
Dear Kekasihku
Suara teriakan khawatir, senyum manis, tawa serta pujian menghiasi rumah sederhana kita. Kamu masih sama seperti dulu. Masih cantik seperti pertama kali aku mengagumi dirimu.
Seruan sayang, pelukan cinta, semakin membuat kita berdua terbuai dalam selimut kebahagian. Aku ingin menghentikan waktu agar selamanya kita berada dalam keadaan ini.
Aku ingin membawamu dan putri kecil kita hidup di sebuah rumah tepi pantai dengan hamparan pasir putih, laut tenang serta angin berembus yang membelai tubuh, tanpa hiruk-pikuk orang-orang yang saling menjatuhkan serta suara bising kendaraan kota.
Di sana aku akan menjadi nelayan, putri kecil kita akan bermain hamparan pasir putih serta kamu akan memasak dengan tungku api. Hidup sederhana tanpa gemerlap harta dan yang pasti hanya ada tawa kebahagian di dalamnya.
"Sayang ... apa Delilah sudah tidur?" bisik Dion.
Dila mengangguk. "Sudah."
"Ayo kita tidur juga," ajak Dion.
Dila mengangguk mengiyakan perkataan suaminya. Dengan perlahan Dila memindahkan putri kecilnya ke dalam tempat tidur khusus bayi. Dion mengaktifkan kamera dan memanggil pengasuh agar putri kecil mereka ada yang menemani.
Dion menarik lembut tangan Dila agar istrinya itu, mengikuti langkah tujuannya. Dila terkesiap saat melihat taman belakang disulap menjadi sebuah kamar tidur dadakan.
"Kita tidur di sini?" tanya Dila seraya menatap kursi rebahan dengan bed cover serta bantal.
"Iya, Sayang. Biar romantis," jawab Dion. "Besok aku akan panggil orang untuk membuat sebuah pondok khusus untuk kita."
Dila merebahkan diri di kursi rebahan yang muat untuk dua orang. Wanita itu masuk ke dalam bed cover tebal dengan di susul Dion yang turut merebahkan diri.
"Ketika aku menatap langit berbintang, aku merasa langit juga turut senang melihat kita berdua. Bintang-bintang kecil seolah tersenyum memandang serta memberi pujian," ucap Dila.
"Mereka iri pada kita, Sayang," sahut Dion.
"Kenapa?" tanya Dila.
"Seorang pria tidak lagi mengagumi bintang yang bersinar terang. Bahkan ia menganggap bintang-bintang itu menyerukan namanya agar mengagumi sinarnya yang terang," tutur Dion.
Kening Dila berkerut. "Apa pria itu merasa kecewa?"
Dion mengeleng. "Bukan. Pria itu telah memiliki bintangnya sendiri." Dion memandang wajah cerah merona Dila. Ia usap pipi nan lembut itu. "Pria itu telah memiliki bintang dalam hatinya. Bintang yang melebihi indahnya ribuan bintang di angkasa. Kamu bintangku yang menyinari duniaku."
Dila tertawa. "Kamu ada-ada saja."
"Tetaplah seperti ini. Tetaplah tertawa," ucap Dion.
__ADS_1
Pelukan hangat wanita itu berikan. "Aku tidak dapat berkata apa-apa. Ribuan kalimat cinta pun tidak akan bisa mengungkapkan betapa aku mencintai dirimu."
Dion membawa Dila ke dalam pelukan hangatnya. Kecupan di ubun-ubun pria itu berikan. Dila memejamkan mata, Dion menarik selimut hingga keduanya menuju alam mimpi dengan langit sebagai atap serta bumi sebagai lantainya.
...****************...
Sepuluh tahun kemudian
"Mama," seru Delilah. "Lihat ... Papa pulang bawa boneka."
Dila tersenyum. "Papamu selalu membawa boneka. Rumah ini sudah penuh dengan banyak boneka."
"Aku juga bawa bunga untukmu, Sayang," sahut Dion.
Dion, pria mapan yang sudah menuju dewasa, semakin tampan dengan tubuh yang semakin kekar. Wajah dewasanya semakin membuat kagum para wanita di luar sana. Apalagi wajah tampan itu wara-wiri di berbagai media karena usaha produk makanan, properti yang digelutinya terbilang sukses.
Sedang Dila sudah berada dalam tahap benar-benar sudah dewasa. Sebagaimana keriput itu dicegah tetap saja ada garis-garis halus di kening dan sekitar mata. Rambutnya juga kadang rontok.
Satu kecupan mendarat di kening Dila. "Bunga mawar merah untukmu."
"Terima kasih," ucap Dila dengan membalas kecupan yang suaminya berikan tepat di bibir.
"Lagi dong, Sayang," pinta Dion.
Delilah sibuk membelai boneka Barbie yang baru saja Dion berikan. Ia tidak memperhatikan kedua orangtuanya yang tengah bermesraan.
Sebagai anak bungsu dari Dila, anak tunggal dari Dion dan cucu pertama Bastian, Delilah tumbuh dalam kasih sayang berlebih. Apa saja yang anak itu minta, akan dituruti oleh Dion atau sang kakek.
"Delilah sayang," seru Dion.
"Iya, Pa," jawab putri cantik itu.
"Delilah main boneka sama bibi Sari saja, ya," ucap Dion.
Delilah mengangguk. "Iya, Pa."
Segera Delilah berlari memanggil Sari untuk diajak bermain bersama. Dion mengedipkan mata pada Dila yang artinya ia menginginkan sebuah hak sebagai seorang suami.
"Mumpung belum mandi, Sayang. Kita ke kamar, yuk," ajak Dion.
Dila menampilkan senyum sedikit. "Ayo."
__ADS_1
Keduanya masuk ke dalam kamar tidur. Dion membuka pakaian miliknya, begitu juga dengan Dila. Tubuh Dila masih tetap kencang dengan olahraga yang ia tekuni.
Dion melaksanakan tugasnya sebagai suami. Hunjaman demi hunjaman pria itu berikan. Ia tidak melihat wajah Dila yang meringis sakit akibat hunjaman tersebut.
Dion mengecup kening, serta pipi Dila. Ia terhenti dan membuka matanya saat bibir lembut menyentuh buliran asin dari pipi sang istri.
"Kenapa menangis?" tanya Dion.
"Aku kesakitan," jawab Dila yang mau tidak mau harus jujur pada suaminya.
Dion menghentikan kegiatan panasnya. Segera pria itu menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya yang polos. Dion menghapus buliran air yang menodai pipi Dila.
"Apa yang membuatmu kesakitan? Apa gerakanku sangat kasar? Maafkan aku, Sayang," ucap Dion.
Dila mengeleng. "Aku yang seharusnya minta maaf padamu."
"Kenapa? Ada apa?" tanya Dion.
"Hampir dua belas bulan aku tidak datang bulan." Dila tertunduk. "A-aku sudah menopause."
Akhirnya rahasia itu terucap juga. Dila juga sudah curiga dengan tamu bulanan yang tidak menentu. Perubahan-perubahan itu ia rasakan. Bagian sensitifnya terasa kering hingga setiap Dion memasukinya, akan terasa perih.
Beberapa bulan lalu Dila masih bisa menahannya, tetapi dua bulan terakhir ia tersiksa. Dila tidak sanggup mengatakan kepada Dion yang sebenarnya. Wanita itu tidak sanggup suaminya kecewa.
Dalam periode ini, Dion semakin gencar-gencarnya meniduri Dila. Pria itu hampir setiap malam meminta tanpa tahu istrinya kesakitan.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya? Sungguh aku telah menyakiti dirimu. Aku menyiksamu setiap hari. Maafkan diriku ini, Sayang," ucap Dion seraya mengenggam tangan istrinya.
"Aku tidak bisa melayanimu lagi. Aku yang menyiksamu."
Dion mengeleng. "Tidak. Aku tidak akan melakukan hal ini lagi. Aku tidak mau kamu kesakitan."
Dion merasa bersalah karena ia telah menyiksa Dila. Andai istrinya memberitahu dari awal, pasti ia tidak akan meminta untuk dilayani.
Dila mengenggam erat tangan pria yang sangat ia cintai. Ia mengecup punggung tangan Dion begitu lama sembari menitikkan air mata.
"Maafkan aku," ucapnya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Ini bukan akhir segalanya," balas Dion.
"Dion ...." Dila menatap wajah tampan di hadapannya. "Menikahlah lagi."
__ADS_1
Bersambung.
Dukung Author dengan vote, like dan koment.