MY SWEETIE BOYFRIEND

MY SWEETIE BOYFRIEND
CURHAT


__ADS_3

Kaget? Jelas Dion sangat kaget akan dua kata lontaran dari bibir Dila. Menikah lagi tidak ada dalam kamus hidupnya. Hidup cuma sekali dan menikah pun, Dion akan melakukannya sekali.


"Sadarkah akan apa yang kamu ucapkan?" ucap Dion. "Hanya karena masalah ini kamu menyuruhku untuk menikah lagi?"


"Jika kamu tidak ingin menikah? Aku bersedia membiarkanmu bermain wanita di luar di sana."


"Dilaaa! Di mana pikiranmu, hah?! Kamu anggap apa aku ini? Aku suamimu!"


"Kamu tidak merasakan menjadi aku, Dion. Bukan masalah itu saja. Hasratku juga menurun dan aku tidak menikmati berhubungan suami-istri. Rasa itu sudah menurun." Dila tersedu mengeluarkan buliran air mata yang menodai pipi. "Masih bisakah aku disebut seorang istri?"


Gelora napsu Dila sudah menurun. Beberapa permainan terakhir dirasakan datar saja. Dion memang tidak mengatakan apa-apa, tetapi Dila mengerti jika suaminya menginginkan lawan bermain yang imbang.


Dion turun dari tempat tidur dengan memakai kembali pakaian kantornya. Pria itu menuju kamar mandi dengan membanting pintu. Keran dihidupkan hingga air dingin menguyur tubuh.


Sejurus kemudian, Dion selesai membersihkan diri. Istrinya sudah tidak ada di tempat tidur. Hanya pakaian ganti saja yang tersedia di atas seprai yang sudah rapi.


Dion mengabaikan pakaian yang telah Dila siapkan. Ia mengambil pakaian lainnya di dalam lemari. Dion merapikan diri, mengambil dompet, ponsel serta kunci mobil.


"Sayang ... makam malam sudah siap," ucap Dila yang masuk ke dalam kamar. Wanita itu terdiam memandang penampilan Dion yang wangi dan rapi.


"Aku mau pergi," ucap Dion.


Dila tersenyum. "Tidak makan dulu?"


"Aku makan di luar saja," sahutnya sembari melewati Dila, lalu melangkah keluar dari kamar.


"Hati-hati di jalan, Sayang," ucap Dila.


Dila merasakan perih karena untuk pertama kalinya, Dion pergi setelah pulang kantor. Penampilannya juga wangi serta rapi. Sudah pasti suaminya akan mencari wanita lain. Dila bisa apa? Dirinya sendiri yang menginginkan hal itu.


Sedangkan di sisi lain, Dion mengerutu di dalam hati. Istrinya bahkan tidak bertanya ke mana ia akan pergi. Padahal selama menikah, Dion tidak pernah keluar malam.


Suara mobil keluar Dila dengar. Suaminya pergi tanpa makan malam dan tanpa kecupan seperti biasanya. Dila melirik jam di dinding. Mungkin malam-malam kesendiriannya akan dimulai dari malam ini. Kemungkinan suaminya itu akan pulang larut malam ataupun pagi.


"Papa mana, Ma?" tanya Delilah.


"Papa keluar sebentar. Kita makan bersama saja, ya," ajak Dila.


Delilah mengangguk. "Iya, Ma."


Untuk pertama kalinya juga Dila serta Delilah makan malam tanpa Dion. Sesibuk apapun suaminya dengan pekerjaan, ketiganya selalu menyempatkan makan bersama. Kali ini Dila harus mempersiapkan alasan-alasan demi menjawab pertanyaan yang akan Delilah tanyakan nantinya. Sama seperti dulu saat Reyhan masih kecil. Kini Delilah pun akan bernasib sama seperti kakaknya.


...****************...

__ADS_1


"Kamu belum makan?" tanya Diki yang melihat Dion makan dengan lahap.


"Menurutmu aku sudah makan apa belum?"


"Aku salah bertanya rupanya. Kamu kenapa tidak makan di rumah? Bertengkar sama mama?" cerocos Diki.


"Bisa tidak, aku makan dengan tenang? Sedari tadi kamu bertanya terus. Kamu tidak ikhlas memberiku makan?"


"Bukan begitu. Ya ... aneh saja. Secara kamu bucin level tinggi, tiba-tiba makan malam tanpa istri tercinta di sampingmu," ujar Diki.


Dion meneguk air putih dingin hingga tandas. Pria itu juga menyeka bibirnya dengan lap. Dion pergi ke rumah Diki demi menenangkan amarahnya karena tingkah laku Dila.


"Kita bicara di tempat lain saja," kata Dion.


Diki mengangguk. "Kita ke taman belakang saja."


Diki menyuruh pelayan untuk membawakan mereka teh hangat ke taman, kemudian melangkah bersama Dion menuju taman belakang rumah.


"Ada apa?" tanya Diki.


"Dila sudah pada fase akhir," jawab Dion.


Kening Diki berkerut. "Fase akhir?"


Diki mengigit indera perasanya agar tidak tertawa. Kali ini Dion bersikap serius dan butuh solusi bukan candaan.


"Lantas?" tanya Diki.


"Dia malah menyuruhku menikah lagi atau bermain wanita di luar sana. Dila bahkan tidak bertanya saat aku pergi. Apa dia mengira aku akan melakukan seperti yang ia pikirkan?" beber Dion sebenarnya.


"Wajar saja mama Dila begitu. Dia pasti takut kamu kecewa. Hal ini bisa dibicarakan baik-baik," ujar Diki.


"Aku sudah bilang ini bukan akhir segalanya. Tapi Dila malah menyuruhku bermain serong. Apa dia ingin sakit hati kembali seperti dulu? Seperti yang mantan suaminya lakukan?" kesal Dion.


"Ehem."


Diki serta Dion terlonjak kaget karena suara deheman seorang pria. Keduanya menoleh pada pria yang tengah melipat tangan di perut.


"Reyhan! Kapan kamu datang?" tanya Diki.


"Bikin kaget saja," kesal Dion.


"Adikku tersayang menelepon. Katanya Papa tidak ada di rumah dan tidak makan malam bersama," ungkap Rey sembari duduk di bangku besi berhadapan dengan Diki serta Dion.

__ADS_1


"Kamu tidak bisa selingkuh, Dion. Putrimu sudah menjadi mata-mata," celetuk Diki.


Delilah sangat dekat pada Reyhan. Apa yang terjadi di rumah, adiknya itu akan selalu memberitahu.


"Kamu sepertinya sedang kesal. Kamu bertengkar dengan mama?" tanya Reyhan pada Dion.


Diki berbisik di telinga Reyhan, memberitahu masalah yang tengah dihadapi oleh sahabatnya itu. Reyhan hanya menghela karena apa yang ia takutkan terjadi.


"Kamu ajak mama ke tempat romantis. Bicarakan masalah kalian berdua, Dion. Aku akan pesankan pelembab serta pelumas untuk mama," kata Reyhan.


"Pelembab dan pelumas?" tanya Dion. "Buat apa?"


"Masa begitu saja kamu tidak tahu?" ucap Diki.


"Aku memang tidak tahu," sahut Dion.


Diki berbisik di telinga Dion, memberitahu apa yang dimaksud oleh Reyhan dengan pelembab serta pelumas. Dion tidak dapat menahan tawa karena baru saja mengetahui fungsi dari kedua benda tersebut.


"Kamu harus lebih romantis lagi. Pasti mama merasa dia tidak cantik lagi," ujar Reyhan.


"Benar, Rey. Aku akan terus berkomunikasi padanya," sahut Dion.


"Jangan sering-sering juga melakukan hal itu. Meningkatkan gelombang hasrat bukan hanya selalu berhubungan suami-istri," tambah Diki.


Dion mengangguk paham akan apa yang kedua sahabatnya katakan. "Kalian benar. Aku sangat bersyukur punya sahabat seperti kalian. Terima kasih atas sarannya. Aku memang harus bicara pada Dila."


Diki menepuk pundak Dion. "Tidak galau lagi, kan?"


Dion mengeleng. "Tidak. Sepertinya aku harus merencanakan bulan madu kedua."


"Boleh tuh," sahut Reyhan.


"Benar ... kalian butuh waktu bersama," tambah Diki.


"Bagaimana kalau bulan madu bersama saja?" usul Rey.


"Seru juga tuh," sahut Dion.


"Aku ikut saja," sambung Diki.


Ketiganya tertawa bersama dan kembali melanjutkan perbincangan mengenai bulan madu yang akan mereka lakukan secara bersama-sama.


Bersambung.

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan koment.


__ADS_2