MY SWEETIE BOYFRIEND

MY SWEETIE BOYFRIEND
INGIN ANAK


__ADS_3

Dering telepon menganggu pendengaran sepasang pengantin baru yang tertidur pulas. Dila mengerjap, tangannya meraih ponsel di atas nakas meja lampu tidur.


Sebuah panggilan video dari Reyhan, terpampang di layar tipis. Sontak Dila bangun dengan menyingkirkan tangan Dion dari perutnya.


Tombol hijau digeser, Dila meletakan ponsel pada sandaran lampu. Ia menutup mulut menguap, karena masih dalam keadaan mengantuk.


"Pagi Ma," sapa Reyhan.


"Siang, Sayang," balas Dila.


"Mama pulang deh pagi ini. Maya mau melahirkan. Tadi pagi sudah masuk ke rumah sakit," tutur Reyhan.


"Yang benar?" tanya Dila tidak percaya.


Dion merasa terganggu karena suara istrinya. Ia terbangun tanpa melihat Dila tengah berbincang bersama Reyhan lewat video call.


Langsung saja pria itu berhambur memeluk Dila sembari kepalanya menjorok ke sisi ceruk jenjang sang istri.


"Sayang ... tidur lagi yuk," pinta Dion.


"Hei Dion," seru Reyhan.


"Kayak ada suara Reyhan," gumam Dion.


Dila memutar mata. "Reyhan di depanmu." Dila meraih wajah bantal suaminya, lalu menghadapkan wajah Dion ke layar ponsel, di mana wajah Reyhan terlihat kesal di dalam sana. "Itu anakmu."


"Hai, Rey," sapa Dion dengan melambaikan tangannya.


"Kalian pulang hari ini juga. Maya mau melahirkan," kata Rey.


"Siapa yang kamu sebut kalian?" goda Dion.


Reyhan berdecak kesal. "Papa, Mama ... Maya mau melahirkan."


"Sudah atau akan?" tanya Dila.


"Tadi pagi masih menunggu lagi. Mungkin siang ini. Rey juga akan ke sana setelah menyelesaikan rapat kantor," tuturnya.


Dila mengangguk mengerti. "Mama dan Papa akan pulang. Mama harap anak Maya dan Diki perempuan. Mama ingin dia menjadi istri Kiano."


Rey memutar mata malas. "Terserah Mama saja. Nanti Rey akan menyuruh orang untuk menjemput Mama dan Papa di bandara."


Dila mengiyakan lalu sambungan video terputus. Dion meraih ponselnya yang juga berada di atas meja. Ia memesan tiket Italia-Indonesia lewat online.


"Ayo berberes," kata Dila.


Dion mengiyakan perkataan Dila dan membantu istrinya berberes barang untuk pulang ke tanah air.


...****************...

__ADS_1


Sekitaran enam belas jam penerbangan Italia-Indonesia, malam harinya waktu Indonesia, Dila serta Dion pergi berkunjung ke rumah sakit.


Kamar rawat Maya sudah diberitahukan oleh Diki lewat pesat singkat kepada Dion. Reyhan serta Anna juga berada di sana menunggu kedatangan kedua orangtua mereka.


Pintu dibuka oleh Dion, kedua pasangan suami istri yang berada di kamar tersenyum gembira melihat kedatangan Dila serta Dion.


"Malam banget datangnya?" tanya Rey.


"Mandi dulu tadi. Kan habis perjalanan jauh," jawab Dila sembari memeluk Reyhan, Anna, Diki, lalu beralih pada Maya yang duduk di ranjang pasein. "Keadaanmu bagaimana?"


"Maya baik, Ma. Persalinannya juga normal," jawabnya.


Dila berucap syukur, kemudian beralih pada boks yang terdapat bayi tengah tertidur lelap. Bayi berkulit putih dengan bibir merah, serta hidung mancung.


"Bayinya laki-laki atau perempuan?" tanya Dila.


"Perempuan, Ma," jawab Diki.


"Benarkah?" Dila tidak tahan untuk tidak menggendong bayi cantik tersebut. Menimangnya dan mengecup pipi bulat dari bayi perempuan Diki.


Dion menepuk pundak Diki. "Selamat, Dik. Sudah jadi ayah. Hadiahnya menyusulnya."


"Yang mahal hadiahnya," celetuk Diki.


Reyhan geleng-geleng kepala. "Kebiasaan. Mintanya gratisan mulu."


Anna mendekat pada Dila dan ikut melihat bayi yang cantik itu. "Cantik ya, Ma?"


"Sara Permata Putri," jawab Maya.


"Namanya juga bagus. Cocok untuk Kiano ini," ucap Dila.


"Tadi sore Kiano sudah melihat baby Sara," sahut Anna.


Anna meninggalkan Kiano bersama pengasuh di bawah pengawasan kedua orangtuanya. Kiano masih kecil untuk dibawa kembali ke rumah sakit.


"Kita ada kabar baik untuk Mama," kata Reyhan.


"Apa?" Dila meletakkan Sara kembali ke tempat tidurnya.


Anna tersipu malu saat Reyhan menatap penuh cinta ke arahnya. Dila melirik keduanya secara bergantian. Jika tingkah Anna sudah malu-malu, itu artinya ada kabar bahagia yang disampaikan.


"Anna hamil, Ma," ucap Reyhan.


"Hamil? Serius, Sayang?" tanya Dila pada menantunya.


Anna mengangguk. "Iya, Ma."


Dila langsung berhambur memeluk Anna dengan erat dan tidak lupa mengusap perut rata menantunya.

__ADS_1


"Semoga kembar," ucap Dila.


"Amin," jawab semuanya.


"Selamat, Rey," ucap Dion dengan memeluk sahabat sekaligus anak sambungnya, lalu bergantian dengan Anna. "Selamat, Ann."


"Terima kasih, Pa," balas Anna.


"Mama bahagia. Maya melahirkan bayi perempuan dan Anna hamil kembali. Semoga kalian semua diberi kesehatan dari Sang Pencipta," tutur Dila.


"Amin," ucap semuanya.


Dion menoel-noel pipi bulat Sara dan itu tidak lepas dari mata Dila. Dari rasa kebahagian itu, terselip rasa sedih dalam benak terdalamnya. Apakah ia bisa mengandung kembali? Sungguh Dila ingin menjadikan Dion sebagai pria yang sangat sempurna.


...****************...


Sedari dalam perjalanan, Dion terus memperhatikan Dila. Di dalam mobil, istrinya diam dan hanya bicara seperlunya saja, dan sekarang setelah sampai di rumah, Dila juga diam.


"Kamu kenapa sih, Sayang?" Aku ada salah, ya? Dari tadi kamu diam saja," ucap Dion.


"Aku mau punya anak," ucap Dila.


"Si Reyhan sudah ada," jawab Dion.


"Anak bayi, Sayang." Dila beranjak masuk ke dalam kamar.


"Anak bayi?" ulang Dion dengan ikut menyusul.


"Umurku tidak bisa lagi mengandung dan tingkat kesuburan juga pasti sudah menurun," tuturnya.


Pria itu menghela napas panjang. Rupanya hal ini yang membuat istrinya diam saja. Karena Maya punya anak bayi, serta Anna yang mengandung, Dila jadi ikut-ikutan ingin hamil.


Dion mengeleng. "Tidak, Sayang. Terlalu beresiko hamil diusiamu sekarang. Sudah cukup cucu kita yang akan bertambah. Aku maunya kita berdua saja."


Dila mendelik akan perkataan Dion. "Aku ingin sempurna, Dion."


Dion memegang kedua pundak Dila. "Kamu sempurna. Kamu pernah melahirkan dan kamu sudah merasakan menjadi seorang ibu."


Dila terhenyak akan ucapan Dion. Maksud dari keinginannya adalah, Dila ingin menjadi istri sempurna untuk suaminya dengan memberi keturunan sebagai penerus.


"Kamu masih tidak mengerti aku," sergah Dila.


"Aku mengerti dengan keinginanmu, dan sudah berulang kali aku katakan. Aku tidak perlu anak. Yang aku inginkan hanya kamu yang berada di sisiku. Aku terima kamu apa adanya, dan tolong ... kumohon padamu untuk tidak membahas masalah keturunan," tutur Dion dengan jelas.


Dion melangkah menuju pintu kamar, tetapi ia berhenti sejenak memandang Dila. "Jangan bersikap kekanak-kanakkan, Dila. Cukup jalani kehidupan ini dengan tenang. Sadarlah ... jangan memaksakan kehendak yang memang tidak bisa kamu dapatkan."


Setelah mengatakan hal itu, Dion keluar dari kamar. Dila terduduk di atas tempat tidur. Mencerna setiap perkataan yang terlontar dari bibir suaminya.


Apa ia bersikap kekanak-kanakkan? Apa Dion merasa jika ia memang tidak bisa hamil kembali? Pertanyaan itu bertalu-talu dalam benaknya.

__ADS_1


Bersambung.


Dukung Author dengan vote, like dan koment.


__ADS_2