
"Delilah pulang, Pa!" serunya.
"Kamu dari mana? Sore baru pulang," ucap Dion yang mulai curiga akan aktivitas dari putrinya.
"Delilah baru pulang dari les privat, Pa," jawabnya. "Mama mana?"
"Di taman. Kamu temani dulu mamamu di sana."
"Oke, Delilah ganti baju dulu."
Delilah sedikit berlari menuju ke kamarnya. Dion serta Andi yang masih membahas pekerjaan di ruang tamu, hanya memperhatikan anak gadis itu.
"Tidak terasa putriku sudah remaja. Pasti banyak pria yang mengincarnya. Aku harus mencari pendamping untuk melindunginya. Bagaimana menurutmu, An?" tanya Dion.
"Pendamping? Maksudnya suami?" Andy tidak mengerti.
"Pengawal, Andi! Masa suami."
"Kirain, Tuan. Kalau suami saya mau daftar," kelakar Andi.
"Apa?!" Dion menatap tajam asistennya itu.
"Eh, bercanda, kok." Andi memaksakan senyum.
Dion mendengus, "Ayo, kita lanjutkan lagi pembahasannya."
Hampir saja aku kehilangan pekerjaan. Memang Delilah sangat cantik. Jiwa jomloku meronta melihatnya.
"Bi Sari, mama masih ada di taman?" tanya Delilah saat berpapasan pada Sari yang tengah menata makanan di atas meja makan.
"Bi Sari belum lagi lihat. Sibuk masak tadi. Coba, deh, Bibi lihat lagi."
"Biar Delilah saja, Bi," ucapnya.
Sari mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Delilah berjalan menuju taman belakang.
"Mana mama? Kok, enggak ada di taman? Tadi kata papa ada di taman. Mungkin di kamar," gumam Delilah, dan segera menuju kamar orangtuanya.
Dion dan juga Andi masih duduk setia membahas pekerjaan. Tadinya Dion ingin menjadikan Diki sebagai CEO di perusahaan miliknya, tetapi sahabatnya itu sudah menjadi milik Reyhan. Rencana Andi yang akan dijadikan CEO karena memang pria itu yang sekarang menjalankan perusahaan.
Beberapa kali Delilah mengetuk pintu serta memanggil mamanya, tetapi masih saja tidak ada jawaban. Terpaksa Delilah membuka pintu kamar, dan masuk ke dalam. Ia lihat Dila yang tengah terlelap nyenyak.
"Mama tidur rupanya," kata Delilah sembari mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang. "Mama, ini sudah sore. Ayo bangun." Delilah mengusap lembut puncak kepala ibunya.
Gadis remaja itu juga mengusap pipi Dila agar ibunya bangun karena memang hari sudah sore, dan tidak baik untuk tidur.
Dila mengerjap karena sentuhan dari tangan halus putrinya. "Sayang, ada apa?"
"Mama nyenyak tidurnya."
"Tadi kepala Mama pusing, terus minum obat. Jadinya tertidur. Ini saja masih mengantuk," kata Dila.
__ADS_1
"Delilah ganggu Mama, dong?"
"Bagus kamu bangunkan Mama. Ini sudah sangat sore," kata Dila.
"Kenapa Mama sering sakit kepala? Apa dokter tidak bisa menyembuhkan Mama?" tanya Delilah.
Dila tersenyum, "Jangan dipikirkan. Oh, ya, tumben sekali kamu kemari. Biasanya ada saja yang kamu kerjakan."
"Kangen Mama saja," ucap anak gadis itu.
Delilah menjatuhkan kepalanya di bagian atas tubuh ibunya, dan Dila mengusap lembut rambut putrinya. Dion langsung masuk ke dalam kamar karena pintu tidak ditutup oleh Delilah tadi. Urusannya bersama Andi telah selesai, dan asistennya itu sudah pulang.
"Lagi ada acara apa ini? Ibu dan anak saling berpelukan," ucap Dion yang merangkak naik ke tempat tidur.
Delilah menarik diri, "Malam ini Delilah tidur sama papa dan mama, ya?"
"Tidak boleh. Sempit tempat tidurnya," tolak Dion yang ikutan memeluk Dila.
Wajah Delilah cemberut, "Lihat, Ma. Delilah tidak boleh dekat sama Mama."
"Ayo sini! Kamu di tengah." Dila menepuk bagian yang sekarang dimonopoli Dion.
Delilah berseru dan langsung naik ke atas tempat tidur. Gadis itu menyelip di antara Dion dan Dila.
"Sempit, Sayang.
"Papa geseran dikit sana." Delilah mendorong tubuh Dion agar menjauh.
"Papa enggak bisa memeluk Mama kalau jauh."
"Delilah enggak bisa napas kalau begini," ucapnya kesal.
"Biarin," kata Dion.
"Papa, Mama!"
Dion dan Dila mengecup pipi putrinya secara bersamaan. "Selamat ulang tahun, Delilah!"
"Ini kan, masih sore. Belum juga pukul dua belas malam."
Dila dan Dion tertawa, "Mama sama Papa enggak mau keduluan sama pacar kamu."
"Delilah enggak punya pacarrr!"
Kembali sepasang suami istri itu tertawa, dan memeluk putri mereka dengan kasih sayang. "Delilah sayang kalian."
"Kami juga," ucap Dila dan Dion.
...****************...
Pesta ulang tahun Delilah akhirnya digelar di rumah. Seperti kemauannya, pesta itu terkesan sederhana. Tidak ada musik ataupun lampu-lampu yang menghiasi rumah. Tamu yang hadir hanya sepuluh orang, dan itu juga teman akrab Delilah. Selebihnya hanya kumpul keluarga bersama.
__ADS_1
Selesai acara tiup lilin, gadis remaja itu berkumpul saling berbagi cerita. Teman yang diundang Delilah perempuan semua, sedangkan Kiano yang ikut datang sudah menjauhkan diri dari kumpulan para gadis.
"Wajah Mama pucat. Apa Mama sudah kembali memeriksakan diri?" tanya Anna.
"Mamamu selalu mengeluh sakit kepala. Papa sudah membujuk untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, tetapi Mamamu tidak mau," tutur Dion.
"Aku juga sering begitu, Dil. Mungkin karena sudah tua," sahut Hendra.
"Aku harus hidup sehat. Jantungku tidak sehat," ucap Bastian.
"Meski kita sudah sebisa mungkin mencegah, kalau mau sakit tetap saja sakit," tambah Ria, ibunda Anna.
"Kenapa jadi bahas umur, sih?" celetuk Diki. "Jadi berasa tua."
"Kita memang sudah tua, Dik," sahut Reyhan.
Dila hanya tersenyum saja mendengar celotehan dari besan, mertua serta anak-anaknya. Kembali ia merasakan pusing yang amat sangat. Ia mengenggam tangan Dion dengan erat.
"Sakit lagi kepalanya?" Dion memegang kepala Dila.
"Besok bawa ke dokter saja," kata Reyhan.
"Iya, tolong kamu buatkan janji dengan dokter supaya cepat dapat nomor antri," pinta Dion.
Reyhan mengangguk, "Iya. Kamu bawa mama masuk saja."
Suara Dion, Reyhan serta lainnya terdengar semakin menjauh dari pendengaran Dila. Penglihatannya mulai kabur, dan tidak lama gelap hingga Dila tidak sadarkan diri.
"Dila!" Dion menguncang tubuh istrinya. "Hei, bangun!" Dion menepuk pipi Dila. Kepanikkan mulai mendera dirinya. "Bangun!"
"Mamaaa!"
"Dilaaaa!"
"Cepat bawa ke rumah sakit," kata Bastian.
"Apa yang terjadi?" Dion memeluk istrinya dengan erat.
"Tenang! Jangan panik," kata Rey.
Dion bergegas mengendong tubuh Dila keluar rumah, menuju mobil yang pintunya sudah dibuka oleh Diki.
"Kalian urus di sini. Kami pergi dulu," kata Reyhan yang langsung mengemudikan mobil keluar dari gerbang rumah.
"Kalian susul Rey. Anak-anak biar kami yang urus," kata Hendra kepada Diki dan Anna.
Keduanya mengangguk, lalu ikut menyusul Reyhan. Maya serta lainnya mengurus teman sekolah Delilah yang masing berada di rumah.
Delilah yang melihat ibunya dibopong masuk ke dalam mobil sudah menangis. Bastian berusaha untuk menenangkan cucunya itu.
"Cepatlah, Rey!" Dion sudah menangis karena istrinya tidak sadarkan diri. "Dila, bangun. Aku di sini."
__ADS_1
Bersambung.
Dukung Author dengan vote, like, dan koment.