MY SWEETIE BOYFRIEND

MY SWEETIE BOYFRIEND
PESAN TERAKHIR


__ADS_3

Sesuai janji Dion kepada Delilah. Keduanya bersama-sama melakukan kegiatan saat Dila masih berada bersama mereka. Memasak makanan kesukaan, menanam bunga, berolahraga bersama. Semua yang dilakukan Dila semasa hidup, juga dilakukan Dion dan Delilah.


"Mamamu senang sekali dengan tanaman. Di rumah mama dulu ada banyak bunga buat pameran. Kamu tahu, kakakmu pernah mencuri tanaman langka untuk menyogok kakek Hendra," ucap Dion.


"Yang benar, Pa? Untuk apa?" Delilah merasa tidak percaya.


Dion mengangguk, "Untuk mendapatkan tante Anna. Kamu tahu, siapa yang menyuruhnya?"


"Pasti om Diki."


Dion tertawa, "Memang benar. Om Diki yang menyuruh kakakmu."


"Ya ... tidak heran," jawab Delilah sembari memasukkan tanah bakar ke dalam pot. Siapa yang tidak kenal sifat jahil sahabat Dion yang satu itu. Ada-ada saja saran yang membuat sahabatnya berada dalam masalah.


"Sayang!"


Delilah mengalihkan pandangan dari pot menatap Dion. "Ya."


"Ingat kata Papa. Kamu tidak sendirian. Ada banyak orang yang menyayangimu," kata Dion.


Delilah tersenyum, "Ya ... Delilah tahu itu."


Satu kecupan Dion berikan di kening putrinya. Delilah sangat menikmati kebersamaan bersama papanya. Melakukan hal yang dulu ibunya sukai, mengingatkannya pada kenangan indah.


"Besok lusa kita jadi ke Inggris?" tanya Delilah.


"Jadi, dong. Kita liburan bersama," jawab Dion.


...****************...


Hari yang dinantikan pun tiba. Dion dan Delilah berlibur bersama ke Inggris. Keduanya menginap di apartemen Dila yang dulu. Apartemen yang sampai kapan pun tidak akan dijual oleh Dion.


"Masih terasa kehadiranmu di sini, Dila." Dion menghirup aroma gaun tidur yang tertinggal di lemari. Gaun tidur saat mereka bulan madu memang ditinggal. Foto-foto kebersamaan keduanya selama di Inggris juga ditinggal.


"Papa!" seru Delilah.


Bergegas Dion memasukkan gaun tidur serta foto ke dalam lemari. "Ya ... ada apa, Sayang?"


"Kita jalan-jalan, yuk. Delilah mau lihat london eye."


"Bukannya sudah pernah lihat," kata Dion.


"Ya ... mau lihat lagi."

__ADS_1


"Pakai jaketmu. Kita berangkat sekarang," ucap Dion.


"Siap!" Delilah tertawa sembari memakai jaket kulit serta sepatu boot hitam di kakinya. Dion tersenyum melihat Delilah karena yang dikenakan oleh putrinya, adalah pakaian lama Dila.


"Lihat, Sayang. Putri kita sudah dewasa. Aku harap ada pria yang akan menyayangi dan mencintai dirinya," gumam Dion.


...****************...


Jika diperhatikan lagi, Dion dan Delilah seperti bukan anak dan ayah. Mereka seperti sepasang kekasih yang tengah berkencan. Delilah memakai sepatu boot hitam berhak tahu. Rambutnya dikucir kuda. Jaket kulit hitam melekat sempurna yang menandakan ia terlihat berumur dua puluh tahunan.


"Tumben sekali kamu berpenampilan seperti ini. Biasa pakai dress," kata Dion.


"Lihat kondisi, dong, Pa. Masa pakai dress. Nanti dibilang anak kecil lagi," jawab Delilah.


Kening Dion berkerut. "Kamu belum tujuh belas tahun, Delilah."


"Cuma di luar negeri saja. Siapa tahu dapat kenalan di sini." Delilah menyengir mengucapkannya.


Dion geleng-geleng kepala. "Anak zaman sekarang pada canggih semua. Ingat, Sayang. Jaga diri."


"Iya, Papaku, Sayang."


Senyum bahagia terpancar jelas di bibir Delilah. Tiada henti bibirnya itu mengoceh. Dion sampai kewalahan meladeninya. Belum lagi permintaan Delilah yang memintanya untuk menari di salah satu aplikasi viral.


"Orang tua dikerjain begini," kata Dion.


"Coba lihat komentarnya," pinta Dion.


Delilah memberikan ponsel miliknya, lalu Dion membaca komentar para pengikut di akun milik putrinya.


"Kita buat video balasan. Bilang kalau Papa cuma milik mama," kata Dion.


Delilah tertawa, "Papa suka juga akhirnya."


"Sayang ... sini, Papa foto."


Delilah langsung berpose dan Dion memotretnya. Tersenyum, dalam keadaan wajah cemberut, semua diekspresikan di depan kamera.


"Kalau terjadi apa-apa dengan Papa, kamu jangan sedih, ya?" ucap Dion.


"Kenapa?"


Dion mengecup ubun-ubun Delilah. "Papa dan mama sayang Delilah. Sampai kapanpun itu. Jangan bilang kalau papa dan mama pergi karena tidak sayang."

__ADS_1


"Iya, Delilah tahu, kok," jawab anak itu.


"Anak pintar. Kamu harus nurut sama kakek dan kakak. Belajarnya juga yang rajin. Oh, ya, anak gadis jangan keluyuran malam-malam. Apa Papa harus siapkan pengawal seperti Kiano?" kata Dion.


"Enggak mau. Biarkan Delilah seperti anak lain. Lagian Papa mau ke mana, sih? Ajak Delilah juga kalau mau pergi."


Dion tersenyum. "Papa tidak ke mana-mana. Papa akan selalu ada bersama kamu, Sayang."


Keduanya duduk di bangku dengan memandang london eye yang berputar di atas Sungai Thames.


...****************...


Setelah dari liburan bersama, Dion memutuskan untuk benar-benar pensiun dari pekerjaan. Andi diangkat sebagai CEO di perusahaan miliknya.


Hari-hari Dion habiskan di rumah. Sebisa mungkin ia sendiri yang melayani Delilah, dalam istilah dirinya yang menjadi pengganti Dila. Hal yang tidak pernah ia lakukan, akhirnya ia lakukan seperti menyisir rambut putrinya sendiri.


Dion juga lebih sering mengajak cucu-cucunya berkumpul bersama. Kiano, Ayyana dan Anthea disuruh menginap di rumah. Dua sahabat dan menantunya pun ikut kumpul bersama. Anna dan Reyhan bahkan sudah pindah rumah karena permintaan Dion yang menginginkan mereka tinggal.


"Sarapan untuk Papa," ucap Anna.


"Aku sangat terharu kamu menyebutku Papa. Tidak seperti Reyhan ... menyebutku Papa hanya di depan Dila," ucap Dion.


"Tapi kamu harusnya sudah senang, kalau aku pernah menyebutmu Papa," sahut Reyhan.


"Mulai hari ini kamu harus memanggilku Papa, Rey."


Reyhan mendengus, "Baiklah. Aku akan memanggilmu Papa."


"Kalian bicara terus. Kapan sarapannya?" ucap Bastian.


"Papa makanannya dijaga. Kolesterol tinggi begitu," kata Dion.


"Ya ampun. Rasanya Papa jadi kambing saja. Setiap hari kamu menyuruhku makan sehat, tetapi tetap saja kolesterolku ini tidak turun. Namanya orang tua, sudah uzur," tutur Bastian.


Anna dan Reyhan tertawa mendengarnya. "Makan saja apa yang ingin Om makan. Jangan ditahan-tahan," kata Rey.


"Kakek harap di antara kalian berempat, ada yang menjadi dokter," ucap Dion pada Delilah, Kiano, Ayyana dan Anthea.


"Siap, Kakek, Papa," sahut keempatnya.


Selesai sarapan pagi bersama. Dion kembali ke kamarnya. Ia meraih kotak berisi foto-foto keluarga. Ia gunting foto itu, lalu menempelkannya ke dalam sebuah album dan menuliskan pesan di sana.


"Album ini akan menjadi hadiah ulang tahun Delilah yang keenam belas. Aku akan siapkan semuanya, meski waktunya masih lama," gumam Dion.

__ADS_1


Bersambung.


Dukung Author dengan vote, like dan koment.


__ADS_2