
Seminggu berlalu keadaan masih diliput kesedihan. Ya ... tidak mudah memang untuk melupakan orang yang paling dikasihi. Kenangan yang Dila tinggalkan masih terbayang-bayang dalam pelupuk dan pikiran suami serta anaknya.
Sudah seminggu pula Dion memiliki kebiasaan baru. Pria itu akan pergi pada pukul lima pagi ke taman belakang rumah. Ia petik bunga-bunga kesukaan Dila, setelah itu pergi entah ke mana, dan pada tengah malam, Dion akan pulang ke rumah.
Rumah besar itu menjadi sunyi. Dion seakan lupa jika ia masih memiliki seorang putri. Sudah seminggu pula Delilah tidak berbincang pada papanya.
Saat ia menegur, Dion hanya menoleh, lalu pergi. Makan bersama juga mereka lewatkan. Dion selalu mengunci pintu kamar. Tidak ada yang boleh masuk meski hanya untuk bersih-bersih saja.
Kondisi itu membuat khawatir Bastian sebagai orangtua. Ia memutuskan untuk tinggal bersama Dion demi menjaga cucu kesayangannya Delilah.
Sama seperti halnya Delilah, setiap Bastian menegur, Dion hanya memandang saja. Sepatah kata pun tidak terucap dari bibir pria itu.
"Dion ... Papa ingin bicara padamu, Nak," kata Bastian yang menghampiri putranya tengah memetik bunga mawar putih.
Dion diam saja. Ia tidak menghiraukan perkataan Bastian, dan tetap melanjutkan kegiatannya.
"Delilah butuh kamu. Kasihan dia. Sudah seminggu Papa perhatikan kamu terus berlarut dalam kesedihan."
Dion meletakkan bunga yang telah ia petik ke dalam keranjang rotan. Ia pandangi wajah renta Bastian. "Papa tidak senang aku tinggal di sini? Lebih baik aku pergi saja."
Bastian tersentak, "Bukan begitu! Sudah seminggu kamu bersikap aneh. Pergi pagi, lalu pulang tengah malam." Bastian menepuk pundak Dion. "Nak, setiap pertemuan ada perpisahan. Setiap kelahiran pasti ada kematian. Ikhlaskan kepergian Dila. Jangan menyiksa dirimu."
"Papa masih tidak mengerti apa yang aku alami. Betapa aku tersiksa dengan yang namanya cinta. Aku ingin bersama istriku, tetapi takdir belum mengabulkannya."
"Sadar, Dion!" Bastian mengeraskan suaranya.
"Papa maunya apa?! Menyuruhku melupakan Dila, begitu?"
Bastian mengeleng, "Bukan, Nak. Simpanlah kenangan Dila di dalam hatimu, tetapi ingat kewajibanmu sebagai seorang ayah."
Dion meraih keranjang bunga, lalu pergi meninggalkan Bastian. Delilah yang mendengar perdebatan itu, tidak berani untuk muncul. Ia juga membiarkan Dion melewati dirinya begitu saja.
"Kakek!" seru Delilah yang langsung memeluk Bastian.
"Biarkan saja papamu. Biarkan dia melakukan apa yang menurutnya benar."
...****************...
Dion sampai di makam Dila. Ia ganti bunga yang layu, dengan bunga yang baru ia petik. Setiap hari Dion berkunjung ke makam, dan sudah seminggu hal itu menjadi kebiasaannya.
"Besok akan aku bawakan bunga anggrek untukmu. Bunga yang melambangkan pesona dirimu."
Dion bersihkan makam istrinya yang sebenarnya sangat bersih karena setiap hari pria itu selalu membersihkannya. Tidak peduli sinar mentari yang menyengat, pria itu duduk diam meratapi nisan istrinya.
Kutatap langit yang sedang cerah.
Tidak ada satu pun burung yang lewat.
__ADS_1
Ingin aku menitipkan sebuah pesan kepadanya.
Pesan untuk kekasihku tercinta.
Di sinilah sang pemujanya terluka.
Duduk diam seperti orang gila.
Mengharapkan takdir untuk segera mencabut nyawanya.
"Dion!"
Pria yang dipanggil namanya menoleh. Reyhan datang menyusul ke makam dengan sebuah payung melindungi dirinya. Cuaca memang sangat terik. Panasnya terasa di ubun-ubun. Namun bagi Dion, itu tidak masalah.
"Ada apa?" tanya Dion.
"Kamu gila atau memang sudah gila? Setiap hari datang kemari. Apa kamu ingin dikub .... "
Reyhan tidak meneruskan kalimat sarkasnya. Ia sampai terbawa emosi karena kelakuan Dion. Sudah seminggu Reyhan hanya diam saja akan tingkah sahabatnya. Pria itu menganggap Dion masih sangat kehilangan, tetapi setelah dibiarkan, dan diperhatikan, hal yang pria itu lakukan sangat mengkhawatirkan.
"Aku memang sudah gila. Dila telah meninggalkanku, dan aku gila karena ia telah membawa kewarasanku."
"Ayo pulang bersamaku," kata Reyhan.
Dion mengeleng, "Aku mau di sini."
Dion mengusap nisan Dila. "Sayang, aku pergi dulu. Besok aku akan kembali."
Pengawal yang ikut bersama Reyhan, bergegas membuka pintu mobil, dan mempersilakan Dion untuk masuk. Reyhan mengirimkan doa kepada ibunya, setelah itu bergegas menyusul Dion.
"Kalian bawa pulang mobil Dion. Biar aku yang menyetir," kata Rey.
"Baik, Tuan,"
Reyhan masuk ke dalam mobil. "Kita kumpul bersama, yuk! Sudah lama kita tidak bicara. Aku akan mengirim pesan kepada Diki untuk menemui kita di cafe langganan."
"Apa kalian tidak punya pekerjaan?" tanya Dion.
"Hari ini kami ingin bersamamu."
Reyhan mengirim pesan kepada Diki dulu, setelah itu menjalankan mobil menuju cafe langganannya.
...****************...
"Sudah lama datangnya?" kata Reyhan.
"Baru saja. Kalian duduklah. Aku sudah pesan minuman untuk kita bertiga," kata Diki. "Dion, apa kabar kamu?"
__ADS_1
"Aku baik," jawabnya.
Reyhan dan Diki saling menatap. Keduanya tidak tahu harus bicara apa. Dion juga diam saja dengan pandangan mata menatap keluar.
"Dion ... kamu tidak ingin kembali ke perusahaan?" tanya Diki.
"Aku tidak berminat."
"Aku dengar perusahaanmu semakin maju saat Andi yang memegangnya," kata Diki.
"Iya."
Diki menarik napas. Ia sudah berusaha untuk membuka pembicaraan, tetapi Dion seolah ingin menutup perbincangan itu sendiri. Pelayan datang dengan membawa minuman yang telah dipesan. Dion langsung menyeruput minumannya kemudian beranjak dari kursi.
"Mau ke mana lagi?" tanya Reyhan.
"Mau pulang."
"Biar aku antar," kata Rey.
"Biarkan aku sendiri." Dion melangkah pergi, tetapi Rey menahan pundak pria itu.
"Biar aku antar," kekeh Rey.
"Ada masalah apa aku dengan kalian? Biarkan aku sendiri!" Dion meninggikan suaranya.
Diki meletakkan dua lembar uang biru ke meja, lalu menyusul kedua sahabatnya. "Ayo keluar!"
Ketiganya keluar dari cafe. Reyhan tidak melepas genggaman tangannya dari Dion. Tidak peduli apa pandangan pengunjung pada tiga pria paruh baya itu.
"Aku bukan anak kecil, Rey! Lepaskan tanganmu!" kata Dion.
"Kamu mau ke makam lagi? Sadarlah, Dion. Ikhlaskan kepergian mama," kata Reyhan.
Dion mengepalkan sebelah kanan tangannya. Kepalan itu mendarat di wajah Reyhan. "Kenapa kalian menyuruhku melupakan Dila?! Dia tetap ada di hati, dan pikiranku!"
"Bukan begitu maksudku," kata Rey.
"Lalu apa? Kalian tidak membiarkanku bersama istriku. Tadi papa, sekarang kamu." Dion menatap tajam Reyhan. "Biarkan aku bersama istriku! Kalian jangan ikut campur!" Dion mendorong tubuh Rey, lalu pergi.
Reyhan ingin mengejar, tetapi Diki menahannya. "Biarkan dulu, Rey. Ini masih baru. Lama-kelamaaan Dion juga akan sadar."
"Suruh pengawal mengikutinya. Aku takut dia berbuat nekat," kata Rey.
Diki mengangguk, "Akan aku lakukan."
Bersambung.
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like, dan koment.