
Sandra terpaku ketika ayahnya bertanya mengenai Dreanda. Dia tidak tahu jika selama ini ayah menyadari jika dia berteman dengan pemuda itu. Bukankah saat pertama kali melihat Dreanda ada di rumahnya, ayah merasa marah dan berusaha mengusirnya dengan berbagai pelindung? Namun sekarang kenapa ayah malah menanyakan hal tersebut?
" dia di alamnya"
Ujar Sandra kembali duduk.
"ya itu ayah juga tahu"
"heheh, maaf-maaf"
Sandra tertawa ketika menyadari keanehan dengan jawabannya.
" ayah hanya ingin tahu dimana pemuda itu sekarang"
"dia tidak ada, dan tidak akan pernah kembali"
" jadi dia pergi? Sejak kapan?"
Tanya ayah sambil menyesapkan minumannya yang mulai dingin.
"sejak dia mempunyai hati"
Sandra mendahului ayahnya masuk ke dalam rumah. Meninggalkan lelaki itu terdiam kebingungan. Dia terlihat berlari kecil dan masuk ke dalam kamar.
"hah? Sejak kapan makhluk gaib punya hati?"
__ADS_1
Aneh.
******
Ting
Satu pesan masuk ke handphone, Sandra yang merasa malas untuk melihat alhasil membiarkan begitu saja pesan itu tergantung tanpa balasan. Beberapa detik kemudian, satu pesan lagi masuk disertai dengan dering panggilan dari benda pipih itu.
"Aduhhh, ayolah"
Keluh Sandra ketika melihat panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
"siapa sih, ahhh"
Ketika mulai terhubung, terdengar deru nafas berat di seberang sana. Sandra terkejut ketika mendengar suara lelaki. Seketika saja dia mulai berfikir macam-macam jika seseorang mungkin sedang mencoba untuk mengelabuinya. Cepat-cepat Sandra menutup handphonenya dan meletakkan di sebelah kasurnya.
Lima menit kemudian, suara dering kembali terdengar. Namun Sandra hanya membiarkan begitu saja tanpa bermaksud untuk melihat siapa gerangan yang sejak tadi mengusilinya. Dia cukup muak dengan orang-orang yang banyak mempermainkan panggilan. Makanya ketika Sandra mendapat telepon dari nomor yang tidak dikenal, dia selalu mempertimbangkan dulu apa yang harus dilakukannya.
Belakangan ini Sandra cukup merasa bosan. Ingin rasanya dia bepergian sebentar guna melepas rasa penatnya. Namun mengingat acara dan kegiatan kampus yang begitu padat, sepertinya dia harus mengundurkan sebentar keinginannya itu.
Tiba-tiba Sandra berlari kecil ke tempat meja belajarlah, sepertinya dia mengingat akan sesuatu yang sempat dilupakannya. Terlihat tangannya mulai mengotak-atik lemari buku dan beberapa laci di bagian sudut meja. Beberapa laci dibukanya dengan cepat namun tidak menemukan apapun di sana. Puas mencari di laci meja, kini tangannya beralih ke beberapa tumpukan buku di dalam kardus. Namun dia juga tidak berhasil menemukan apa yang dicarinya.
Sandra terduduk sambil memegang kepalanya. Dia harus kembali mengingat dimana terakhir kali dia menaruh bungkusan itu. Bungkusan berwarna putih yang berisi beberapa buku novel yang belum sempat dibacanya.
Beberapa menit berlalu namun tidak ada tanda-tanda jika dia sudah mengetahuinya.
__ADS_1
"ayyy, dimana ya kira-kira?"
Sandra berbicara dengan dirinya sendiri.
"apa jangan-jangan di kosan Mira? Ehh.. Tapi gak mungkin"
Sandra kembali bangkit dan mencari buku-bukunya. Tujuan pencariannya kali ini adalah ke kolong tempat tidur. Tidak menapik kemungkinan jika saja bungkusan itu terjatuh ke bawah sana. Karena beberapa waktu lalu dia juga mengalami hal yang sama.
Sandra mulai menyalakan senter di handphonenya agar lebih mudah penerangan ke bawah sana. Beberapa barang mulai terlihat, seperti kardus berisi buku dan juga baju bekas yang sudah tidak terpakai lagi. Sandra mendecis pelan melihat pemandangan bawah kasurnya, seperti dia harus membawa barang-barang itu kedalam gudang.
Sandra mungkin akan kembali berdiri jika saja tidak melihat sebuah bungkusan warna putih yang terselip diantara kardus barang. Digesernya kardus itu guna bisa mengambil benda tersebut. Begitu tercapai, terlihat plastik bungkusan sedikit sobek dimana-mana. Namun tidak dengan isinya yang masih baik-baik saja.
"huhh, untung aja"
Ucap Sandra dengan raut wajah berbinar.
-
-
-
-
Tinggalkan kesan manisnya ya
__ADS_1