
"kau tau Dre, rasa ini seakan berhasil membunuhku"
-Sandra
______________________________________________
Sandra terdiam, jantungnya terasa berdetak tak beraturan. Keringat mulai bercucuran keluar sekalipun saat itu cuaca terasa sangat sejuk, tangannya menjadi dingin, pandangannya buram karena air mata yang dengan tiba-tiba saja keluar dan menutupi penglihatannya.
Hati Sandra terasa sakit saat mendengar pemuda itu mengatakan jika dia menyukainya. Rasa-rasanya dia ingin menangis keras dan meneriakkan kata-kata jika mereka tidaklah pantas untuk saling menyukai. Andaikan saja Dreanda seorang manusia, mungkin Sandra akan bisa menerima semuanya.
Di hapuslah air mata yang sedari tadi jatuh membasahi pipi. Berusaha mengatur emosi dan rasa nyeri yang terus membunuhnya. Dia harus kuat menghadapi ini semua. Dia harus mengatakannya sekarang jika tidak boleh ada rasa sedikitpun di antara mereka.
Sandra ragu-ragu untuk berbalik, dia takut pikirannya berubah ketika melihat Dreanda. Dia takut semuanya menjadi rumit. Dan ketakutan paling dalam di hatinya adalah jika dia harus kehilangan pemuda itu. Namun nyatanya, dia sudah duluan kehilangan untuk hal yang tidak pernah bisa dia miliki.
Di sisi lain, Dreanda merasa bersalah telah membuat gadisnya menangis. Sebenarnya tanpa di katakanpun dia sudah tau jika Sandra merasa tersakiti dengan ucapannya. Pemuda itu akhirnya sadar jika mereka bukanlah dua orang yang sama, terlebih status mereka yang begitu menjadi penghalang untuk rasa yang semakin tumbuh.
Ingin rasanya Dre meminta maaf kepada Sandra, namun rasa menyesalnya begitu besar sehingga kata maaf saja terasa tidak dapat menghapus kesalahannya. Jika saja Sandra ingin mencacinya dia tidak masalah, ataupun ingin menghukumnya rasanya itu bukanlah hal yang sulit. Dia akan menerima apapun yang diberikan Sandra nanti.
Namun satu hal yang tidak akan dia terima seumur dunianya di sini, yaitu jika Sandra menyuruhnya pergi. Dia tidak akan bisa meninggalkan gadis yang dicintainya begitu saja. Sekalipun mereka tidak akan bersama, setidaknya Dreanda akan selalu menemani gadis itu, jika boleh hingga akhir usianya.
Dipandangi Sandra yang terus membelakanginya. Keinginan Dre adalah bisa memeluk gadis itu dan menenangkannya agar dia berhenti bersedih. Namun, apalah daya jika pelukannya itu tidak akan pernah terasa.
Dreanda menunduk, sambil menapaki kakinya ke tanah. Sebenarnya dia tidak bisa lama-lama untuk terus berdiri dan menyatu dengan bumi, karena energinya akan habis di serap dan hancur seketika. Namun untuk kali ini dia biarkan saja itu semua terjadi, di pikirannya sekarang adalah bagaimana cara dia bisa membuat Sandra mengampuninya.
__ADS_1
Sandra, maaf
Pemuda itu kembali terdiam seperti sebelumnya, begitupun dengan Sandra. Dia merasa terkejut dan berhenti menangis ketika mendengar Dre menyampaikan maafnya. Sandra langsung berbalik menatap Dre dengan wajah sendu.
"kenapa? Apa ada yang salah?"
Sandra bertanya penuh kepastian, dia ingin mendengarkan langsung jawaban dari pemuda di depannya. Sandra berusaha tersenyum sekalipun air matanya masih terus mengalir. Dia bukanlah gadis yang begitu kuat jika menyangkut dengan perasaan, dan kepada pemuda itulah dia merasakan kelemahannya.
Kau menangis.. Aku yang sakit
Maaf Sandra, aku sadar...
"apa? Apa yang kamu sadari?"
Pemuda itu terdiam dan masih berpijak pada tanah. Dia seakan ragu untuk menjawab pertanyaan dari gadisnya. Dipandangi Sandra dengan wajah datar dan sorot mata yang memikat. Namun sepertinya tersimpan suatu ketakutan di sorotan mata gelap itu.
Kita berbeda.
Sebuah perbedaan yang tampak nyata.
Sandra terpaku, kakinya seakan tidak kuat lagi menompang tubuhnya yang terasa berat. Hampir saja dia jatuh jika saja dia tidak berpegang pada sebuah batang pohon.
"kita temankan?"
__ADS_1
Tentu Sandra, tentu. Aku temanmu
Ujar Dre yang seakan terlihat baik-baik saja.
"apa yang dilakukan teman untuk membuat temannya bahagia"
Memberikan dia cinta
"cinta yang seperti apa hah?"
Dreanda kembali terdiam ketika disuguhi pertanyaan itu lagi, semua yang dijelaskannya seakan sesuatu yang salah bagi Sandra. Gadis itu terkadang suka menutup mata hati yang telah dibukanya sendiri. Sehingga setiap apa yang terjadi bagi dia dan Dreanda tidak pernah ada benarnya.
"bawa aku pulang dan jangan temui lagi"
-
-
-
-
-
__ADS_1
Hai semua, bantu vote karya ini yaa