MY SWEETIE BOYFRIEND

MY SWEETIE BOYFRIEND
BESARNYA CINTA


__ADS_3

"Silakan menunggu di luar," ucap suster dengan mendorong pelan tubuh Dion yang hendak ikut masuk ke dalam ruang tindakan.


Reyhan menahan kedua lengan sahabatnya itu dan berkata, "Tenang, Dion. Semuanya akan baik-baik saja."


"Aku takut ... kenapa Dila tiba-tiba pingsan?" ucapnya sedih.


Suster menutup pintu ruang tindakan. Dion melepas pegangan tangan Reyhan dan berjalan mondar-mandir sembari mengigit bibir serta mengosok kedua telapak tangan.


"Andai tadi aku mengikutinya ke kamar. Pasti dia tidak akan terluka," ucap Dion.


"Semuanya akan baik-baik saja. Tenanglah sedikit," tukas Diki.


"Bagaimana aku bisa tenang?! Istriku berada di dalam sana. Dia terluka! Keningnya berkucuran noda merah!" seru Dion.


"Setidaknya jangan panik! Kamu malah membuat kami ikut merasakan kepanikan!" tekan Diki.


"Kalian berhenti untuk bertengkar! Kita tunggu dokter dan jangan buat ribut di depan ruangan," tukas Reyhan.


Sejurus keduanya terdiam. Dion duduk di kursi tunggu sembari menunduk dengan kedua tangan memegang kepala.


Suara pintu ruang rawat dibuka mengalihkan perhatian Dion serta lainnya. Dion dan Reyhan menghampiri dokter wanita dengan kacamata yang bertengger di atas hidung.


"Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Dion dengan raut wajah khawatir serta cemas.


"Istri Anda baik-baik saja. Bagian keningnya terluka tidak parah dan sekarang beliau sudah sadar," tutur Dokter.


"Saya bisa menemuinya?" tanya Dion kembali.


Dokter mengangguk. "Tentu, Tuan."


"Terima kasih." Langsung saja Dion masuk ke ruang rawat tanpa menunggu balasan ucapan dari dokter. Pria itu sudah tidak tahan untuk melihat keadaan istri tercintanya.


"Sayang," serunya yang langsung mendekap tubuh Dila.


"Hei ... aku tidak apa-apa. Jangan mengkhawatirkan diriku secara berlebihan," ucap Dila sembari mengusap kepala Dion.


"Tidak khawatir bagaimana? Aku melihatmu tergeletak dengan kening yang terluka." Dion mengusap pelan serta mengecup luka yang diperban.


"Aku merasa pusing tadi. Di usiaku yang seperti ini, wajar hal itu terjadi. Penyakit akan datang dengan seiring waktu tanpa bisa dicegah."


"Tahukan kamu ... betapa duniaku runtuh jika terjadi sesuatu padamu." Dion meraih tangan Dila. Ia usap tangan lembut itu sebelum mendekatkannya ke bibir, lalu mengecupnya.

__ADS_1


"Suamiku ... janganlah kamu mencintai diriku dengan sepenuh hati. Ada saatnya kita terpisah dan aku takut, cinta dalam hati akan membunuhmu," ucap Dila.


Dion tersentak. Matanya memandang lekat sang kekasih. "Istriku ... jika semesta mengambil dirimu lebih dulu dariku, maka aku akan meminta semesta untuk merenggut diriku saat itu juga."


Dila melepas pegangan tangannya dari Dion. Ia menggeleng akan apa yang suaminya ucapkan. Tidak sepantasnya Dion berkata seperti itu. Mencintai boleh saja, tetapi jangan sampai membuat seseorang itu lupa akan siapa yang sesungguhnya dicintai.


"Sayang ... apa kamu marah padaku?" tanya Dion.


"Cintamu sangat besar. Aku takut diriku akan tersiksa atas besarnya rasa cintamu."


"Mana mungkin aku membuatmu tersiksa. Aku akan membahagiakan dirimu dengan segala cinta yang kupunya." Kembali pria itu mengenggam tangan Dila.


"Jika aku tiada ... apa jiwaku sanggup untuk meninggalkanmu? Rasa cintamu terlalu besar dan mungkin jiwa ini tidak akan tenang melepasmu. Jangan siksa aku dengan cintamu."


"Jangan berkata seolah-olah kamu akan pergi meninggalkan diriku," ucap Dion.


"Takdir hidup seseorang tidak ada yang tahu. Bisa hari ini, nanti ataupun esok, aku pergi meninggalkanmu. Mampukah kamu untuk melepasku?" tanya Dila dengan linangan air mata.


Dila baru saja pingsan dan terluka saja, Dion sudah panik. Lalu bagaimana nantinya jika ia benar-benar pergi meninggalkan pria itu untuk selama-lamanya.


"Melepasmu sama saja dengan meruntuhkan dunia dan menghabisi nyawaku. Saat itu tiba, maka aku akan pergi bersamamu," ucap Dion.


"Berilah rasa cintamu hanya kepada-Nya. Sesungguhnya hanya Sang Pencipta yang harus kamu cintai," ucap Dila.


Dion keluar dari ruang rawat dengan wajah sendu. Reyhan serta lainnya tidak habis pikir akan raut yang pria itu tampilkan. Dion melangkah menyusuri lorong rumah sakit tanpa menegur Reyhan dan lainnya.


"Dia kenapa?" tanya Diki heran.


"Jangan menganggunya dulu. Aku rasa mereka bertengkar. Biar aku masuk ke dalam," ucap Reyhan.


Anna, Maya dan Diki mempersilakan Reyhan untuk masuk sendirian. Diki pergi mengikuti langkah Dion. Pria itu takut sahabatnya kenapa-kenapa. Diki hanya akan melihat Dion dari kejauhan saja.


"Apa Mama merasa baikkan?" tanya Reyhan yang duduk di kursi samping brangkar pasien.


"Mama baik-baik saja. Hanya sedikit nyeri di kepala," jawab Dila.


"Mama tahu ... Dion sangat panik dan menangis karena Mama pingsan," ungkap Reyhan yang sedikit merasa kesal saat melihat tingkah Dion.


"Sayang ... maukah kamu mengabulkan permintaan Mama?" tanya Dila.


"Apa yang Mama mau, pasti akan Reyhan kabulkan."

__ADS_1


Dila tersenyum. "Carikan wanita untuk papamu."


Reyhan terkesiap. "Mama mulai lagi."


Dila mengeleng. "Saat takdir yang mengharuskan Mama untuk kembali, carikan pengganti untuk Dion. Wanita yang bisa mengalihkan seluruh rasa cintanya pada Mama."


"Jangan bicara seperti itu, Ma. Semuanya akan baik-baik saja."


"Hanya itu pesan Mama, Rey. Saat waktunya tiba ... carikan ibu bagi Delilah dan istri bagi Dion," ucap Dila.


Reyhan mengangguk tanpa menjawab ucapan Dila. Biarlah Dila menganggap anggukkan kepalanya itu sebagai tanda ia menyetujui permintaan sang mama.


"Mama istirahatlah. Kami tidak akan menganggu dulu," kata Reyhan.


Dila mengiyakan permintaan Reyhan. Mata terpejam hingga beberapa saat terdengar napas yang teratur. Reyhan keluar dari ruang rawat.


"Bagaimana mama?" tanya Anna.


"Mama sudah tertidur," jawab Reyhan. "Diki kemana?"


"Menyusul papa Dion," jawab Maya.


"Kalian berdua jaga mama. Aku akan pergi menyusul mereka berdua."


Keduanya mengiyakan dan membiarkan Reyhan pergi menyusul Dion serta Diki, meski dalam benak keduanya timbul rasa penasaran.


"Ada apa, Dik?" tanya Reyhan yang telah bertemu Diki di taman rumah sakit.


"Lihat Dion. Kenapa dia menjadi murung?" tanya Diki yang tidak habis pikir.


"Biarkan saja dulu. Nanti juga dia bakal ceria lagi. Mamaku baik-baik saja," jawab Reyhan.


Diki menghela. "Lalu apa yang menyebabkan dia seperti itu? Padahal mama Dila baik-baik saja."


Sedari tadi Diki memperhatikan sahabatnya yang duduk melamun di bangku taman. Ia ingin sekali bertanya ada apa gerangan yang menyebabkan wajah ceria itu bermuram durja.


Namun, langkah kakinya terasa berat. Diki enggan untuk ke sana; karena sudah pasti Dion dalam keadaan ingin menyendiri.


Reyhan memandang lekat Dion yang duduk di bangku dengan memperhatikan bunga-bunga di dalam pot. Ia mengerti mengapa Dion sampai seperti itu. Pasti Dila berbicara seperti apa yang wanita itu sampaikan padanya.


"Seberapa besar cintanya pada mama?" gumam Reyhan.

__ADS_1


Bersambung.


Dukung Author dengan vote, like dan koment.


__ADS_2