
Sandra langsung masuk ke kamar tanpa menjawab pertanyaan ibu yang menanyakan keadaannya. Perasaannya masih tertekan karena terus saja mengingat tentang Dreanda. Pemuda itu tidak diketahui dimana dia sekarang, semenjak kejadian kemarin malam dia tidak lagi kelihatan.
"Dre..."
Bisik Sandra dalam hati, berharap pemilik nama itu mendengarnya dan kembali ke sini.
"aku tau aku salah Dre, maaf"
Lagi-lagi air mata itu hadir, membingkai wajah putih yang selalu tampak murung.
Tok tok tok
"Sandra, sudah makan nak?"
Tanya ibu yang berada di balik pintu kamar. Beliau terlihat khawatir melihat keadaan putrinya yang sejak tadi pagi sampai sekarang terlihat begitu pucat.
"sudah bu"
Sandra menjawab pertanyaan ibu dengan suara serak. Dia berusaha menahan suara tangisnya agar tidak terdengar ibu yang berada di luar kamar.
"yasudahh"
Ibu berlalu pergi meninggalkan kamar Sandra. Membiarkan dia untuk beristirahat dengan tenang. Di benak wanita itu, mungkin putrinya mengalami masalah tidur atau terlalu lelah dengan tugas kuliahnya. Jadi dia bermaksud untuk membuat bubur ayam kesukaan putrinya itu agar bisa lekas membaik.
Namun, Sandra sendiri yang mengatakan jika dia sudah makan. Alhasil bubur ayam itu tertinggal begitu saja. Tanpa ada yang mengambilnya sedikitpun. Melihat hal itu, ibu merasa kasihan dan dia segera membuat agar makanan itu tidak basi dengan cara dimasukkan ke dalam lemari pendingin, bisa saja Sandra akan memakannya besok pagi.
*****
"Sandra sudah makan buk?"
Tanya ayah ketika melihat ibu kembali dari kamar Sandra.
"sudah yah, mungkin makan di rumah temannya"
Jawab ibu kemudian kembali ke dapur untuk membuatkan kopi untuk suaminya itu.
Pak Hamid mengalihkan pandangannya dari siaran televisi di depannya. Mata hitam itu menatap ke arah pintu kamar Sandra yang masih tertutup rapat, tidak ada tanda-tanda kehadiran Sandra di sana. Pria itu terus saja memperhatikan pintu kamar tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.
__ADS_1
Sekian menit kemudian dia mulai berdiri dan melangkah ke kamar putrinya. Pintu bercat putih itu terkunci dari dalam, mengatakan jika pemilik di dalamnya sedang tidak ingin diganggu.
Di balik punggung pak Hamid, sekelebat bayangan putih lewat begitu cepat. Bayangan itu terus saja mondar-mandir di sana tanpa mendekati pria tua yang terus membelakanginya.
Sebenarnya pak Hamid tahu jika ada sesosok makhluk halus yang menunggunya di belakang, namun dia tidak ingin meladeni mereka yang suka mengusili. Yang terpenting sekarang adalah dia akan melindungi putrinya. Dia takut dengan kondisi emosi Sandra yang tidak stabil maka makhluk-makhluk itu akan suka datang mengganggu.
Sekilas dia melihat sosok itu berdiri di sampingnya. Dengan ekor mata, pak Hamid melihat jika sosok itu menyerupai seorang pemuda. Karena penasaran, akhirnya dia langsung melihat dengan jelas ke arah pemuda di sebelahnya. Sontak pak Hamid terkejut dan sekaligus merasa lega, yang berada di sebelahnya adalah seorang pemuda yang pernah menolongnya saat diperjalanan pulang dulu, Dreanda.
Namun, ketika menyadari dia datang tanpa aroma, pak Hamid segera waspada. Dia sedikit ragu-ragu dengan sosok itu. Pertama kali mereka bertemu, Dreanda selalu menyebarkan aroma melati yang begitu kuat. Sehingga ketika menciumnya. Semuanya akan merasa terlena. Dan menjadikan aroma itu miliknya.
"siapa kau?"
Tanya pak Hamid menunjuk ke sampingnya.
Kau melupakanku paman?
Aku Dreanda.
Ucap pemuda itu lemah, dia terus menempatkan pandangannya ke pintu putih yang tertutup rapat.
"kau berbeda, aroma melatimu tidak ada"
Dreanda terdiam, dia terus mematung di udara dengan tatapan mata yang masih sama. Tatapan lemah itu begitu terpancar dari kedua mata coklat yang terlihat berbeda. Tidak ada cahaya di sana.
Pak Hamid mulai menyadari perbedaan Pemuda itu. Wujud tubuhnya mulai terlihat samar-samar, aroma melati yang menghilang, juga dengan pandangannya yang sepersekian detik bisa terus berganti-ganti. Pria itu terdiam, kemudian berfikir. Apakah Dreanda sedang bermasalah dengan putrinya.
Semuanya menghilang
karena dia...
Ujar Dreanda kemudian melayang ke depan dan menembus pintu kamar. Pak Hamid mematung dengan tatapan terkejutnya, apa yang dikatakan Dreanda sungguh membuat dia tidak mengerti. Di usianya yang semakin menua, ditambah pembicaraan inti dengan makhluk itu membuat beliau harus berpikir keras. Sebelum akhirnya beliau menyadari, jika pemuda itu telah masuk ke dalam kamar Sandra.
Langsung saja pak Hamid membuka pintu kamar, namun sepertinya dia lupa jika pintu itu terkunci. Pikirannya gundah, apa yang akan dilakukan Dreanda pada putrinya. Feeling seorang ayah mengatakan jika ini sebuah ancaman. Ketika kamar putrinya dimasuki orang asing, terlebih itu seorang laki-laki, maka itu bisa berbahaya. Sekalipun Dreanda bukan manusia, namun dia termasuk asing dan berwujud lelaki.
Pak Hamid terus berusaha membuka pintu kamar. Tiba-tiba saja suara ceklek dari kunci bagian dalam yang diputar terdengar dan mulai terbuka. Tangan pria itu memegang gagang pintu dan membukanya perlahan. Begitu pintu terbuka lebar, terlihatlah Sandra yang sedang tertidur dengan pulas. Di bagian kepalanya, duduklah Dreanda dengan tenang sambil sesekali meniup wajah Sandra yang tertutupi anak rambut.
Ingin rasanya pria itu memarahi Dreanda agar tidak terus mengganggu putrinya. Namun, tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering, tubuhnya kaku sehingga tidak dapat digerakkan. Dia berusaha teriak, namun suaranya seakan tertahan dan tidak dapat terdengar. Pak Hamid terus saja berdiri di pintu sambil berusaha melepaskan ikatan-ikatan yang ada di tubuhnya. Bahkan sampai Dreanda menghilang dari tempat Sandra, pak Hamid masih saja merasa kaku dan sulit bergerak.
__ADS_1
"yah?"
Seseorang menepuk pundak pak Hamid dengan keras, sehingga membuatnya kembali ke keadaan semula. Ditatap istrinya yang berada di samping dengan pandangan heran.
"ayah ngapain di sini"
Tanya ibu ketika suaminya itu terus saja memegang tenggorokannya.
Pak Hamid merasa heran dengan pertanyaan istrinya. Bukankah dia sedang berada di kamar Sandra. Dilihatlah ke sekeliling tempat dia berdiri. Bahkan sampai ke pojok-pojok ruangan, dan itu semua sukses membuat dia terkejut.
Ada apa ini, kenapa dia berada di ruang tamu. Berdiri di samping sofa tepat di depan televisinya. Bukankah seharusnya dia ada di kamar Sandra, mengawasi putrinya yang tidur ditemani sosok misterius. Seharusnya dia ada di sana, berdiri di pintu kamar dengan keadaan kaku dan bisu.
"ada apa ini"
Tanya pak Hamid tiba-tiba.
Dia merasa semua yang terjadi tadi adalah ilusi. Dreanda sepertinya menjebak dan memainkan kesadarannya sehingga apapun yang terjadi tadi seakan sesuatu hal yang nyata.
Apa dia membuat ilusi di rumah ini?
Atau aku saja yang sedang bermimpi....?
Lirih pak Hamid di dalam hatinya.
-
-
-
-
-
Hai semua, dukung terus authornya ya
Agar lebih semangat lagi dalam menulis.
__ADS_1
Oya! Bantu like, vote dan rate 5 nya juga yaaa..
Terima kasih 😍