My Sweet Ghost Dreanda

My Sweet Ghost Dreanda
Dreanda Bab 20


__ADS_3

Di perjalanan pulang, Sandra dan Doni tidak banyak bicara. Seperti sebelumnya, Sandra kembali terdiam sambil terus berjalan di sebelah Doni. Begitupun Doni, sepertinya dia kehabisan bahan obrolan sehingga sepanjang perjalanan dia hanya menjadi patung berjalan, tanpa obrolan dan sapaan.


Sampainya di persimpangan jalan, harusnya Sandra dan Doni berpisah karena berbeda arah pulang. Namun ternyata Doni terus saja mengitu Sandra. Sandra merasa tidak enak ketika diperlakukan seperti itu oleh Doni, walaupun mereka sudah lama bersahabat, namun rasa takut untuk merepotkan itu sesekali bisa muncul dengan sendirinya. Seperti malam ini.


"eum Don, aku bisa jalan sendiri kok"


Ujar Sandra sambil menatap Doni. Lelaki itu terus saja terdiam tanpa mengindahkan perkataan Sandra. Hal itu membuat Sandra heran, tidak seperti biasanya Doni terdiam dalam waktu yang lama.


"Don aku-"


"sudahlah San, aku akan mengantarmu sampai rumah"


Bantah Doni yang masih menatap lurus ke depan, dia seakan tidak ingin melirik lawan bicara di sampingnya.


Tanpa terasa


Mereka sudah sampai di depan pagar sebuah rumah yang tampak asri. Di sekeliling halaman di tanam beberapa tanaman hias seperti mawar, anggrek dan masih banyak bunga-bunga cantik lainnya. Langsung saja Sandra melangkah masuk ke halaman rumah. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika teringat sesuatu. Di balikkan arahnya untuk bisa berhadapan dengan Doni yang berdiri di luar pagar.


Dia mulai melangkah kembali ke pagar tempat Doni berdiri. Terlihat dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas.


"nih, selamat ulang tahun Doni"


Ucap Sandra sambil mengeluarkan sebuah bingkai foto yang tampak cantik, dia hampir saja lupa memberikan hadiah itu untuk sahabatnya. Jika itu sampai terjadi, mungkin Sandra lebih pantas untuk tidak dianggap sahabat lagi.


"ehh ya ampun aku lupa"


Doni bahagia ketika menerima hadiah dari Sandra. Tampak di dalamnya berisi foto Sandra dan Doni yang masih sekolah menengah atas sampai dengan kuliah. Bahkan ada beberapa foto masa kecil dari mereka sendiri yang diletakkan terpisah.


"terima kasih Sandra, aku senang"


Ucap Doni tulus sambil memeluk Sandra.


Sandra membalas pelukan Doni dengan tenangnya. Pelukan hangat untuk sahabat yang telah lama bersama, dia yang telah banyak tahu tentang semua kisah-kisah hidup yang Sandra jalani. Dia juga yang selalu mendukung setiap keputusan Sandra. Dialah Doni, sahabatnya sendiri.

__ADS_1


"heheh, bisa aja kamu. Bikin aku sesak nafas"


Ujar Sandra ketika merasakan pelukan Doni sedikit lebih erat.


"heheh, maaf-maaf"


Ujar Doni sambil memegang bagian tengkunya.


"ya sudah kalau begitu aku pulang ya"


Ucap Doni kemudian melangkah pergi.


"hati-hati sobat"


Sandra melangkah masuk ke dalam rumah, begitupun Doni yang sudah kembali dari rumah Sandra. Malam ini Doni bahagia setelah menerima ucapan selamat dari sahabatnya. Terlihat dia selalu senyum-senyum sendiri sepanjang perjalanan pulang.


Tanpa mereka berdua sadari, sesosok misterius sedang memperhatikan keduanya sejak tadi. Sosok itu seakan menyimpan rasa amarah di kedua matanya yang memerah. Perlahan kemudian, dia menghilang dalam kegelapan dan kembali ke tempatnya.


Makhluk lain mulai mendekati setelah dia kembali.


"tidak ada, apa dia sudah kembali?"


Tanya sosok itu sambil menatap tajam.


Tatapan itu membuat makhluk lain yang melihatnya terasa terbakar, hampir saja menjerit kepanasan sang pemilik mata tidak mengalihkan pandangannya.


"panas wo"


Ujar bocah hantu itu mulai menjauh, dia takut dengan api merah yang keluar di kedua lobang mata genderowo itu.


"huhuhu, Dreeeeee... Kamu di mana?"


Genderowo mulai menjerit memanggil nama Dreanda. Namun sang pemilik nama sudah lama tidak terlihat di tempat ini.

__ADS_1


"ini semua pasti karena dia"


Ujar bocah sambil menunjuk ke arah kamar Sandra.


"memang manusia kurang ajar, aku akan memberinya pelajaran"


Ucap makhluk berbulu lebat itu sambil menghunuskan cakarnya.


"jangan wo, biar bagaimanapun dia tetap milik si Dre , mereka terikat. Kalau menyakiti dia sama dengan mengorbankan Dreanda"


Bocah kerdil itu menjelaskan dengan cepat sebelum Genderowo keburu melakukan aksinya.


"jika Dre tidak kembali, maka dia yang harus pergi"


Sekejap kemudian sosok itu menghilang, meninggalkan bau gosong yang begitu menyengat.


Penghuni pohon hanya menatapnya kosong. Begitupun dengan teman hantu tadi yang bergelantungan dengan ekspresi wajah datar. Mereka hanyalah makhluk-makhluk lemah yang ditakdirkan untuk hidup dibawah manusia. Tidak ada keadilan dari hubungan mereka dengan manusia. Semua hanya sebuah kehidupan yang sia-sia.


Hukum alam berjalan dengan sendirinya. Menentukan takdir hidup bagi setiap penghuni bumi, maupun semesta. Tidak ada langgaran maupun dilanggar. Semua punya kemampuan masing-masing. Namun apabila salah satu hukum tidak berjalan semestinya, maka sebuah petaka besar akan datang dan menghampiri, kepada mereka yang mengingkari.


-


-


-


-


-


Tinggalkan kesan manisnya ya say


Bantu like, vote dan rate 5 nya juga😍

__ADS_1


__ADS_2