My Sweet Ghost Dreanda

My Sweet Ghost Dreanda
Dreanda Bab 16


__ADS_3

Hari sudah pagi, cahaya matahari mengintip malu-malu lewat sela-sela tirai kamar yang Di dalamnya terdapat seorang gadis berumur dua puluh tahun. Gadis itu masih tertidur dengan tenang. Setelah semalaman dia terus saja menangis menyesali setiap perbuatannya.


Cahaya matahari menyinari tepat ke wajahnya. Kelopak mata itu mulai bergetar dan perlahan terbuka, sesekali dia mengejap karena cahaya yang begitu menyilaukan. Di simbaknya selimut yang menutupi tubuh itu dan mulai turun dari tempat peraduannya. Berjalan ke arah cermin dimana dia bisa leluasa melihat raut wajahnya yang begitu pucat.


Gadis itu masih saja berdiri di sana sambil memegang wajahnya. Tanpa terduga setetes air mata kembali jatuh, dia berusaha menghapus bekas-bekas itu sebelum seseorang melihatnya nanti. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis muda itu, sehingga air matanya kembali ada dan terus mengalir seperti semalam.


Suara Burung-burung kecil di luar mengusir pendengarannya. Dibukakan jendela belakang agar udara di kamar segera terganti dengan yang lebih segar, dia takut jika semakin lama udara di sekitarnyapun dapat menyakitinya.


Begitu jendela terbuka, tampak beberapa burung terbang di antara pepohonan dan taman belakang. Binatang kecil itu terlihat begitu ceria terbang kesana kemari seakan ingin menunjukkan pada dunia jika mereka memiliki sepasang sayap indah.


Gadis itu tertengun, dilihatnya beberapa pohon yang berjejer di kebun belakang. Matanya celigukan mencari sesuatu, atau lebih tepatnya mungkin seseorang. Namun dia tidak menemukannya di sana.


Dilihatnya kembali ke sekelilingnya, semua tampak biasa saja. Semua tampak begitu ceria dan bergembira. Matahari yang bersinar terang, taman bunga yang mulai bermekaran dan beberapa binatang kecil yang beterbangan. Semua terlihat bahagia, tidak ada yang bersedih. Sepertinya hanya dialah yang sedang dirundung duka.


Dia memilih meninggalkan jendela dan melangkah menuju kamar mandi. Membersihkan seluruh kesedihan yang masih terlukis pada raut wajahnya. Berharap dia kembali ceria seperti apa yang dilihatnya tadi. Setidaknya itu harapan dia.


****


Pemuda itu terdiam di tempatnya. Tapi sepertinya itu bukanlah tempat dia sebelumnya. Entah dimana sekarang dia berada, dia sendiri tidak tau. Arah mata anginlah yang membawanya ke tempat ini. Berusaha pergi meninggalkan seseorang sehingga dia bisa sampai ke sini.


Diulang beberapa adegan semalam yang membuatnya sakit hati. Gadis yang dicintainya menyuruhnya pergi dan membiarkan rasa itu untuk dipendam sendiri. Sungguh gadis yang jahat. Tidak seharusnya gadis itu menolak rasa yang entah sejak kapan mulai tumbuh. Jika pun dia tidak ingin berhubungan dengannya, setidaknya mereka masih bisa untuk menjadi teman saja.


Pemuda itu mulai bermain-main dengan setangkai bunga liar berwarna kuning. Tidak biasanya dia bermain-main dengan bunga lain selain melati. Namun kali ini dia memilih untuk menggenggam setangkai bunga lain. Tumbuhan itu terlihat biasa, tanpa aroma dan bau yang menyita, berbeda sekali dengan melati yang telah menjadi ciri khas dirinya.


Diperhatikan kembali bunga di genggaman, bunga kuning itu terlihat tidak asing lagi. Yaa, bunga inilah yang dipakai untuk membuat mahkota bunga, mahkota yang begitu cantik dan dipakai oleh seseorang yang indah. Namun sekarang semua itu hanyalah semu semata.


Tiba-tiba saja sesuatu yang kuat begitu sangat terasa di sekitarnya. Dia tidak tahu aura apa ini, yang jelas aura ini tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk biasa seperti kawan-kawannya dulu. Dia ingin segera mencari tahu asal muasa energi yang begitu besar ini.


*****


"sandraaaa"


Doni berjalan ke arah Sandra yang baru masuk ke halaman kampus.

__ADS_1


"yaa Don, ada apa?"


Tanya Sandra beralih menatap Doni.


"si Mira tadi bilang kalau...."


"yatuhannnn.. Itu mata kenapa?"


Doni begitu kaget ketika melihat mata Sandra yang masih memerah.


"apaan sih Don"


Sandra merasa tidak enak ketika di tatap prihatin oleh sahabatnya.


"kamu kenapa sih, kalau punya masalah itu cerita dong sama aku"


Ujar Doni sambil memegang bahu Sandra. Tiba-tiba saja Mira menyapa dari arah belakang dan seketika terkejut juga melihat Sandra yang terlihat buruk.


"kamu kenapa San, kami ini sahabatmu lhoh"


Diberi perhatian yang sedemikian rupa membuat Sandra kembali bersedih dan langsung memeluk Mira. Mira dan Doni terdiam dan membiarkan Sandra merasa tenang dulu sebelum menceritakan hal yang sedang terjadi. Mereka berusaha membuat Sandra merasa baik dan mulai menceritakan semuanya.


Sandra menceritakan semua hal yang dialaminya, mulai dari pertemuannya dengan Dreanda, kejadian di kantor dosen dan juga masalah kepergian Dreanda. Mira dan Doni yang mendengar hal itu tampak terkejut sekaligus prihatin dengan sahabatnya.


"kalian boleh menganggap aku gila, aku bodoh atau apapun. Tapi aku seriuss"


Ujar Sandra sambil mengacak rambutnya. Mereka memilih tempat di kosan Mira untuk Sandra agar tidak ada yang mengetahui apa yang mereka ceritakan.


"ja-jadi gini San, kamu serius punya hubungan dengan si itu... Aduh siapa namanya tadi?"


"Dreanda"


Ujar Mira membantu Doni menyebutkan nama pemuda yang sedang mereka bicarakan.

__ADS_1


"yaa"


Jawab Sandra lesu.


"huhh, gini San. Kami tau kamu bisa liat hal begituan. Tapi bukan berarti kamu juga harus menaruh harapan pada mereka"


Jelas Mira hati-hati.


"berteman yaaaa boleh, menurut ku sih. Tapi jika rasa? sebaiknya jangan deh San"


Ucap Doni cemas.


"yaa kalian pikir mudah? Dia berbeda dari yang lain"


Jelas Sandra kembali.


"tapi sekarang kan dia..."


Doni terdiam ketika mendapat tepukan halus di lengannya.


"gini deh San, kamu sekarang istirahat aja dulu ya. Gausah dipikirin masalah itu, nanti juga selesai sendiri. Oke"


Mira menata tempat agar Sandra bisa beristirahat sebentar. Mereka memilih absen dari jam kuliah hari ini.


Tanpa terasa, Sandra sudah terlelap dalam mimpinya. Meninggalkan Mira dan Doni yang masih ada di sampingnya. Mereka berdua terlihat resah, jujur mereka tidak ingin membahas hal ini lagi. Tapi ini semua menyangkut dengan sahabat mereka. Biar bagaimanapun mereka juga berperan dalam menyelesaikan masalah ini.


_


_


_


_

__ADS_1


Bantu vote karya ini yang sayy😍😍😍


__ADS_2