
Tanpa terasa, senja telah menyapa langit kota dengan warna jingganya yang bahagia. Memperlihatkan kepada semua penduduk bumi jika sekarang dia sedang berkuasa. Semesta menyetujui jika saat ini senjalah yang berhak dipuji. Dengan keadaan langit yang begitu cerah menandini.
Burung-burung kecil terlihat terbang bersama kawanannya kembali ke tempat mereka bersarang. Begitupun dengan semua penduduk bumi, yang memilih mengakhiri pekerjaan dan kembali ke tempat bahagianya masing-masing.
Masih di bawah langit senja, seorang gadis duduk di sebuah bangku kayu taman kota. Tampak gadis cantik itu selalu menundukkan kepalanya, sepertinya dia sedang berkutat dengan buku yang telah ditaruhnya di atas meja. dia tidak menyadari jika saat itu terlalu banyak orang yang lalu lalang di depannya untuk memilih pergi.
Gadis itu terlalu serius dengan dunianya sampai-sampai dia tidak menyadari jika di sebelah bangku kayu tempat dia duduk telah berdiri seorang pemuda. Pemuda itu tampak membawakan sebungkus makanan yang dibelinya di seberang jalan. Dia terlihat mengulum senyum manis sambil melihat ke arah gadisnya.
Karena melihat gadis itu tidak ada respon, maka si pemuda mencoba untuk menyapanya dengan caranya sendiri. Dia mulai berjalan di belakang gadis, dan ketika menunggu saat yang tepat, maka pemuda itu menepuk pundak orang yang ditujunya dengan tiba-tiba.
Tampak gadis itu terlonjak kaget sambil menutup mulut dengan tangannya. Dia kemudian berbalik dan langsung melihat ke arah pemuda yang tampak terdiam dengan ekspresi datar. Begitupun dengan gadis itu, sepertinya belum hilang juga kekagetan dari wajahnya yang cantik.
Beberapa saat pandangan mereka terpaku dan kemudian langsung tertawa bersama. Gadis itu tampak malu dan langsung berdiri di hadapan pemuda tadi. Terlihat mereka saling mengobrol dengan diselilingi tawa bersama. Tak butuh waktu lama, akhirnya keduanya memilih pergi meninggalkan taman kota yang selalu tampak indah di sore hari.
"non?.. Mbak?... Maaf mbak??"
"ehh maaf, iya iya"
Sandra terkejut ketika menyadari seseorang memanggilnya sejak tadi. Karena terus asyik melihat pasangan muda mudi yang tidak jauh di depannya, membuat dia tidak sadar jika penjual bakso di sebelahnya sudah memanggil sejak tadi.
Sandra membayar pesanannya dan langsung beranjak pulang. Sesekali dia melihat ke arah tempat dimana pasangan muda tadi berdiri bercengkrama. Mereka terlihat sangat cocok dan bahagia. Hal itu mengingatkan Sandra pada sesuatu.
Seseorang yang sudah beberapa hari tidak pernah ditemuinya lagi, rasa bersalah sudah terlalu menumpuk di hati Sandra ketika ingatannya mengulang pada kejadian itu.
"kamu dimana?"
Bisik Sandra lirih dalam hatinya.
*******
"Sandra, sudah pulang buk?"
__ADS_1
Tanya pak Hamid pada istrinya.
"sudah ayah"
Jawab Sandra yang ternyata sudah berdiri di depan pintu.
"pekerjaan sudah selesai?"
Tanya ayah kembali.
"ada beberapa yang belum, tapi nanti pihak kampus bisa menyelesaikannya"
Sandra berlalu masuk ke dalam kamar setelah memastikan tidak ada pertanyaan lagi yang diajukan oleh ayahnya. Dia memilih untuk membersihkan diri dulu sebelum melakukan kegiatannya kemudian.
_________sekitar dua jam kemudian__________
Sandra sudah selesai dengan semua pekerjaannya dan bersiap untuk keluar kamar. Begitu pintu dibuka, nampaklah ayahnya telah berdiri di depan pintu, dengan posisi tangan melayang seakan ingin mengetuk pintu.
"ayah ingin bicara sebentar"
Sandra yang tidak tahu apa-apa mengikuti saja ayahnya yang telah berjalan mendahului. Mereka tampaknya pergi menuju halaman belakang, dimana halaman itu tepat berada di sebelah kamar Sandra.
"ada apa ayah?"
Tanya Sandra setelah mereka duduk di kursi dekat pintu.
"bagaimana keadaan kamu?"
Tanya ayah sambil menghela nafas berat.
"hahah, kenapa tanya gitu. Kan ayah tau sendiri bagaimana Sandra sekarang"
__ADS_1
Sandra tertawa mendengar pertanyaan ayahnya. Namun sedetik kemudian dia berhenti tertawa karena melihat ayah yang terus terdiam.
"maaf ayah, Sandra baik kok"
Ujar Sandra kemudian.
Pria itu masih dengan keadaannya semula, terdiam sambil menatap ke arah perkebunan yang tampak sangat gelap. Pohon-pohon di sana terlihat besar dan tinggi, sesekali angin mengehembuskan dedaunan kering hingga menimbulkan suara gemerisik.
Sandra sama-sama terdiam seperti ayahnya. Dia juga sesekali mengalihkan pandangannya ke arah pepohonan. Mata hitamnya terkadang mencari sesuatu yang begitu diragukannya. Namun bukan yang dicarinya, sesuatu yang lainlah yang sering tampak menimbulkan diri di penglihatan Sandra.
Sandra tau jika apa yang dilihatnya juga dapat dilihat oleh ayah. Lelaki itu memang sejak dulu dapat merasakan sesuatu hal yang mustahil untuk dirasakan manusia normal. Bahkan Sandra yang sedari kecil juga dapat melihat selalu melatih kemampuannya dengan sang ayah.
Setiap kali melihat makhluk halus, Sandra selalu merasa risih. Dia tidak cukup kuat untuk menghindari dan menormalkan rasa ketika melihat sesuatu yang membuatnya merasa ngeri. Bahkan pernah sekali Sandra pingsan ketika pandangannya tanpa sengaja menangkap makhluk buram yang berada di kamar mandi.
"ayah, udara di luar sangat dingin. Mari kita masuk"
Sandra akan berdiri jika saja ayahnya tidak menghentikan sesaat. Pria itu menatap mata Sandra lekat, lalu mengehembuskan nafas berat.
"dimana temanmu? Dreanda?"
_
_
_
_
Tinggalkan kesan manisnya ya say
Bantu like, vote dan rate 5 ya.... 😍😍
__ADS_1
Terima kasih.