MY SWEETIE BOYFRIEND

MY SWEETIE BOYFRIEND
BENIH CINTA


__ADS_3

Bahagia itu sederhana bagi orang-orang yang bersyukur. Namun, bagi Dion bahagia itu adalah ketika Dila mengecup pipinya di waktu pagi. Mengantarkan ia ke pintu depan saat akan ke kantor, lalu saat ia menatap tempat bekal makan siang, di mana di dalamnya Dila selalu meletakkan sebuah pesan cinta, kemudian dilanjut pada saat ia pulang, sang istri dengan senyum mengembang menyambutnya.


Seperti saat ini, Dion memandangi bekal makan siang yang terdiri dari banyak sayur, makanan laut serta buah-buahan. Semuanya direbus dengan nasi merah sebagai pelengkap.


Sebuah kertas pesan tertera di sana. Dion mengambil lalu membacanya. "Makanan ini aku buat dengan cinta. Kamu habiskan demi kesempurnaan." Dion geleng-geleng kepala, tetapi ia mengecup kertas itu sebelum menyimpannya di sebuah kotak berwarna hitam.


Sebelum makan, Dion mengucapkan doa dan menghela napas panjang. Ia kurang suka dengan sayuran berkecambah, tetapi demi sebuah tujuan, ia tetap menghabiskan semua makanan yang istrinya buat.


"Semoga Dila cepat berisi," ucapnya setelah selesai melahap makan siang.


"Amin."


Dion kaget karena tiba-tiba ada yang menyahuti ucapannya. Ia tersenyum melihat seorang pria paruh baya yang masuk ke ruang kerjanya.


"Papa bikin kaget saja. Sudah makan siang? Biar Dion pesankan," ucapnya.


"Habis makan siang tadi di restoran. Bagaimana hubunganmu dengan Dila?" Bastian mendaratkan tubuhnya di sofa.


Dion beranjak dari kursinya lalu berpindah tempat duduk berhadapan dengan Bastian. "Baik-baik saja, Pa."


"Tadi Papa dengar doamu agar Dila bisa hamil," ucap Bastian bernada pertanyaan.


"Dila ingin hamil lagi, Pa," tutur Dion.


"Semoga saja bisa isi lagi."


"Kata dokter mungkin bisa. Tapi ini sudah dua bulan belum ada tanda-tandanya. Aku takut ia akan kecewa," lirih Dion.


"Sabar dan berdoa selalu. Semoga apa yang kalian inginkan tercapai. Papa juga akan mendoakan agar kalian segera diberi momongan, sebab Papa juga tidak sabar buat gendong cucu," tutur Bastian. "Kalau bisa cucu perempuan. Papa akan buatkan dia rumah boneka."


Dion menghela. "Hamil saja belum, Papa sudah minta cucu perempuan."


"Papa sudah tua, Dion. Wajar Papa menginginkan cucu. Teman-teman Papa sudah pada dipanggil kakek."


"Kali ini Papa juga harus bersabar dan banyak berdoa supaya Dila cepat hamil," kata Dion.


Bastian menganggukkan kepala sebagai tanda ia mengiyakan ucapan Dion. Pria paruh baya itu selalu berdoa, selalu percaya akan kekuasaan Sang Pencipta, bahwa Dila suatu hari nanti akan bisa mengandung.


...****************...


Pertama kalinya Dion pulang terlambat selama masa pernikahannnya. Tiba-tiba ada pekerjaan darurat di mana ia harus mengadakan rapat penting saat itu juga.


Ada kendala di bagian pengiriman. Barang-barang makanan yang siap dikirim malah terjebak macet oleh kapal pengangkut. Akibatnya permintaan dari konsumen luar kota tidak terpenuhi.

__ADS_1


"Dila mana? Kok aku datang tidak disambut?" gumam Dion heran yang melihat pintu rumah masih tertutup. Dion melirik Paijo yang tengah menutup pintu gerbang. "Paijo ... ke mari sebentar."


Paijo berlari menghampiri Dion. "Ada apa, Tuan?"


"Dila mana?"


"Di dalam, Tuan," jawab Paijo.


"Kok aku pulang enggak disambut?" tanya Dion.


"Nah ... nyonya pasti marah karena Tuan pulang terlambat. Siap-siap tidur sama aku deh," sahut Paijo.


Dion mendengus. "Ogah banget aku tidur bareng kamu."


"Ya sudah," jawab Paijo kemudian berlalu dari hadapan Dion.


"Kurang ajar si Paijo. Main pergi saja. Dia takutnya cuma sama Dila saja," guman Dion kesal.


Dion mendorong pintu. Suasana dalam rumah menjadi temaram. Lampu utama tidak dinyalakan dan hanya lampu hias saja yang menerangi seisi ruangan.


"Sayang," panggil Dion dengan sedikit keras.


Lampu utama tiba-tiba menyala. Dion terkesiap melihat Dila memakai gaun panjang berpotongann kemben berwarna pink muda dengan rambut terurai.


Dila berjalan menghampiri Dion, mengalungkan kedua tangan di leher suaminya. Tas kerja yang Dion pegang terlepas dari tangan dan refleks pria itu memegang pinggang Dila.


"Aku belum mandi, Sayang," ucap Dion.


"Mulai malam ini, kamu harus puasa untuk beberapa waktu." Dila menelusuri pipi Dion dengan jari telunjuknya.


"Kenapa? Aku harus puasa apa? Jangan bilang puasa untuk tidak menyentuhmu," kata Dion panik.


Dila terkekeh. "Hanya beberapa waktu saja. Dia masih lemah."


"Kamu sakit, Sayang?" Dion memeriksa tubuh Dila.


Dila mengeleng. "Bukan, Sayang?"


"Lalu apa? Kita dokter yuk," ajak Dion.


"Kita memang harus ke dokter, tetapi itu besok." Dila meletakkan tangan suaminya di perut. "Dia ada di sini."


Dion mengerutkan dahi. Ia masih bingung dengan apa yang istrinya katakan. "Dia siapa, Sayang?" Dion takut sang istri berpaling.

__ADS_1


"Kamu bakal jadi papa, Sayang," ucap Dila.


Dion mengerjap. "Katakan sekali lagi."


"Kamu bakal jadi Papa."


Dion menepuk kening. "Gara-gara papa meminta cucu perempuan, aku malah berhalusinasi Dila hamil. Ini pasti mimpi."


Dila meraih wajah Dion. Mengecup seluruh wajah pria itu agar suaminya merasa kalau ini memang kenyataan, ia hamil anak dari pria yang sangat ia cintai.


"Berasa tidak?" tanya Dila.


"Kecup di bibir yang lama," pinta Dion.


Dila melakukan apa yang suaminya inginkan. Mengecup bibir pria itu dengan lama. "Sudah."


"Sayang ... kamu hamil?"


Dila mengangguk. "Iya ... aku hamil."


"Ini bukan mimpi, kan?" Dion tampak antusias, padahal kemarin-kemarin ia sangat santai menghadapi keinginan Dila yang ingin hamil.


"Ayo ... aku tunjukkan hasilnya." Dila mengenggam tangan Dion, membawa pria itu ke meja makan yang sudah lengkap dengan lilin dinner. Sebuah kotak biru Dila berikan kepada suaminya. "Bukalah."


Dion meraihnya kemudian membuka kotak itu. Terdapat tiga benda yang persis sama dan terdapat dua garis merah dari masing-masing benda tersebut.


"Ini beneran?" Dion berhambur memeluk Dila, mengecup ubun-ubun istrinya dengan sayang. Ia terharu dan tidak dapat berkata apa-apa. "Kita berhasil, Sayang. Apa yang kamu inginkan terkabul."


Dila mengangguk dan kembali memeluk Dion. "Aku juga kaget, Sayang. Aku tidak percaya dengan apa yang telah Sang Pencipta titipkan padaku."


Dila hanya iseng saat ia mengetes dirinya. Ia telat datang bulan seminggu yang lalu, tetapi masih menduga jika itu merupakan hal yang biasa.


Namun, saat bangun tidur ia berkeinginan untuk mengetes dan hasilnya sangat mengejutkan. Dila masih belum memberitahu Dion, ia menunggu lagi sampai benar-benar yakin akan hasil dari test tersebut.


"Ini karena doa-doa-mu dan juga doa dari orang yang menyayangi kita."


Dila terharu. "Iya ... ini semua doa dari orang-orang yang menyayangi kita."


"Kamu jaga baik-baik buah hati kita. Aku bahagia sekali," ucap Dion sembari mengusap perut istrinya.


Bersambung.


Dukung Author dengan vote, like dan koment.

__ADS_1


__ADS_2