MY SWEETIE BOYFRIEND

MY SWEETIE BOYFRIEND
MENGABULKAN


__ADS_3

Bukannya aku tidak menginginkan suara tangis serta tawa seorang bayi. Bukannya aku tidak menginginkan kesempurnaan dari pernikahan. Yang kutakutkan adalah jika hal itu tidak bisa didapatkan.


Paradigma berputar di kepalaku. Menyusun segala kemungkinan terburuk. Bukan aku menyalahkan ataupun tidak percaya akan kuasa Sang Khalik, tetapi rasa takut yang berselubung dalam nuraniku.


Sukma serta kalbuku tersiksa melihat kesedihan di matamu. Ada pengharapan di sana, sebuah tujuan kebahagian yang ingin kau berikan kepada kekasih bodohmu ini. Haruskah diri ini mengabulkan permintaanmu? Di saat nurani serta pikiranku saling bertengkar? Keduanya saling memberiku pilihan untuk memilih.


Kertas yang tadinya bersih, kini telah kotor bertuliskan aksara yang Dion bubuhkan di atasnya. Ia menutup buku harian, lalu menyimpannya di dalam laci meja kerja.


Pria itu beranjak dari duduk, melangkah keluar dari ruang kerja tempatnya menenangkan diri sejenak.


Pintu kamar dibuka, Dion melangkah masuk melihat istrinya yang sudah berganti pakaian dengan berbaring ke sisi samping menghadap kusen jendela kamar.


Dion hanya menatap dan enggan untuk bertegur. Namun retinanya memandang pakaian ganti di atas tempat tidur. Sudah jelas Dila menginginkan ia membersihkan diri sebelum naik ke atas ranjang.


Pria itu melangkah ke kamar mandi. Ada yang kurang di sini. Sepi seperti Dion sendirian saja meski ia tengah berada dalam satu kamar yang sama.


Saat keduanya berada di luar negeri, celotehan Dila selalu menjadi hiburan sebelum tidur. Ada saja yang wanita itu ceritakan. Entah itu cerita masa lalu atau cerita membahas masa depan mereka nantinya.


Selesai membersihkan diri, Dion merebahkan diri di samping Dila. Ia tatap punggung yang membelakanginya saat ini. Satu jemari telunjuk terulur, menyentuh punggung nan putih bersih.


"Sayang," bisik Dion.


Tidak ada respon yang istrinya tunjukkan. Kemungkinan mata Dila sudah terlelap hanyut dalam buaian mimpi. Satu kecupan Dion sematkan di lengan polos Dila sebagai teman tidur.


Dion membalik diri membelakangi Dila. Malam ini ia hanya bisa diberi kehangatan oleh selimut serta guling, berharap mata lelahnya dapat tertutup untuk tidur, meski tanpa pelukan hangat dari sang istri.


Dila membuka mata, ia merespon sentuhan yang Dion lakukan. Namun ia enggan untuk membalik diri ke belakang. Bukannya marah, tetapi ada rasa kecewa dalam benaknya.


Jemari tangan Dila mengusap punggung suaminya. Ini adalah pertengkaran pertama mereka setelah menikah.


Rasa bersalah mulai menghantui Dila. Tidak seharusnya ia membuat keinginan yang menyebabkan sebuah perdebatan.


Kekerasan hati mengalahkan pikirannya. Ia tidak mengingat betapa sang kekasih telah mengatakan menerima dirinya.


Semesta bahkan tahu, mau seburuk apa pun Dila, sempurna atau tidak, Dion akan menerimanya dengan segenap hati.

__ADS_1


"Dion," lirih Dila.


...****************...


Mentari pagi bersinar cerah, tetapi tidak secerah hati Dila yang saat ini tengah mendung. Ia bangun dari tidur, tetapi tidak menemukan belahan jiwa yang selalu menyapa setiap pagi harinya.


Masih marahkah kekasihnya? Ke mana sapaan pagi serta kecupan mesra yang selalu ia dapat dari sang suami? Dila menyentuh sisi samping tempat tidur di mana aroma tubuh Dion masih tertinggal.


Ia beranjak dari tempat tidur, mengambil jubah gaun malamnya, lalu melangkah untuk keluar kamar.


Gagang pintu ditekan hingga terbuka. Dila tersentak di depannya ada sebuah surat bertali yang bertulisan kata maaf.


Ia menarik surat itu untuk membacanya, tapi yang terjadi ada kertas kado yang sudah dipotong kecil-kecil jatuh di atas kepala.


"Dion," gumamnya kaget bercampur rasa takjub.


Dila berjalan menuju anak tangga, di sana ada taburan kertas kado mengkilap. Satu per satu kakinya menyentuh kertas tersebut hingga sampailah ia di pintu taman.


"Sayang," seru Dila takkala melihat Dion berdiri memandangi taman bunga.


"Sayang ini apa?" tanya Dila.


Kembali Dila mendapatkan pelakuan manis dari suaminya. Pria itu bahkan rela bangun pagi-pagi demi membuat sebuah kejutan untuknya.


"Sarapan dulu yuk," ajak Dion yang segera membawa Dila duduk di kursi.


"Kamu yang siapkan ini semua?" Dila menatap buah, roti bakar serta dua jus buah yang telah tertata rapi di meja.


"Ayo makan dulu," kata Dion.


Dila mengangguk, kemudian menyuapkan roti bakar ke dalam mulutnya. "Enak. Sangat enak."


Segala hidangan yang Dila cicipi terasa sangat melezatkan meski itu merupakan hidangan yang biasa saja. Hidangan yang dibuat dengan rasa cinta itulah, membedakannya dari yang lain.


Senyum terukir di bibir sang suami. "Maafkan aku." Dion meletakkan tangannya di atas punggung tangan Dila. "Perkataanku pasti menyakitimu."

__ADS_1


Dila mengeleng. "Tidak, Sayang. Mungkin kamu benar ... aku memang harus menerima kenyataan."


Dion menutup bibir istrinya dengan jari telunjuk. "Kamu ingin menjadi sempurna, kan? Ayo ... kita wujudkan kesempurnaan itu. Aku akan melakukan apa saja agar keinginanmu tercapai."


Dila terkesiap. "Sayang ... kamu serius dengan perkataanmu?"


Wanita cantik yang masih mengenakan gaun tidur itu, masih tidak percaya dengan indera pendengarannya. Semalam Dion terlihat menentang, lalu sekarang tiba-tiba suaminya berubah pikiran.


Dion menghampiri istrinya, berlutut di hadapan wanita itu. "Mari wujudkan keinginan itu."


Tanpa menunggu lagi, Dila langsung berhambur memeluk Dion dengan erat. Mengecup kedua pipi suaminya dengan kasih dan cinta.


"Iya ... kita wujudkan keinginan itu bersama," ucap Dila.


Lingkaran tangan otomatis terletak di leher Dion, saat pria itu mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongan. Mata keduanya saling tatap menyiratkan sebuah keinginan hasrat yang ingin segera dilaksanakan.


Satu per satu Dion menaiki anak tangga menuju kamar. Dengan perlahan tubuh Dila diletakkan di atas tempat tidur. Peraduan cinta kembali terjadi, tetapi kali ini di lakukan dengan sangat lembut, penuh penghayatan hingga mencapai klimaks ternikmat.


Di antara pikiran dan hati yang saling bertengkar, pria itu memilih hatinya untuk mengabulkan permintaan dari sang istri. Mewujudkan apa yang Dila inginkan.


Entah tujuan itu tercapai atau tidak, biarlah menjadi suatu kehendak Sang Khalik. Yang terpenting saat ini, baik Dila maupun Dion akan sama-sama berjuang demi mendapatkan sebuah kesempurnaan dalam pernikahan.


Dila menghapus air mata yang mengenang di pipinya. Ia terharu akan segala tindakan yang Dion lakukan. "Terima kasih."


"Mengapa menangis?" Dion mengusap lembut pipi istrinya.


"Ini tangisan kebahagian," tutur Dila haru.


"Aku sudah pernah bilang padamu. Hanya ada kebahagian yang akan aku isi dalam kehidupanmu."


"Aku beruntung mendapatkan pria sepertimu."


"Akulah yang beruntung mendapatkan wanita sepertimu. Aku kalah. Kalah karena rasa cintaku padamu. Kamu menang dengan segala cintamu padaku," ucap Dion sembari mengeratkan dekapan pada tubuh Dila.


Bersambung.

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan subscribe.


__ADS_2