
"Kulit perutku tidak cantik lagi," ucap Dila.
Senyuman manis Dion tersungging di bibir ketika mengusap kulit perut yang merekah karena kehamilan. Orang mengatakan itu peregangan kulit atau biasa disebut stretch mark.
Dion mengambil minyak Zaitun lalu mengoleskannya dengan lembut pada kulit perut sang istri. "Kulit ini adalah kulit terindah; sebab ia telah mengandung kehidupan di dalam sana."
"Aku akan mengembalikan kulitnya seperti semula," ucap Dila.
"Itu pilihanmu, Sayang. Aku mencintai kekuranganmu dan bukan kelebihamu," sahut Dion sembari mengecup bibir Dila.
"Aku tidak sabar menunggu hari kelahirannya."
Dion tidak menjawab. Ia melangkah membuka lemari, mengambil pakaian ganti untuk istrinya. "Ganti baju dulu. Kita harus berangkat sekarang. Bisa-bisa Reyhan akan marah kita datang terlambat."
Dila mengangguk. "Katakan padanya kita akan datang tepat waktu."
Hari ini Anna akan menjalani operasi caesar guna melahirkan anak kembarnya. Rey menyarankan Anna untuk melakukan operasi; sebab pria itu merasa masih trauma pasca kelahiran terdahulu.
Dila sudah siap dengan dress hamil berwarna biru muda. Begitu juga Dion sudah siap dengan segala perlengkapan yang akan pria itu bawa. Tas tenteng besar berwarna putih berisi minuman serta cemilan sehat untuk Dila.
Pria itu selalu menjaga apa yang akan masuk ke dalam mulut Dila. Semuanya harus makanan sehat dan sebisa mungkin makanan tersebut harus dibuat di rumah.
...****************...
"Jam berapa jadwal operasinya?" tanya Dila.
"Sebentar lagi mungkin," jawab Reyhan.
Dila mengusap puncak kepala Anna. "Kamu yang tenang. Jangan takut."
Anna mengangguk. "Iya, Ma. Jangan khawatir."
Para suster masuk ke dalam ruangan dengan membawa brangkar pasein. Anna dipindahkan ke brangkar tersebut, kemudian dibawa ke ruang operasi.
"Hendra ... apa Ria akan ke sini?" tanya Dila pada besannya.
"Aku menyuruhnya datang sehabis Anna selesai operasi. Tidak baik Kiano dibawa berlama-lama di rumah sakit," jawab Hendra.
"Kamu senang akan mendapatkan cucu lagi?" kembali Dila bertanya.
"Tentu saja, Dila. Jarak mereka juga tidak terlalu jauh. Di umur setua ini aku masih bisa melihat cucu-cucuku."
Mata bulat berwarna kecoklatan memandang penuh kecemburuan terhadap Dila, yang tengah asik berbincang bersama seorang pria yang notabenenya adalah mertua Reyhan dan sudah memiliki istri.
Dion berdehem, tetapi terkesan pria itu tersedak makanan. Tiada henti Dion berdehem hingga mengalihkan perhatian dari Reyhan, Hendra serta Dila.
"Ketulangan?" tanya Reyhan.
"Memangnya aku lagi makan?" sahut Dion ketus.
"Ngapain kamu berdehem tiada henti begitu? Sakit tenggorokkan?" terka Reyhan.
__ADS_1
"Bisa jadi," jawab Dion.
"Biar aku bawa kamu ke dokter. Aku akan menyuruhnya menyuntikmu biar selamanya tidak dapat bicara."
Dion tersentak. "Durhaka kamu, Rey."
Reyhan memutar mata malas. "Dasar bocah labil."
Dila hanya mengeleng lalu melanjutkan kembali perbincangan dengan Hendra. Gerutuan dalam hati Dion meledak-ledak sebab Dila tidak mengerti jika ia sangat cemburu.
Ketika Dila berbincang dengan besannya, Dion merasa istrinya berada di dunia berbeda. Dila menunjukkan dirinya adalah wanita dewasa punya anak serta menantu dan juga cucu.
Dila memang sangat pandai membawa diri serta berganti peran. Jika bersama Dion, wanita itu bersikap laiknya istri yang manja serta mendamba rasa cinta. Sedang bersama orang lain, maka Dila bersikap selayaknya.
"Aku juga senang kamu bisa hamil lagi," ucap Hendra.
"Aku malah berharap istrimu juga hamil," cetus Dila.
Hendra tertawa. "Sudah cukup aku punya tiga cucu."
Dion tidak bisa lagi menahan rasa cemburu. Langsung saja pria itu menjauhkan Dila dari mertua sahabatnya. Dion bahkan duduk di tengah sebagai pembatas antara Hendra dan Dila.
Plaak ... !
"Aduh! Sakit, Om," ringis Dion dengan mengusap kepalanya yang dipukul Hendra.
"Aku tidak akan mengambil istrimu itu. Istriku lebih cantik," tutur Hendra.
Dion mendengus. "Jelas-jelas istriku paling cantik."
Reyhan menepuk jidat. "Sudah papa-papa. Kalian bukan lagi anak kecil. Ini rumah sakit, jangan buat malu."
Dila menghela napas. "Aku bicara bersama besan saja kamu cemburu."
"Cemburu tanda cinta, Sayang," jawab Dion.
...****************...
Dengan perlahan Anna membuka matanya. Senyum bahagia dapat wanita itu lihat dari pria penyelamat, penyayang dan pasti sangat mencintai dirinya.
"Aku semakin mencintai kamu." Satu kecupan mendarat di kening Anna.
"Bagaimana anak-anak?" tanya Anna.
"Sebentar lagi mereka datang," jawab Reyhan.
"Sayang ... selamat," ucap Dila dengan mengecup kening Anna.
Anna baru tersadar sudah ada banyak orang di kamar rawatnya. Ada orangtua kandungnya, mertua serta para sahabat. Tidak ketinggalan si kecil Kiano bersama pengasuhnya.
Masing-masing mengucapkan selamat pada Anna serta Reyhan. Satu pintu ruangan terbuka. Dua suster masuk dengan mendorong dua kereta bayi.
__ADS_1
Kedua suster memberikan satu bayi kepada Anna dan satu lagi kepada Reyhan. Para pria keluar dulu sebab Anna akan menyusui putri-putrinya.
"Cantik-cantik," ucap Ria, ibu dari Anna.
"Orangtuanya saja cantik dan tampan," sahut Dila.
"Teman main Sara jadi banyak," sambung Maya.
"Artinya Kiano sendiri yang cowok," tambah Dila.
Ketiga wanita itu tertawa. Reyhan memberikan putri kecilnya kepada Dila. "Lihat, Ma. Dia sangat cantik."
"Iya ... Mama jadi tidak sabar menunggu kelahiran adikmu," sahut Dila.
"Reyhan juga, Ma."
"Kebayang tidak? Keluarga kita penuh dengan anak-anak. Sungguh pemurah Sang Pencipta memberi rezekinya," tutur Dila.
"Benar, Dila," sahut Ria.
Selesai kedua putri menerima asupan nutrisinya, para pria diizinkan masuk dan melihat si kembar.
"Namanya siapa?" tanya Diki. "Aku jadi bingung membedakan kedua putri cantik ini."
"Yang punya tahi lalat di siku kanan, namanya Ayanna," ucap Reyhan sembari menunjukkan siku kanan putrinya. "Kalau yang punya tahi lalat di dagu, namanya Anthea."
"Nama yang bagus. Ayanna dan Anthea yang artinya bunga," sahut Dion.
Diki mengangguk. "Saat ini yang membedakannya hanya tahi lalat."
"Tunggu saja sudah besar. Pasti juga kelihatan bedanya," sahut Dion.
"Selamat, ya, Kakek. Bertambah lagi cucunya," ucap Diki pada Dion.
Dion tak kuasa menahan tawa. "Terima kasih. Cucu-cucuku pasti bangga punya Kakek yang tampan sepertiku."
"Benar, Dion. Namun terbalik pada anakmu kelak. Putrimu pasti akan malu punya kakak yang sudah tua," ucap Diki dengan gelak tawanya.
"Kalian selalu mengodaku," kesal Reyhan.
"Sabar, Sayang. Memang begitulah kenyataannya," tambah Anna.
Semuanya tertawa karena celotehan dari tiga pria konyol yang saling bersahabat. Dion menghampiri Dila yang sedari tadi duduk memandang tingkah ketiganya.
"Kamu bahagia tidak?" tanya Dion.
"Tentu saja, Kakek," jawab Dila tertawa.
"Aku juga bahagia, Nenek," sambung Dion.
Rambutmu memutih, rambutku hitam. Umurmu dewasa, umurku menuju kedewasaan. Wajahmu menua, wajahku menuju garis keriput. Perbedaan sangat jauh. Namun, dapat menjadikan kita sebagai sepasang tua yang saling mencinta.
__ADS_1
Bersambung.
Dukung Author dengan vote, like dan koment.