
Dear My Angel
Tiada bosan aku menuangkan segala rasa dalam sebuah coretan tinta berwarna hitam di atas kertas putih nan polos. Aku mengotorinya dengan luapan perasaan yang teramat bahagia agar menjadikan tulisan ini sebuah kenangan pada saat rambut kita sudah memutih.
Nuraniku bergemuruh, ada letupan-letupan kembang api yang meledakkan tawa karena kebahagian yang telah kamu berikan. Sebuah kesempurnaan pada satu hubungan menghampiriku dalam bentuk benih cinta yang tertanam di dalam rahim milikmu.
"Sayang ... kamu lagi apa?" tanya Dila seraya merangkul Dion dari belakang.
"Hanya menulis saja, Sayang." Dion menutup buku miliknya lalu menyimpannya di dalam laci. "Kamu sudah minum vitamin serta susu?"
"Sudah barusan," jawab Dila.
"Kamu ada yang mau dimakan? Pengen sesuatu gitu?" tanya Dion. "Aku akan sangat senang jika kamu merepotkan diriku."
Kecupan di pipi Dila berikan. "Belum ada. Cuma sekarang aku ingin tidur."
Dion mengangguk. "Sudah malam dan sudah saatnya kamu untuk istirahat."
Keduanya keluar dari ruang kerja menuju kamar yang berada di lantai bawah. Karena tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak inginkan, Dion mengambil sebuah pencegahan terlebih dulu.
Dila merebahkan kepalanya di atas bantal empuk di mana Dion mengusap puncak kepalanya hingga tertidur pulas.
"Kamu baik-baik di dalam. Jaga mama dan jangan nakal," ucap Dion seraya mengusap lembut perut Dila.
...****************...
"Sayang ... ayo bangun sebentar," bisik Dila dengan menguncang tubuh Dion.
"Apa, Sayang?" tanyanya dengan mata terpejam.
"Ayo bangun," kata Dila.
Dion menguap lebar saking kantuknya. Pria itu bangkit dengan mengosok kedua belah mata. "Ada apa?"
"Bangun saja," kata Dila yang ikut bangun menyandarkan tubuhnya di sisi kepala ranjang.
"Lapar?"
Dila mengeleng. "Enggak tahu mau ngapain."
Dion tercengang. Pria itu mengaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Dion ikut menyandar pada badan sisi tempat tidur.
"Jalan-jalan yuk, Sayang," pinta Dila.
__ADS_1
"Kapan?"
"Sekarang. Aku merasa bosan."
Dion tersenyum. "Ayo ... kamu pakai baju tebal. Aku enggak mau nanti kamu masuk angin."
Meski aneh menurut Dion, tetapi pria itu tetap mengabulkan apa yang istrinya minta. Dion sempat bertanya pada Diki serta Reyhan saat para istri mereka hamil.
Keinginan tidak terduga dari para istri merupakan hal menyenangkan bagi para suami di saat awal-awal kehamilan. Nikmati segala kerepotan tersebut, sebagai tanda jika suami ikut merasakan apa yang istrinya rasakan.
Dila duduk di kursi depan dengan jaket tebal di tubuhnya. Dion sudah siap untuk menyetir. Sifat manja istrinya keluar. Dila merebahkan kepalanya di atas bahu Dion.
"Mau disayang rupanya," celetuk Dion dengan merangkul bahu sang istri.
Mobil dijalankan dengan pelan mengelilingi kota hingga tanpa sadar Dila terlelap di dalam pelukan Dion. Hanya senyuman serta kecupan kening yang pria itu berikan. Tidak ada rasa kesal karena harus bangun di tengah malam demi menyenangkan Dila.
Dengan perlahan Dion membangunkan Dila dari tidurnya. Ia menoel-noel pipi yang sudah terlihat berisi. "Sayang ... sudah sampai. Ayo bangun."
Dila mengerjap lalu membuka matanya perlahan. "Aku tertidur rupanya."
Dion terkekeh. "Mungkin anak kita ingin merasakan jalan-jalan dan tidur di mobil."
"Maaf, Sayang. Tidurmu terganggu."
Keduanya keluar dari dalam mobil. Dila merentangkan tangan yang artinya ia ingin minta digendong. Dengan senang hati pria itu melakukannya. Sifat manja Dila yang begini, membuat Dion menjadi sosok pria dewasa.
...****************...
Waktu demi waktu bergulir dengan cepat. Masa-masa kehamilan, Dila nikmati bersama suaminya tercinta. Tiada keluhan sedikitpun yang terlontar dari bibir Dion selama masa mengidam Dila. Semua permintaannya selalu Dion turuti.
Kebahagian juga tidak lepas dari anak serta mertua yang hamil bersama. Keduanya sering menghabiskan waktu dalam segala hal. Belanja bersama, memeriksakan kandungan, bahkan dalam mendekor kamar bayi yang sebentar lagi akan lahir. Baik Dion serta Reyhan juga semakin kompak.
Menurut dokter, Reyhan punya anak kembar perempuan serta Dion juga punya anak perempuan. Hal itu semakin membuat Dila serta lainnya turut senang.
Bastian bahkan mulai membangun rumah impian untuk cucu perempuannya yang akan lahir. Pria paruh baya itu mengucapkan syukur pada yang Maha Kuasa karena telah mengabulkan permintaannya.
Ada tiga bidadari yang akan lahir ke dunia hingga waktunya tiba. Anna hanya menunggu detik-detik di mana ia akan melakukan operasi caesar, sedang Dila harus tetap sabar menunggu lagi.
Dion menyewa satu perawat untuk menjaga Dila selama ia berada di luar rumah. Faktor umur yang membuat pria itu sangat khawatir. Dila kadang merasa lelah jika harus bergerak dengan aktif, meski hal itu wajar saja terjadi pada ibu hamil.
Segala pernak-pernik bernuansa merah muda menghiasi kedua rumah. Baik rumah Reyhan maupun rumah Dion di dalamnya berubah menjadi rumah ala boneka cantik asal negeri Amerika.
"Kenapa rumah kita jadi sama?" tanya Reyhan.
__ADS_1
"Namanya juga hamil bersamaan. Calon bayi kalian juga perempuan," sahut Diki.
"Aku senang. Nantinya anak-anak kita bisa bermain bersama," sambung Dion.
"Kamu jangan pilih kasih, Rey," celetuk Diki.
Kening Reyhan berkerut. "Aku pilih kasih? Maksudmu apa?"
"Kamu harus menjaga adik serta anakmu," ucap Diki sembari tertawa.
"Dengar tuh, Rey. Sebagai Kakak, kamu harus perhatian," tambah Dion.
Reyhan berdecak kesal. "Senang sekali kalian mengodaku."
Dion memandang Dila yang tengah asik bercengkerama bersama Anna, Maya serta cucunya. Pandangan matanya lekat dan selalu timbul rasa cinta yang besar.
"Istriku kenapa semakin hari, semakin cantik?" gumam Dion. "Semakin jatuh cinta diri ini."
Diki memutar mata malas. "Mulai deh."
"Istriku juga semakin cantik," sahut Reyhan.
"Ketularan Dion kamu, Rey," sahut Diki.
Diki juga tidak mau kalah. Ia memandang Maya dengan tatapan cinta. "Jadi pengen bawa istriku ke kamar."
"Dasar," seru Reyhan serta Dion dengan menoyor kepala sahabatnya.
Ketiga bidadari yang tengah duduk di sofa memperhatikan tiga pria yang asik bercanda. Bukan hanya mereka rupanya gemar tertawa bersama. Para pria pun juga tidak mau kalah.
"Mereka kenapa?" tanya Anna.
"Mereka selalu begitu kalau bertemu," sahut Dila.
"Lucu juga suami kita sahabatan," sambung Maya.
Dila tersenyum memandang anak serta suaminya akur. Teringat Dila akan memori terdahulu saat Dion berkunjung ke rumahnya. Sama seperti saat ia melihat suaminya sekarang. Dion suka bercanda bersama Diki serta Reyhan dan saat itu ia akan membuat cemilan untuk ketiganya. Siapa sangka, sahabat putranya itu, kini menjadi suaminya.
Jodoh tidak ada yang tahu. Bisa itu orang dekat maupun jauh. Hati tidak ada yang tahu ke mana akan berlabuh. Yang pasti semuanya atas ke hendak Sang Pencipta.
Bersambung.
Dukung Author dengan vote, like dan koment.
__ADS_1