MY SWEETIE BOYFRIEND

MY SWEETIE BOYFRIEND
ARDILA


__ADS_3

Sebulan sudah Dion seperti pria yang kehilangan kesadarannya. Bastian membiarkan putranya melakukan apa pun yang Dion inginkan. Mau bermalam di makam juga tidak masalah bagi Bastian. Diingatkan berkali-kali juga tidak didengar.


Cinta, apa itu cinta? Sebuah penyakit, kah? Hingga membuat anak adam seperti hilang akal. Kehilangan seorang istri begitu membuatnya terpuruk. Berbagai nasihat yang diberikan, tetapi tidak membuahkan hasil. Dion masih terlena akan kesedihan.


Tubuhnya secara mendadak menjadi kurus. Matanya cekung karena kurangnya tidur. Rambut yang biasa tertata rapi, kini berantakan. Tubuh yang biasanya wangi berganti dengan aroma tidak sedap. Ya ... Dion tidak lagi memperdulikan penampilannya.


Dion berhenti melangkah menuju kamar. Ia dengar suara tangisan. Waktu menunjukan pukul satu malam. Suara tangisan itu terdengar hingga ia sampai di depan kamar Delilah yang pintunya tidak tertutup rapat.


"Delilah," kata Dion yang langsung masuk ke dalam kamar.


"Papa pergilah. Biarkan Delilah sendiri," jawab gadis itu.


"Apa yang terjadi, Nak?"


"Seharusnya Delilah yang tanya. Apa yang terjadi pada Papa? Di mana Papa Delilah?" ucap anak gadis itu.


Dion tersentak, "Sayang!"


"Papa keluar saja dari kamar. Tidak usah pedulikan Delilah. Papa pergi saja," isak anak itu.


"Maafkan Papa, Sayang." Dion langsung memeluk putrinya. Apa yang telah aku lakukan? Aku melupakan putri semata wayangku.


Delilah menangis dengan memeluk Dion. Aroma tanah, keringat, tidak menghalangi rasa rindunya terhadap sang ayah.


"Kembalilah, Pa. Delilah rindu," ucapnya.


Dion mengangguk, "Iya, Sayang. Papa di sini."


Kesadaran datang pada Dion. Sebulan ini ia terlarut dalam kesedihan. Bukan hanya ia seorang yang sedih akan kehilangan Dila, tetapi keluarganya juga terpukul. Terlebih bagi Delilah. Seharusnya Dion menjadi tempat bersandar bagi putrinya, dan bukannya tenggelam dalam lautan kesedihan.


Dion menguyur tubuhnya di bawah air shower yang dingin. Selama ini apa yang telah ia perbuat. Berdiam di makam menemani istrinya yang telah terkubur. Menangisi wanita yang tidak akan pernah kembali.


...****************...


Langit cerah menjadi awal baru menjalani aktivitas. Dion sudah berada di ruang makan menunggu putri dan papanya. Bila hari sebelumnya, Dion akan pergi waktu pagi, kali ini tidak.


"Papa!" seru Delilah.


"Ayo, Nak. Kita sarapan bersama," ajak Dion.


Pagi ini pun penampilan Dion jauh lebih baik. Rambutnya tersisir rapi. Aroma tubuhnya wangi. Hanya tubuh dan matanya yang tidak dapat diubah secara singkat.


"Biar Papa antar kamu ke sekolah."


"Benarkah?" kata Delilah.

__ADS_1


"Tentu saja," ucap Dion.


Selesai sarapan berdua, Dion mengantar putrinya ke sekolah. Bastian yang baru keluar dari kamar melihat pemandangan itu. Kaget ... sudah pasti. Tiba-tiba Dion berubah dalam sekejap.


"Semoga putraku dapat melupakan kesedihannya," ucap Bastian.


Di dalam perjalanan ke sekolah, tiada henti Delilah menceritakan kegiatannya selama sebulan ini. Mendengar kisah Delilah, teringat Dion kenangannya bersama Dila.


"Sudah sampai. Apa kamu mau Papa antar sampai ke depan gerbang?" tanya Dion.


Delilah mengeleng, "Tidak mau. Biar Delilah turun di sini saja." Satu kecupan gadis itu berikan kepada Dion, lalu keluar dari dalam mobil.


"Pagi ini dia kelihatan senang. Aku bersalah karena mengabaikannya," gumam Dion.


...****************...


Perubahan memang terjadi, tetapi mengunjungi makam Dila setiap hari tetap menjadi kegiatan yang tidak terlewatkan. Selepas mengantar Delilah ke sekolah, Dion akan ke kantor. Pada jam makan siang, pria itu akan mengunjungi makam untuk sekadar memberi bunga dan juga doa.


Malamnya Dion akan menghabiskan waktu bersama putrinya, lalu menulis sesuai dengan apa yang ia sukai. Senyum yang selalu terpancar dari bibirnya sangat susah untuk dilihat. Meski begitu, sudah cukup baik dari pada awal-awal Dion kehilangan Dila.


"Apa hari ini Papa akan ke makam?" tanya Delilah.


Dion mengangguk, "Iya ... ini hari minggu. Papa akan pergi pagi."


"Iya, pergilah. Petik bunga anggrek," kata Dion.


Delilah bergegas memetik bunga anggrek yang berada di taman belakang rumah mereka. Jika bunga di belakang rumah habis, maka Dion akan membeli bunga dari luar.


"Anggrek masih ada tiga pot yang berbunga. Yang lainnya habis. Sepertinya aku harus rajin berkebun saat weekend," gumam Delilah.


"Delilahhh! Apa sudah selesai memetiknya?" tanya Dion.


"Sudah," jawab gadis itu yang bergegas menghampiri papanya. "Ayo kita berangkat."


...****************...


"Kenapa bisa bocor ban mobilnya?"


"Ada apa, Nona?" tanya pria tukang bersih-bersih kuburan yang wanita itu sewa.


"Ban mobilnya bocor. Aku harus menunggu tukang bengkel kemari." Mata wanita itu memandang Dion dan Delilah yang masih berada di makam. "Pak, kenapa setiap saya ke sini, pria itu selalu ada? Apa dia setiap hari ke makam?"


Tukang bersih itu melihat Dion. "Oh, memang tuan Dion setiap hari ke sini. Istrinya baru meninggal. Saya juga setiap hari membersihkan makam istrinya."


Wanita itu mengangguk, "Sepertinya dia sangat mencintai istrinya."

__ADS_1


Dion dan Delilah selesai memberikan doa bagi Dila di sana.


"Mama yang tenang di sana. Delilah dan Papa akan baik-baik saja," ucapnya.


Dion mengusap puncak kepala putrinya. "Mama sudah tenang berada di sana, Sayang. Sekarang kita pulang, yuk!"


Keduanya beranjak keluar dari makam. Mata Delilah memandang seorang wanita seumuran Anna tengah kesusahan karena ban mobil milik wanita itu bocor.


"Ban mobil Tante bocor?" kata Delilah.


Wanita itu tersenyum. "Iya .... "


"Apa kamu punya ban cadangan?" tanya Dion.


"Ya ... aku punya, tetapi aku tidak bisa memasangnya."


"Biar aku bantu," kata Dion.


"Saya sangat berterima kasih kalau Anda bersedia." Wanita itu membuka bagasi, lalu Dion mengambil ban cadangan. Untungnya di dalam mobil sendiri, Dion selalu membawa peralatan menganti ban.


Tiga puluh menit Dion selesai menganti ban mobil. Ia menaruh ban yang bocor itu ke dalam bagasi, lalu membereskan peralatan yang ada.


"Sudah selesai," kata Dion, "kamu bisa pulang."


"Terima kasih banyak, Tuan. Kenalkan ... nama saya Ardila. Tuan bisa panggil saya Dila."


"Sama-sama Nona Ar. Saya permisi kalau begitu." Dion memanggil putrinya yang berteduh di bawah pohon. "Delilah ... ayo kita pulang."


Delilah melambaikan tangan kepada wanita itu, lalu masuk ke dalam mobil. Dion menghidupkan mesin, lalu berlalu dari sana.


"Astaga! Pria itu ... tersenyum saja tidak."


...****************...


"Pa ... nama tante tadi sama seperti mama," kata Delilah.


"Namanya saja yang sama. Orangnya tidak," jawab Dion.


"Sepertinya dia baik. Kami bertukar nomor ponsel. Tante itu bilang dia punya salon." Delilah memang sempat berbincang-bincang pada Ardila saat Dion menganti ban mobil. "Tante itu ke makam karena suaminya sudah meninggal. Katanya sudah dua tahun yang lalu."


"Delilah ... apa kamu ingin jadi wartawan? Masa hidup orang ditanya-tanya," kata Dion.


Delilah menyengir, "Kan, tante itu yang bagi tahu."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2