
Di luar ruangan, semuanya kembali terdiam tidak seperti tadi di mana kekacauan seakan-akan terjadi di dalam. Pak Hamid, pak Tono, Doni dan juga Mira tidak tahu harus memulai dari mana. Berharap ada salah satu dari mereka yang bisa menjelaskan akan kejadian tadi.
"ekhem.. Begini, katakan dengan jelas kenapa Sandra ada di atas". Kata pak Hamid, baru saja pak Tono akan menjawabnya, dia dikejutkan dengan dering handphone yang berasal dari saku celana. Alhasil dia harus mengangkat dulu panggilan penting itu.
Doni dan Mira menatap kepergian pak Tono yang tiba-tiba, sepertinya itu memang sangat penting sampai-sampai pak dosen itu langsung buru-buru pergi, tanpa mengucapkan apapun lagi. Kini pandangan mereka beralih menatap pak Hamid yang ternyata juga sedang melihat ke arah mereka. Menandakan ingin segera diberi penjelasan atas pertanyaannya tadi.
"eumm, begini pak...." Doni mulai menceritakan semua yang diketahuinya, mulai dari pak Tono yang datang ke tempat mereka untuk mencari Sandra, nomor yang tidak bisa di hubungi, sampai pada akhirnya mereka sendiri yang mencari Sandra di lantai dua.
"apa ada orang lain saat itu?" tanya pak Hamid kembali. "tentu saja tidak pak, hanya ada kami, apalagi kampus sedang melangsungkan acara, jadi semua mahasiswa tidak ada yang naik ke lantai atas" Jawa Mira.
Obrolan itu diakhiri dengan ucapan terima kasih dari pak Hamid, terlebih untuk Doni yang telah dia curigai tadi. Begitupun dengan sahabat Sandra yang sudah lama bersama, yaitu Mira, karena merekalah Sandra bisa ada di tempat ini.
__ADS_1
*****
Sekitar pukul lima sore, Sandra dengan kondisinya yang mulai membaik sudah di izinkan pulang. Ketiga temannya yang sudah pulang sejak siang tadi langsung saja kembali datang ke rumah sakit untuk bertemu dengan Sandra.
"sudah kayak habis lahiran aja aku". Ujar Sandra ketika melihat teman-temannya sibuk mengatur persiapan dia keluar dari rumah sakit.
"simulasi aja, yaaa.. kalau-kalau nanti kek ginikan, kamu gak kaget lagi" ujar Lisa yang duduk di sebelah Mira.
"ho-oh, bener tuh". Sambung Mira sambil mengacungkan jempol. "Aduhhh, apaan sih? Udah-udah yaa". Sandra, Mira dan juga Lisa masih terlihat bercakap-cakap di dalam ruangan. Mereka saling menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Lisa yang tadinya tidak tahu apa-apa, justru saat ini dia menjadi orang pertama yang mendengar langsung kejadian dari sumber yang akurat. Mungkin saat ini, dia ingin berbangga dirinya, sedikit.
"maaf mengganggu, saya ingin melepaskan infusannya" kata seorang perawat yang tiba-tiba saja sudah berada di antara mereka. Mungkin karena keasyikan berbicara, mereka semua tidak sadar akan kedatangan perawat itu.
__ADS_1
"ohh.. Baik" ujar Sandra. Mira yang tadinya berdiri di sisi kiri memilih mundur sebentar untuk memberi ruang bagi perawat. Sedangkan Lisa, terlihat menjauh dan langsung berbalik arah menatap tembok berwarna putih itu. Melihat gelagat Lisa, otomatis Sandra dan Mira langsung tertawa, mereka tahu jika Lisa sangat takut melihat jarum suntik.
"Lisa.. Lisa" kata Sandra menggeleng-gelengkan kepalanya.
-
-
-
-
__ADS_1
Hai semua, dukung terus karya ini ya. Bantu like, vote, comment and rate 5 yaaa..
😘😘😘