
"Aroma melati?"
Tanya Sandra terpaku.
"haha, iya. Bukannya aroma itu kesukaan sebagian wanita?"
Sandra hanya terdiam dan tidak lagi menanggapi perkataan Adel. Pandangannya jatuh ke bawah, entah apa yang sedang di pikirkannya. Yang jelas terlalu banyak hal yang dilewatkannya selama ini.
"kau juga menyukai melati kan?"
Kali ini Sandra kembali menatap anak laki-laki itu dengan pandangan heran. Dari mana dia tahu jika Sandra menyukai aroma dingin yang menyengat itu.
"kamu..."
"ohh maaf, aku pikir kamu suka aroma itu karena aku lihat di ruang tamu ada vas berisi bunga melati"
Adel mengira jika dia telah salah dalam berkata. Sebenarnya dia hanya menebak saja jika Sandra menyukai melati, karena sejak sampai di rumah ini, yang pertama kali dilihatnya adalah vas melati dengan aroma yang memenuhi ruang tamu.
"ahh tidak, Adel benar"
"benarkah? Kau suka melati?"
Begitulah cara bicara Adel, dia lebih suka mengatakan aku-kamu daripada harus menggunakan panggilan nama saat berbicara. Walaupun begitu, Sandra tetap menyisipkan nama Adel dalam pembicaraan. Terkadang hal itu membuat anak laki-laki itu kesal, dia merasa jika kata ganti nama yang Sandra gunakan terlalu manja untuknya.
"iya, tapi yang tidak terlalu menyengat"
__ADS_1
Ujar Sandra kemudian bangkit menuju tempat tidurnya.
"ohh begitu"
Sandra bermaksud meninggalkan Adel di dalam kamar, namun anak laki-laki itu lebih dulu berlari keluar dan masuk ke kamar tempat dia tidur sementara waktu. Sandra mengulum senyum, dia tau jika Adel sedikit penakut, tapi bagaimana bisa Adel yang penakut ikut diperlombakan dalam acara pramuka? Sangat unik bukan?
Sampainya di ruang tamu, Sandra langsung mencium aroma melati yang dikatakan Adel. Aroma itu terasa sedikit tipis dari aroma-aroma sebelumnya. Tidak terlalu menyengat, namun masih bisa terasa. Cocok untuk dijadikan pewangi ruangan, terlebih di kamar karena Sandra begitu menginginkannya.
Di sudut ruangan, terdapat vas bunga berisi beberapa mawar yang terlihat mekar. Di antara batang-batang mawar yang padat, terlihat sebatang melati yang dipenuhi dengan bunga. Melati itu tampak tumbuh berjuang diantara duri-duri mawar yang menyakitkan. Merebut zat air di bawahnya dengan sang pemilik utama.
Tanpa berpikir panjang, akhirnya Sandra membawa vas itu bersama isinya ke dalam kamar, setidaknya sebelum ibu melihat dia akan mengambilnya diam-diam. Di dalam kamar, vas keramik itu diletakkan di atas meja di sebelah kasurnya. Dia ingin agar aroma melati bisa memenuhi ruangan ini dan membawanya ke alam mimpi.
"Heumm, cukup bagus"
Belum sempat Sandra berbalik, Adel sudah berdiri di sampingnya dengan penasaran. Hampir saja Sandra berteriak karena terkejut dengan kedatangan Adel yang sangat misterius. Entah sejak kapan anak itu sudah ada di sini.
"ehh kalau masuk kamar bilang-bilang dong, ketuk dulu kek!"
"sudah, habisnya kamu gak dengar sih tadi"
Ujar Adel sewot, kemudian melihat ke arah vas di depannya. Tangannya tertarik untuk menyentuh bunga mawar, namun tidak jadi karena melihat pemilik bunga yang melotot ke arahnya dengan garang.
"mau apa ini"
Ujar Sandra dengan mimik wajah mengerikan.
__ADS_1
"gak kok"
Cepat-cepat Adel menarik tangannya kembali. Dia tidak ingin melihat Sandra marah Karena berani menyentuh bunganya.
"yaudah tidur sana, besok latihan kan?"
"iya, Oya besok antar aku ke lapangan ya, oke"
Belum sempat Sandra menjawab, bocah laki-laki itu kembali berlari masuk ke dalam kamarnya. Jujur Sandra tidak bisa mengantar Adel besok karena mengingat acara kampus akan dimulai awal dan semua panitia harus berkumpul pagi-pagi.
"Aduhhh adell"
-
-
-
-
Tinggalkan kesan manisnya ya.
Bantu like, vote dan rate 5 nya juga ya..
Terima kasih...
__ADS_1