidak mengetahui apa-apa.


Aku akan membawamu pulang


Tapi aku tidak bisa meninggalkan...


"kenapa?"


Tanya Sandra sambil tertawa.


Karena aku su...


"cukup Dre, cukup. Kita ini berbeda, kamu itu hanya sebuah bayangan... yang bahkan tidak ada artinya sama sekali"


"kita berbeda Dre, aku manusia! Dan kau?"


Sandra menunjuk tepat di depan wajah Dreanda, pemuda itu tidak bergeming sama sekali. Dia ingin memberi ruang untuk Sandra agar dia bisa mengungkap semua isi hatinya.

__ADS_1


Dreanda mulai melayang, dia tidak kuat lagi untuk terus berpijak karena energinya akan habis terserap. Sekilas dia melihat tubuhnya sendiri, kemudian mendesah pelan. Sandra benar, dia hanyalah sebuah bayangan yang tidak ada gunanya. Hanya angin yang akan terbang di antara angin-angin yang lain.


Sejenak mereka terdiam bersama, tidak ada tutur kata lagi yang keluar dari keduanya. Mereka sama-sama terjebak dalam ego dan emosinya masing-masing.


Bisakah kita berteman Sandra...?


Sandra membalikkan tubuhnya, membelakangi pemuda itu. Kepalanya terasa pusing ketika mendengar penuturan pemuda yang selama ini dijadikan temannya. Selalu saja dia menanyakan apa mereka bisa kembali berteman. Jujur Sandra tidak kuat lagi untuk dekat dengan Dreanda. Rasa aneh itu semakin saat semakin tumbuh dalam hati dan itu adalah sebuah kutukan untuknya.


Aku akan menjadi temanmu


Seperti sebelumnya, aku akan datang saat kamu perlu. Bukankah itu yang diinginkan seorang teman?


Dreanda kembali berbicara, dia tidak dapat menerima jika harus berpisah dengan Sandra. Harusnya dia tidak mengatakan rasa sukanya jika akhirnya harus jadi begini. Andaikan waktu bisa di ulang, rasanya dia ingin memperbaiki agar tidak ada masalah malam ini.


"bisakah kita pulang"


Sandra sudah tidak kuat lagi untuk terus berdebat dengan Dre, tidak hanya pikirannya yang lelah, namun hatinya juga sakit.


Tanpa berkata apa-apa, Dreanda mulai mengeluarkan pusakanya dari dalam tubuh. Benda itu kemudian langsung melingkar di sekitar tubuh Sandra. Sulur itu tidak begitu kuat melilitnya seperti saat benda itu membawanya ke tempat ini sebelumnya. Sandra merasa sedikit tenang dan nyaman karena pernapasan tidak kembali terganggu.


Begitu Sandra berkedip, dia sudah berada di kamarnya. Berdiri tegak di depan cermin yang berhadapan langsung dengan jendela. Tidak ada Dre di sana, tidak ada sulur yang melilit, bahkan untuk aroma melati yang sering hadir sudah tidak lagi tercium.

__ADS_1


Gadis itu terduduk di tempat tidur, berusaha menetralkan emosi dan rasa yang masih terus mengganggunya. Dia teringat pada kejadian saat bersama Dreanda di danau itu, harusnya malam ini dia bahagia bisa bermain dengan temannya. Namun semua menjadi kacau ketika mendengar pemuda itu menyukainya.


Dia mulai berdiri dan melangkah menuju cermin. Dipandangi wajahnya yang begitu kusut karena bekas-bekas air mata yang belum mengering. Mahkota bunga berwarna kuning masih menempel di kepalanya, begitu cantik dan indah. Tentu saja semua orang akan menyukainya, begitupun dengan Dreanda.


Sandra seketika sadar jika apa yang dilakukannya sangat berlebihan. Dia terlalu membesar-besarkan masalah dengan pemuda itu. Harusnya dia bisa bersikap biasa saja ketika mendengar ungkapan rasa dari Dre, harusnya dia tidak perlu menangis berlebihan.


Sandra sadar, dia terlalu menganggap serius setiap ucapan Dreanda. Bukankah selama ini pemuda itu juga sering menyampaikan rasa sukanya kepada Sandra, dan selama itu pula dia bisa bersikap biasa saja. Namun sekarang semuanya berbeda, dia telah salah mengambil jalan keputusannya sendiri.


"Dre.. Maaf"


Desak Sandra sambil memegang hatinya, rasa nyeri itu semakin terasa.


_


_


_


_


_

__ADS_1


Hai semua, dukung terus karya ini ya.


Bantu like, vote dan rate 5 nya yaaa😊😊😊😍


__ADS_2