My Sweet Ghost Dreanda

My Sweet Ghost Dreanda
Dreanda Bab 37


__ADS_3

"HAHAHAHAHA"


Suara tawa yang sangat besar mampu menghancurkan dinding penghalang yang dibuat oleh Dreanda. Dia berusaha memberi batas antara dia dan musuh kegelapan itu. Dia tidak ingin jika rencana jahat mereka berhasil di lakukan, apapun caranya dia akan terus menjaga benda pusaka miliknya.


"SEPERTINYA SI LEMAH INGIN BERMAIN-MAIN"


Teriakan kemarahan itu kembali menggema, makhluk kegelapan itu sepertinya sudah tidak tahan lagi untuk terus-terusan berdiam diri di tempatnya. Mereka ingin segera menghancurkan Dreanda dengan merebut sulur emas itu.


"MAKHLUK TERKUTUK!". teriak Dreanda tiba-tiba seakan menantang musuh di hadapannya. Seharusnya dia tidak perlu mengeluarkan kata-kata seperti itu. Karena dengan dia melakukannya, maka sebuah kemarahan besar akan menghampirinya saat itu juga.


Pemuda bayangan itu merasa sangat muak ketika terus terjebak dalam labirin gelap. Makhluk di hadapannya sepertinya tidak akan melepaskannya begitu saja, tentu karena mereka sedang mengincar benda sakti yang melilit pinggang Dreanda saat ini. Sebenarnya bisa saja Dre menghilangkan sulur itu dari tubuhnya dan menyimpan di tempat lain. Namun, karena kekuatan yang tinggal sedikit dan sulit untuk bergerak, maka mau tidak mau dia harus membiarkan sulur itu berada di luar tubuhnya.


"KURANG AJAR, SEPERTINYA DIA HARUS DI BERI PELAJARAN!". Suara-suara itu kembali terdengar jelas. Terasa menakutkan dan menjijikkan. Bagaimana bisa ada berbagai macam suara yang dikeluarkan dalam waktu bersamaan secara serentak. Seperti suara wanita, pria dan anak-anak yang digabungkan dengan begitu banyak.


Pemuda itu sudah bersiap-siap jika saat itu terjadi serangan dari musuh. Dengan mengandalkan pendengarannya, dia ingin mengalahkan musuh-musuh itu. Kegelapan yang pekat dan hitam semakin menyelimuti penglihatannya saat ini. Dia tidak bisa melihat di mana keberadaan musuh dan seperti apa mereka sebenarnya.


Beberapa saat berlalu tanpa terjadinya apa-apa. Seperti para musuh itu tidak berani memulai menyerang Karena melihat benda pusaka bernuansa emas itu sempat mengeluarkan cahaya sekilas. Dreanda tau jika sulurnya merespon keadaannya saat ini, dia juga tau sampai batas mana nanti kekuatannya jika dia mulai melakukan pertarungan.


Dua jam berlalu sebagaimana sebelumnya. Tidak terjadi apa-apa, bahkan tidak terdengar suara-suara aneh tadi. Dreanda cukup merasa heran, apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa makhluk kegelapan itu seakan menghilang begitu saja.


Beberapa detik kemudian, Dreanda dikejutkan dengan suara teriakan yang memanggil namanya berulang kali. Suara yang tidak asing bagi Dreanda. Suara yang sempat ingin di dengarkannya lagi seperti dahulu.


"Dreeee"

__ADS_1


"Dreeeee.. Kau kah itu?"


Dreanda terpaku ketika mendengar hal itu. Tubuhnya bergetar hebat, bahkan sulurnya mulai mengeluarkan cahaya yang lebih kuat dari pada sebelumnya. Namun sesaat kemudian, cahaya kuning itu tedup kembali.


"di mana! Di mana?" tanya pemuda itu sambil berputar ke kiri dan ke kanan. Dia ingin mencari sumber suara tadi. "Sandraa... Sandra.." teriak Dre kencang hingga mencapai batas kesanggupannya. Sungguh dia ingin melihat Sandra saat ini. Tiba-tiba saja...


"DREEEEE"


Praang


Suara Sandra yang berteriak sangat keras disusul dengan suara benda pecah membuat Dreanda terpaku di tempatnya. Tubuhnya bergetar, tangannya menggepal seakan ingin menghancurkan apapun saat itu juga.


Apa yang sebenarnya terjadi pada Sandra? dimana dia sekarang? dan suara apa tadi? Berbagai macam pertanyaan muncul dalam benak pemuda itu. Sungguh saat ini dia begitu sangat mengkhawatirkan Sandra.


"HAHAHAHAHA, GADIS YANG MALANG"


"APA YANG KALIAN LAKUKAN.. BEDEBAH!"


Teriak Dreanda tak kalah lantang ketika makhluk itu memperlihatkan seorang gadis tergeletak tak berdaya dengan darah yang mengucur deras hingga menggenangi lantai keramik. Tentu saja gadis itu tak lain adalah Sandra.


"KURANG AJAR, TERKUTUK KALIAN SEMUA"


Amarah dan rasa sakit hati bercampur menjadi satu hingga membentuk kekuatan mematikan dari Dreanda. Aura yang tadi tinggal sedikit langsung bertambah besar hingga mampu menghancurkan kegelapan. Sulur sakti yang tadinya tergeletak tanpa kekuatan sekarang seakan-akan mampu menghancurkan dan menghentikan waktu dalam sekali hentakan.

__ADS_1


Makhluk-makhluk yang tadinya meremehkan Dreanda, langsung merasa takut dan gemetar ketika menyaksikan langsung kekuatan pemuda itu kembali. Awalnya mereka ingin mencoba menghancurkan Dreanda dengan menyakiti teman wanitanya. Namun bukannya semakin merana, Dreanda justru bertambah kuat karena rasa marah yang begitu besar.


Semua labirin yang menjebak Dreanda tadi telah dihancurkan dengan sekali hentakan. Makhluk-makhluk kegelapan menjerit kesakitan karena terlilit panasnya tali sulur yang mencekik leher mereka. Inilah pembalasan jika ada yang berani bermain dengan Dreanda, terlebih jika sampai membawa keselamatan dari gadis miliknya.


"AAAA.. HENTIKAAAN, AMPUNI KAMI, AMPUNI KAMII".


Teriakan memohon terdengar dari musuh-musuh kegelapan. Mereka memohon kepada Dreanda agar dia melepaskan cekikan di leher mereka. Namun saat ini Dreanda bukanlah Dreanda yang berhati lembut seperti dulu, emosinya begitu besar ketika melihat Sandra yang terluka.


"Enyahlah dari bumi". Ujar Dreanda di susul dengan suara dentuman besar, menandakan jika makhluk tadi telah hancur dilantakkan sulur sakti. Meninggalkannya bau aneh yang sangat berbeda dari makhluk lain di luar sana.


Begitu selesai membereskan semuanya. Langsung saja Dreanda datang untuk menolong Sandra yang kesakitan. Di angkatnya tubuh lemah Sandra dengan kekuatannya, bagi orang biasa mungkin yang mereka lihat hanyalah tubuh seorang gadis yang melayang keluar dari dalam sebuah ruangan. Namun bagi mereka yang diberi kelebihan, sesosok pemuda tampan sedang menolong temannya dari golongan manusia.


"Sandra, bangun Sandra.. Ini aku, aku kembali Sandra"


"Sandra ayo lihat aku, aku datang"


-


-


-


-

__ADS_1


-


Bersambung...


__ADS_2