
Dreanda terus saja merasakan getaran yang dahsyat, sesuatu di balik sana sedang mengawasinya diam-diam, dia harus bertahan dengan kekuatannya yang tinggal sedikit lagi. Saat ini'lah dia baru merasakan bagaimana rasanya sendiri, tanpa kekuatan, tanpa teman dan benda pusakanya yang biasanya selalu diandalkan.
"uhhh... Sial"
Dia kembali mengumpat, menyesalkan apa yang sedang terjadi kepadanya saat ini. Ingin rasanya dia menghancurkan labirin hitam yang dibuat oleh makhluk itu. Namun dengan kekuatan yang tinggal sedikit, sukar untuk dia bisa melakukan semuanya.
Di sisi lain, sepasang mata merah sedang melihat ke sebuah arah. Bukan kepada Dreanda, namun kepada benda berkilau yang melingkar di pinggang pemuda itu, sulur emas. Benda pusaka itu sesekali memincingkan cahaya kuning mengkilat, namun seketika juga redup ditelan kegelapan yang pekat. Memukau sekaligus menakutkan.
Tanpa diketahui Dreanda, sebuah Senyum sinis mulai tercipta dalam kegelapan, penyusun rencana jahat mulai menjalankan tugasnya. Mereka semua akan merebut sulur sakti itu.
********
__ADS_1
"aduh Mira, angkat telfonnya!". Sandra berusaha untuk menghubungi Mira yang masih berada di acara kampus. Sudah beberapa kali dia menghubungi, namun tetap saja panggilannya tidak dijawab. Entah siapa lagi yang harus dihubunginya saat ini, tidak Mira, Lisa maupun Doni, mereka sepertinya sama-sama sibuk.
"huh, tidak apa, aku bisa sendiri!". Ujar Sandra meyakinkan dirinya. Dia tidak akan mengharapkan bantuan siapapun lagi, lebih baik dia melakukan semuanya sendiri.
Setelah mengumpulkan keberaniannya, akhirnya dia mulai melangkah menuju ruangan pak Tono. Dia berusaha bersikap tenang dan biasa saja, Seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Pintu ruangan itu masih tertutup rapat seperti terakhir kali dia melihatnya tadi.
Begitu sampai di depan pintu, dia kembali menenangkan pikirannya. Dia tidak ingin terjadi sesuatu saat di dalam, dan akan berusaha menjaga tempatnya saat berada di sana. Sandra melihat ke kiri dan kanan, tidak ada siapa-siapa. Rasa-rasanya dia ingin kembali saja ke bawah dan segera menemui pak Tono. Tapi jika dia melakukan semua itu, bisa jadi nanti dia akan di anggap penakut oleh orang lain. Dan Sandra tidak ingin hal itu terjadi.
Sedikit demi sedikit ruangan pak Tono mulai terbuka, semuanya tampak lenggang. Tidak ada siapa-siapa dan tidak sedang terjadi sesuatu. Semua terlihat rapi dan bersih. Pewangi ruangan tercium bebas di dalam sana. Terlihat beberapa buku tersusun rapi diatas meja kerjanya. Tumpukan dokumen terlihat rapi di tempatnya, semuanya sempurna. Tidak ada yang terlihat mencurigakan.
Sandra menghela nafas lega, dia mulai berfikir jika semua yang dilihatnya tadi hanyalah sebuah ilusi saja. Bisa terjadi karena dia kelelahan, dan merasa takut dengan sesuatu. Terlebih lagi didukung dengan suasana tempat yang sepi. Semua itulah yang memengaruhi pikirannya saat ini.
__ADS_1
Sandra berjalan ke arah meja kerja dosennya. Dia mulai mencari kertas catatan yang dimaksud pak Tono tadi. Di atas meja terdapat beberapa gulungan kertas yang dibiarkan begitu saja. Sandra merasa jika salah satunya mungkin kertas catatan itu. Namun beberapa saat setelah dilihatnya, Tidak ada satupun yang sesuai. Semuanya hanya bagian dari dokumen pelajaran mahasiswa.
"aduh, di mana sih?". Ujar Sandra. Dia memilih mencarinya di dalam laci. Semua laci sudah dilihatnya, namun tidak ada juga kertas catatan itu. Sandra akhirnya memilih keluar dan mulai berjalan ke arah pintu. Begitu akan sampai ke luar, tiba-tiba saja terdengar Bisikan halus yang begitu lembut di telinga Sandra.
"di sanaa"
_
_
_
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak yaa 😉