MY SWEETIE BOYFRIEND

MY SWEETIE BOYFRIEND
LABRAK


__ADS_3

Suara bel pintu berbunyi. Nilam melirik jam di dinding yang masih menunjukkan waktu tujuh pagi. Pagi-pagi sudah ada yang bertandang ke apartemen baru yang semalam ia tempati. Ya, apartemen bekas yang Dion berikan atas kebaikan hatinya.


Keningnya berkerut merasa heran dengan bel yang terus saja berdering. Nalar berpikir, mungkin itu tetangga sebelah yang ingin berkenalan? Tetapi rasanya tidak mungkin; sebab Nilam datang pada malam hari, dan pada saat itu, penghuni apartemen lain tidak ada yang melihat.


Menjawab rasa penasaran dari nalarnya. Ia pun melangkah ke depan, memutar kunci, lalu membuka pintu. Sebuah senyuman manis terukir pada tamu yang tidak disangka-sangka kedatangannya. Seorang wanita berumur yang masih kelihatan awet muda, bertamu ke tempatnya pagi-pagi.


"Tante Dila!"


"Hai, apa aku boleh masuk?" tanya Dila.


"Ma- masuklah, Tan," jawab Nilam gugup sembari mempersilakan.


Dila masuk dengan mata memperhatikan sekitar ruangan. Tidak ada barang-barang Nilam, sebab perlengkapan rumah di apartemen Dion sudah lengkap, meski tidak mewah seperti apartemen orang berada.


Nilam merasa heran mengapa Dila bisa berkunjung ke apartemen miliknya. Apakah penjaga tidak menghalangi wanita berumur itu untuk naik ke lantai atas? Apartemen yang Dion berikan berada di lantai lima.


"Kamu heran, kenapa aku bisa sampai ke apartemen milikmu?" tanya Dila.


Nilam tersentak karena Dila seolah tahu pikirannya yang heran itu. Ia hanya diam tidak menjawab.


"Pemilik awalnya masih Dion. Jadi, aku menjual nama suamiku untuk naik ke lantai atas ini." kata Dila.


Apertemen terlihat sepi. Tidak ada tanda-tanda kehadiran putra Nilam. "Di mana putramu?"


"Sudah pergi sekolah," ucap Nilam sembari menutup pintu.


Dila menganggukkan kepala, lalu menatap Nilam. "Baguslah." Ia mendekat pada Nilam, dan mengulurkan tangan, mengusap lembut pipi dari wanita itu. "Kamu cantik, Nilam."


Nilam menghindar, mundur selangkah dari hadapan Dila. "Tante kenapa?"


Dila tersenyum, tetapi senyum itu menyiratkan suatu hal. Sinis, seperti menganggap remeh musuh, "Apa aku berbeda dari biasanya?"


"Ti-tidak," jawab Nilam yang sedikit takut akan perilaku Dila.


"Mendekatlah, Nak. Aku tidak akan menyakitimu."

__ADS_1


"Di sini saja, Tante," kata Nilam. "Tante duduklah, aku akan sediakan minuman."


"Tidak perlu repot. Aku hanya sebentar."


Dila berjalan-jalan melihat ruangan apartemen. Ada dua kamar, dapur serta balkon. Mobil yang dijanjikan Dion juga akan datang pagi ini, dan Dila tahu akan itu.


"Kamu suka apartemennya?" tanya Dila.


"Suka, Tante," jawab Nilam cepat.


"Suamiku sudah memberi apartemen, mobil, juga membantumu menghadapi mantan suamimu yang gila itu." Dila seperti mengejek. "Oh, aku juga ikut prihatin terhadap putramu yang pendiam itu. Jangan sampai perilakunya terbawa-bawa masa lalu orangtuanya."


"Tante, aku tidak akan membiarkan putraku menderita."


Dila tertawa, "Menderita? Kamu justru tengah membawanya ke lubang itu. Ah, apa kamu perlu bantuan lagi? Dengan senang hati aku akan membantu." Tatapan Dila berbeda. Ada rasa benci di dalam matanya. "Kamu hanya perlu bantuan Dion saja, kan?"


Bukan Dila tidak melihat gelagat putra Nilam yang seakan jijik akan perilaku ibunya. Anak lelaki itu hanya diam tanpa menegur. Hanya tatapan matanya saja yang menyiratkan rasa tidak suka.


"Sedari tadi aku tidak mengerti dengan apa yang Tante bicarakan," kata Nilam.


Dila mendekat, lalu menjepit kedua pipi Nilam dengan tangannya. "Dengar, Nilam. Kamu meremehkanku rupanya. Diam saja bukan berarti aku tunduk akan perilakumu!"


Dila melepas kasar tangannya, lalu menunjuk wajah wanita itu. "Kamu pikir aku tidak tahu gelagatmu itu! Berani sekali kami berniat menggoda suamiku!"


Nilam tersentak, "Aku tidak berniat begitu, Tante!"


"Jangan menyangkalnya! Kamu pikir dengan umurku yang sudah tidak lagi muda, kamu bisa membodohiku! Dengar, Nilam. Suamiku memberimu sumbangan agar kamu tidak lagi meminta bantuan kami!"


Nilam menjatuhkan diri di lantai. "Maafkan aku, Tante! Aku memang tidak tahu diri."


"Ini peringatan untukmu! Sekali lagi kamu mengulanginya, tamat riwayatmu!" kata Dila, lalu melangkah keluar dari apartemen.


Dila menarik napas panjang setelah meluapkan kekesalan yang ia tampung selama Nilam berdiam diri di rumahnya. Hati siapa yang tidak dongkol jika melihat wanita lain bersikap manja, dan mencuri perhatian seperti itu.


Dengan diamnya Dila, malah membuat sikap Nilam menjadi-jadi. Apa Nilam mengira Dila patung? Sampai keberadaannya pun malah diabaikan oleh wanita itu.

__ADS_1


Awalnya Dila iba melihat kondisi Nilam. Wanita itu juga terlihat lembut, dan juga perhatian. Namun sayang, Nilam punya Suami yang sering memukul. Putranya juga pendiam. Mungkin karena trauma. Hanya saat bersama Delilah saja, putra Nilam itu berinteraksi.


Dila berpikir, mungkin dengan seiring waktu Nilam bisa mengantikan posisinya ketika takdir sudah memanggil. Namun, Dila masih hidup saja, Nilam sudah berniat untuk merebut suaminya. Bukankah sifat itu tidak baik?


"Apa aku keterlaluan pada Nilam?" gumam Dila yang kini telah berada di dalam mobil. "Itu hanya sebuah pelajaran. Semoga dia menyadari kesalahannya."


Dila memang berniat datang ke apartemen Dion untuk memberi pelajaran pada Nilam. Sangat sayang jika rasa dongkol dalam benaknya tidak diluapkan pada sumber si pembuat masalah. Itu sebab pagi-pagi sekali ia mendatangi apartemen Nilam.


...****************...


"Wanita tua itu! Benar-benar membuatku marah! Kenapa Dion malah cinta mati kepada mama Dila? Aku bahkan lebih cantik, dan muda," murka Nilam.


Nilam mengira dengan sikap perhatian Dion itu, adalah bentuk ketertarikan padanya. Ia mendekati pria itu, dan tidak ada penolakkan sedikitpun.


Celah itu Nilam manfaatkan dengan sebaik mungkin. Dila juga terlihat mengabaikan tingkahnya. Nilam berpikir, mungkin itu sebuah peluang yang Dila sendiri ciptakan.


Namun, Nilam tidak menyadari jika dirinya, adalah tamu. Bukan bersikap layaknya pendatang, tetapi malah bersikap layaknya nyonya rumah.


Ia tersinggung saat Dion secara terang-terangan mengusirnya dari rumah. Nilam mengerti mengapa Dion memberikan apartemen, dan juga mobil untuknya.


Semua itu merupakan bentuk rasa tidak nyaman Dion yang mengusirnya malam itu juga. Agar ia tidak memelas, beralasan di mana akan tinggal, dan sebagainya. Sebuah pemikiran jauh demi satu tujuan.


Nilam tidak menyadari satu hal. Bagi Dion, cintanya pada Dila bukanlah karena semata-mata penampilan fisik, dan napsu belaka.


Cinta Dion lebih dari itu. Jiwa, dan raganya ia persembahkan pada Dila seorang. Hanya kepada Dila, dan tidak ada wanita manapun yang dapat menembus kekuatan cintanya itu.


Kau bagai mentari ketika aku membuka mata di waktu pagi.


Kau mimpi indah tidurku ketika aku memejamkan mata di waktu malam.


kau napasku, canduku, jiwaku.


Siapakah gerangan dirimu? Sampai membuatku tergila-gila.


Kau bagai racun yang mengaliri darahku atas nama cinta.

__ADS_1


Bersambung.


Dukung Author dengan vote, like, dan koment.


__ADS_2