
Selama dalam perjalanan pulang, pikiran Sandra tidak pernah lepas dari kejadian yang menimpanya. Antara percaya atau tidak, di dalam ruangan itu dia bisa melihat sekilas kejadian yang pernah terjadi. Seorang wanita cantik bergaun putih, laki-laki tua, hiasan berbentuk kupu-kupu, dan yang lebih membuatnya penasaran adalah mengenai pemuda yang mirip Dreanda.
"itu memang dia atau cuma kemiripan saja? Apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu?"
Sepanjang jalan menuju rumah, Sandra terus memejamkan matanya. Berusaha mengingat setiap detil rentetan kilasan kejadian itu. Terutama sekali tentu dia ingin mengetahui lebih jelas mengenai pemuda itu. Apa yang terjadi selanjutnya padanya setelah dia di tikam oleh lelaki jahat? Apa dia langsung mati? Atau sempat mengalami kritis?
Jika dia tidak langsung meninggal, siapa yang menolongnya saat itu?. Sandra juga ingin tahu mengenai nasib si tua bejat yang telah membunuh kakak dari si pemuda. Bisa-bisanya seorang pengurus di universitas melakukan hal yang sangat keji. Sandra tidak habis pikir, jika universitas yang begitu di bangga-banggakan ternyata menyimpan ribuan misteri.
"san, bangun nak, kita sudah sampai"
Mendengar suara ibunya, Sandra langsung bangun dan melihat ke luar jendela mobil. Ternyata mereka sudah sampai di rumah. Eh, tapi tunggu, sepertinya ini bukan rumahnya. Apa maksud orangtuanya membawa dia ke rumah ini.
"kita tinggal di sini dulu ya, kakek kangen banget lho sama kamu, kakek juga sedih mendengar berita kamu masuk rumah sakit" ujar ibu menjelaskan, dia tau jika saat ini putri semata wayangnya sedang merasa bingung.
__ADS_1
"kakek..."
Langsung saja dia keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu utama rumah. Rumah dengan desain kuno itu sudah banyak mengalami perubahan, Sandra ingat saat terakhir kali dia ke sini, beberapa tanaman bunga terlihat berjejer rapi di sekitaran pagar Namun saat ini, tidak terlihat satu pot pun yang tersisa. Bisa jadi kakek membuangnya.
"ehh sudah pulang? Masuk-masuk" ujar seorang lelaki tua yang berumur hampir seabad itu dengan antusias. Terlihat jelas raut wajah bahagia darinya, sungguh dia sangat merindukan anak dan cucunya itu datang berkunjung. Jika selama ini hanya anak dan menantunya yang datang, saat ini dia justru sangat bahagia melihat kedatangan cucu kecilnya yang sudah tampak dewasa.
"kek?" ujar Sandra tiba-tiba.
"iya, kamu butuh sesuatu?" tanya kakek sambil berjalan menuju ruang keluarga.
Dia mengutuki dirinya sendiri Karena telah menjadi seorang cucu durhaka, dia masih memiliki kakek, pria yang selalu ada dalam setiap memori masa kecilnya. Lelaki yang dicintai neneknya, dan dengan alasan itu sang nenek pergi lebih awal, meninggalkan kesedihan dan cintanya.
"Sandra cucu kakek, kamu sudah dewasa kan? Kakek tahu jika kamu sibuk, kakek juga tau bagaimana kuliah kamu sekarang, sudahlah lupakan hal itu" ujar lelaki tua itu bijak, kemudian memilih duduk di kursi kesayangannya, persis seperti dulu. Saat di mana istrinya masih ada di sebelahnya.
__ADS_1
Di lihatnya Sandra yang masih berdiri sedikit jauh darinya sambil menundukkan kepala, terlihat perban masih melilit di antara dahi dan bagian belakang kepala. Kakek tahu jika saat ini cucunya sedang menangis, dia bisa merasakan hal itu. Namun apa yang harus di tangisi sekarang? Dia saja sudah cukup merasa bahagia ketika melihat keluarganya berkumpul kembali.
"lihatlah maria, cucumu itu persis sepertimu"
Bisik kakek sambil tersenyum lemah.
-
-
-
-
__ADS_1
Bersambung....