MY SWEETIE BOYFRIEND

MY SWEETIE BOYFRIEND
AKU SELALU MENCINTAIMU


__ADS_3

Dila bersikeras untuk pulang dari rumah sakit. Ia tidak ingin dipindahkan ke rumah sakit luar negeri ataupun menetap selama proses penyembuhan.


Dila hanya ingin kembali ke rumahnya. Tidur di ranjang miliknya, dan menghabiskan waktu bersama buah hati serta suaminya.


Wanita itu masih kuat. Ia masih bisa berjalan, dan selagi mampu, Dila ingin menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.


Karena permintaan itu, Dion tidak bisa berbuat apa-apa. Yang penting kebahagian istrinya. Ia tidak mau kedua mata bening itu mengeluarkan air mata. Baik Reyhan juga menuruti apa yang diinginkan Dila, yaitu menjalankan rawat jalan di rumah.


Pagi ini hari sangat cerah, tetapi mendung bagi hatiku. Bunga yang kupupuk hingga tumbuh berkembang, kini telah mulai layu. Aroma harumnya mulai memudar meski telah aku tambahkan segudang pupuk cinta untuk menyuburkannya.


"Waktunya minum obat," kata Dion sembari menyodorkan lima buah pil di dalam piring kecil.


Dila memandang suaminya. Sejak pulang dari rumah sakit, Dion memasang wajah kesal. Matanya menyiratkan kemarahan, tetapi tetap saja ia melayani Dila.


Dua buah pil berukuran besar, dan dua pil bulat dengan bentuk kecil. Rasanya tenggorokkan Dila tidak sanggup menelan begitu banyak obat. Setiap hari tiga kali sehari ia harus menderita dengan meminum obat itu.


Dila mengambil satu per satu pil yang cukup besar, lalu meminumnya. Kemudian dua pil kecil ia minum secara bersamaan. Dila tidak dapat merengek untuk menolak; sebab ia akan membuat Dion kembali dalam kemarahan.


"Sekarang tidurlah," ucap Dion.


"Biarkan aku memasak makan siang untuk kalian. Delilah pasti sudah rindu akan masakanku."


"Jika kamu bosan, aku akan membawamu ke taman." Dion mengangkat tubuh Dila ke atas kursi roda, lalu menyelimuti istrinya dengan selimut tebal.


"Sayang, aku kepanasan kalau diselimuti dengan selimut," kata Dila.


Dion tidak peduli. Ia mendorong kursi roda keluar kamar menuju taman belakang rumah. Udara luar dapat Dila rasakan ketika ia sampai di taman.


"Udaranya segar," kata Dila.


"Bagiku udara di sini sangat sesak," sahut Dion.

__ADS_1


"Aku merindukan suamiku. Di mana dia? Di mana senyum yang selalu membuat hati ini berdesir."


Dion bersimpuh di bawah lutut Dila. Ia rebahkan kepalanya di atas pangkuan sang istri. Air mata menetes dari pelupuknya. Sesungguhnya ia sangat takut akan apa yang akan terjadi di masa depan.


"Kumohon untuk tidak membahas sakitku. Kumohon berikan aku kenangan yang tidak akan kulupakan hingga akhir hayat. Kumohon untuk melepas segala ketakutan yang melanda dirimu karena sesungguhnya kita akan tetap berpisah," ucap Dila.


Dion mengeratkan pelukan tangannya pada kedua kaki Dila. "Jika aku melakukannya, maka akan sulit bagiku merelakanmu nantinya."


Di satu sisi memang Dion tidak ingin menyakiti Dila dengan memaksa melakukan kemoterapi. Efek dari itu malah akan menyakiti istrinya. Harus berapa banyak Dila akan melewati itu semua, rasanya Dion tidak dapat membayangkannya.


Dibalik ikhtiar akan ada hasil yang didapat. Bukan niat Dila untuk mendahului takdir. Bukan juga ia tidak ingin sembuh. Namun, keadaan yang memang tidak memungkinkan.


Tumor yang bersarang sudah mencapai stadium tiga, dan akan semakin menyebar. Bisa saja tumor itu diperkecil, tetapi pada akhirnya ia juga akan merasakan kesakitan pada masa pengobatan.


Dion menengadahkan kepala memandang Dila yang ikut menangis. "Sayangku. Jangan menangis. Air mata ini sangat berharga. Maafkan kesalahan suamimu ini."


"Bagaimana aku tidak menangis jika suamiku memasang wajah kesal?"


Dion berhambur memeluk Dila. "Aku akan membahagiakanmu. Lupakan sakitmu, dan aku akan melupakan rasa takutku."


Waktu itu pun tiba. Di mana penyakit yang Dila derita semakin mengerogoti. Keluar masuk rumah sakit menjadi rutunitas demi menghilangkan sedikit kesakitan yang mendera.


Puncaknya kini Dila hanya bisa terbaring di kasur. Setiap hari anak menantu, besan serta mertuanya menjenguk. Teman-teman Dila yang mengetahui hal itu juga datang menjenguk, memberi dukungan kepada Dion agar tetap tabah. Dion tetap tersenyum, meski hatinya bersedih.


Tubuh itu menjadi kurus. Pipi yang berisi kini kempis. Ucapan yang keluar dari bibir manis itu terdengar samar-samar. Namun sang suami, tetap sabar dalam merawat istri tercintanya.


Sudah enam bulan Dion menjadi perawat istrinya. Tiada jijik sekalipun ia harus melakukan pekerjaan tersebut, meski ada banyak uang untuk menyewa seorang perawat. Dion benar-benar mengurus Dila yang sudah seperti seorang bayi. Ia juga tetap tidur di samping Dila, meski sudah berulang kali istrinya itu melarang.


"Makan dulu, Sayang," ucap Dion dengan menyodorkan sedotan ke mulut Dila agar bisa diisap, dan dapat makan dengan lebih banyak.


Tidak ada jawaban dari Dila karena memang kondisinya sangat memprihatikan. Makanan cair itu berceceran di mulutnya. Dengan sigap Dion mengambil tissu, lalu mengelapnya.

__ADS_1


"Sudah," ucap Dila.


"Kita ke rumah sakit lagi sekarang. Ambulan akan datang sebentar lagi," kata Dion, lalu beranjak meletakan mangkuk makanan ke meja.


"Ambulannya sudah datang," kata Reyhan yang sudah masuk ke dalam kamar.


"Aku akan siapkan Dila dulu. Kamu bawa tas perlengkapan itu," kata Dion.


Reyhan meraih tas perlengkapan yang ditunjukkan oleh Dion, dan ia terdiam ketika mencium aroma tidak sedap.


"Akan aku panggilkan perawat," kata Reyhan.


Perawat wanita memang ada, tetapi hanya untuk mengurus makan Dila dalam arti memasak, dan menyiapkan menu apa saja yang baik bagi penderita tumor otak. Memasang selang infus karena memang Dila dalam keadaan seperti itu.


"Aku bisa melakukannya. Aku tidak mau perawat itu memandang jijik istriku."


"Akan aku bantu."


"Mana mungkin aku memperlihatkan bagian sensitif milik istriku," kata Dion.


"Akan aku siapkan keperluan membasuhnya." Reyhan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Membawa baskom berisi air hangat, sabun, tissu, dan juga handuk kecil. Selepas meletakan itu di kereta dorong depan sahabatnya, Reyhan keluar kamar sebab pasti Dion tidak senang ia berada di sana.


Dion meringis karena melihat bagian sensitif istrinya. Bukan karena aroma atau jijik, melainkan bagian belakang itu terkelupas kulitnya. Pasti Dila merasa perih karena itu. Sudah berbagai pelembab Dion berikan agar tidak iritasi, tetapi tetap saja kulit belakangnya terkelupas memerah. Hal itu disebabkan karena posisi Dila yang terbaring terus-menerus.


"Maaf," ucap Dila samar.


"Sudah tugasku."


Dila meneteskan air mata. Mengapa semesta belum mengambil nyawanya? Ia tidak ingin menyiksa Dion terus menerus seperti ini. Dion, adalah suaminya. Orang yang sepatutnya ia layani, tetapi ini malah kebalikannya.


"Jangan merasa bersalah begitu. Aku suamimu yang akan selalu ada untukmu." Dion menghapus lelehan air mata yang menodai pipi Dila. Ia kecup kedua mata yang untuk terbuka saja sangat susah. "Aku selalu mencintaimu."

__ADS_1


Bersambung.


Dukung Author dengan like, vote, dan koment.


__ADS_2