
"sandraa.. Kemarii"
Suara tanpa wujud itu kembali menggema, memanggil nama seorang gadis yang sekarang tampak kaku. Sandra masih berdiri seperti tadi dalam keadaan mematung. Suaranya terasa tercekat karena rasa panas di tenggorokan yang terus terasa.
"sandraa.. Sandraa.. Sandra..."
"sandraaa?"
"sandraaa!"
Suara-suara itu terus terdengar dalam beberapa intonasi yang berbeda. Bahkan sering kali terdengar berubah-ubah, sesekali memperdengarkan suara wanita dewasa, lalu kemudian berubah menjadi suara laki-laki bahkan suara anak kecil sekalipun. Sepertinya pemilik suara yang tak berwujud itu terlalu banyak di dalam ruangan ini.
Di ambang kesadarannya, sayup-sayup Sandra mendengar ada seseorang yang melangkah mendekati ke arahnya. Seseorang yang semakin terdengar langkah laki dalam kegelapan itu terus saja mendekat ke arah Sandra. Sandra sendiri tidak tau siapa dia dan dari arah mana dia berasal. Semua penglihatannya sia-sia saja Karena suasana di dalam ruangan yang gelap gulita.
Beberapa detik kemudian, terasa angin yang berhembus pelan menebarkan aroma melati yang kuat dan bahkan mampu membuat gadis itu merasa pusing. Angin yang tidak diketahui asalnya itu terus saja menghembus ringan, membelai wajah dan rambut Sandra dengan begitu lembut. Hampir saja dia terlena dengan apa yang dialaminya, jika saja dia tidak dikejutkan dengan suara sapaan yang terdengar begitu dekat dengan telinganya.
Kamuuu!
Suara bentakan itu terdengar jelas. Jujur dia merasa terkejut dan berusaha untuk meresponnya. Sandra berusaha melepaskan tangannya yang seakan mencekik lehernya sendiri. Tenggorokannya panas dan suara tidak mampu terdengar. Bahkan untuk menyebutkan sepatah kata saja, sudah tidak bisa.
"si-sia-pa...ka-mu?". Kata Sandra terbata-bata. Namun yang ditanyai tidak memberikan jawaban sama sekali. Sekali lagi Sandra menanyakan hal yang sama, namun yang di dapatkannya hanyalah kebisuan.
Keadaan yang semula sangat gelap kini mulai mengalami sedikit penerangan, ya walaupun ruangan ini masih bisa dikatakan dalam keadaan yang remang-remang. Namun setidaknya itu berhasil memberikan kebebasan bagi Sandra untuk dapat melihat apa yang ada di dalam sana.
Tujuannya saat ini hanyalah ingin mengetahui siapa yang terus saja berdiri di sampingnya dalam keadaan diam. Mata Sandra menyipit ketika berusaha memperkuat penglihatannya kepada seseorang berbaju hitam itu, semakin lama semakin terlihat jelas wajah dari sosok di sebelahnya.
__ADS_1
"DRE?". Ujar Sandra tiba-tiba ketika berhasil melihat siapa yang berdiri di sampingnya walaupun dalam keadaan yang remang-remang.
"Dreanda? kau kah itu?". Sandra berusaha mensejajarkan posisinya dengan pria yang dimaksud Dreanda tersebut. Namun, pria yang dipangginya hanya diam mematung tanpa memedulikan pekikan Sandra yang ditujukan untuknya.
"Dree, ini aku-tolong....". Tiba-tiba Sandra merasakan pusing yang sangat hebat, sesuatu yang kuat serasa menghantam kepalanya. Dia tidak tahu apa yang baru saja terjadi, rasa sakit dan darah segar mulai menetes keluar membasahi baju kemeja bagian belakang.
Dalam rasa sakitnya yang kian tak tertahankan. Sebuah ingatan berputar di dalam pikiran Sandra, memperlihatkan rentetan kejadian demi kejadian yang mengerikan. Sepertinya itu sebuah memori dari masa lalu yang sengaja di perlihatkan kepada Sandra.
Dalam pandangan matanya. Sandra melihat jelas apa yang sedang terjadi. Tepat di dalam ruangan ini dengan suasana yang sangat terang. Dia melihat seorang wanita muda berbaju putih sedang mengendap-endap dibalik lemari buku.
Wanita itu tampak waspada dan bersembunyi di belakang rak buku dalam ruangan itu. Sekilas Sandra diperlihatkan bagaimana wajah dari wanita berbaju putih, tampak sangat cantik dan menawan. Jika saja wanita itu ada saat ini, bisa jadi dia adalah seorang primadona.
Suasana berputar memperlihatkan wanita itu sudah berada di dalam sebuah ruangan lain. Sandra tidak tahu ruang apa ini. Tiba-tiba saja terdengar suara benda pecah dari dalam sana. Di depannya, dia bisa melihat jika wanita berbaju putih itu sedang berhadapan dengan seseorang, tampak kilatan marah dari wajah pria paruh baya yang berdiri di hadapannya. Sepertinya wanita cantik itu telah melakukan sebuah kesalahan.
"lepaskan saya paak, lepaskan saya, saya mohon". Teriak wanita cantik itu ketika dia mulai di seret paksa oleh lelaki paruh baya tadi ke belakang meja kerjanya. Sandra yang melihat langsung bergetar, sesuatu yang buruk akan terjadi pada wanita itu. Ingin rasanya Sandra berteriak keras untuk menghentikan kebejatan dari pria tersebut, namun apa yang dilakukan Sandra tiada gunanya. Ini semua hanya kilasan dari peristiwa masa lalu.
"ini caranya menghukum wanita seperti kamu, hahahah". Terdengar pria arogan itu tertawa puas setelah mengambil kehormatan dari wanita tadi. Terlihat wanita cantik itu sudah tidak berdaya dengan keadaan yang sangat kacau. Tetesan darah meneteskan dari pipinya akibat tamparan dari tangan pria bejat.
"APA INI HAH?, KAKAK?"
Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah pintu, seorang pemuda berbadan kurus tampak kaget ketika mengetahui apa yang telah terjadi pada kakaknya. Sandra melihat pemuda itu dengan bingung, sepertinya dia pernah melihat pemuda itu sebelumnya.
"KURANG AJAR, ANAK GILA, PERGI KAMU ATAU AKU BUNUH KAKAKMU". pria arogan itu berteriak keras, sebuah belati dikeluarkan dari dalam laci mejanya. Belati itu tanpa segan langsung di todong pada leher kakak dari sang pemuda tadi, wanita cantik itu.
"LEPASKAN KAKAK SAYA, ATAU KEJADIAN INI SAYA LAPORKAN KEPADA POLISI". teriak kemarahan dari pemuda tadi. Dia begitu bernafsu ingin membunuh pria yang ada di depannya sekarang. Sandra serasa orang bodoh yang berdiri di depan mereka, tidak ada bantuan atau perlawanan yang bisa dia berikan.
__ADS_1
"HAHAHAH, MAU BERMAIN DENGANKU YA ANAK NAKAL". Tanya pria itu kembali.
"Andraaa pergilah, cepat pergi, kakak tidak mau kamu kenapa-napa". Pekik kesakitan terdengar dari bibir tipisnya ketika belati itu tanpa sengaja mulai menyayat kulit lehernya. Darah segar mulai keluar dari luka bekas sayatan itu.
"Andra? Andraa?....... Dree?". Ujar Sandra ketika mengeja nama pemuda itu, dia mulai sadar jika pemuda itu tak lain dan tak bukan adalah Dreanda sendiri.
Tanpa aba-aba, lelaki bejat itu langsung menyayat leher wanita dengan cepat, suasana sangat mencekam ketika wanita itu berusaha menggapai sesuatu namun semuanya sia-sia karena akhirnya dia meninggal saat itu juga.
Andra, atau Dreanda muda sangat terkejut ketika melihat apa yang terjadi pada kakaknya. Karena rasa sedih dan syok yang hebat. Dia tidak sadar ketika pria bejat itu sudah berdiri di hadapannya dan langsung menikam tepat di jantung Dreanda. Seringai dingin tampak jelas di wajah pria banjingan itu.
"DREEEEE"
-
-
-
-
-
Hai readers
Author sangat senang sekali atas like dan support kalian pada Karya yang tidak seberapa ini. Author harap kalian semua tidak merasa bosan dan terus menunggu eps selanjutnya dari Dreanda.😘😘😘😘😘
__ADS_1