MY SWEETIE BOYFRIEND

MY SWEETIE BOYFRIEND
DUA ANAK SATU ADIK


__ADS_3

"Selamat, Nyonya. Anda hamil," seru Dokter Reni.


Dila mengusap buliran bening yang membasahi pipi. Rasa bahagia teramat sangat ia rasakan ketika dokter memastikan ia mengandung kembali.


Sang suami yang duduk di sampingnya juga turut senang mendapati istrinya mengandung. Dion raih hasil dari USG yang dokter Reni berikan. Ia usap dan kecup foto tersebut.


"Dia hadir dalam hidup kita," ucap Dion.


"Dia masih sangat kecil," sahut Dila.


"Kita jaga dia bersama-sama," sambung Dion sembari menatap lekat wajah Dila.


"Ini vitamin serta penguat kandungan. Ini untuk berjaga-jaga saja selama trimester pertama," ucap Dokter Reni.


"Terima kasih, Dok. Saya akan memastikan Dila meminum vitaminnya," ucap Dion.


"Tenang saja, Sayang. Aku akan meminum vitamin itu," sahut Dila.


Keduanya berpamitan keluar setelah selesai memeriksakan kandungan. Dila duduk di kursi tunggu sembari Dion mengantarkan resep di loket pengambilan obat.


"Mulai hari ini kamu harus makan banyak. Tidak boleh ada diet atau segala macam," ucap Dion.


Dila terkekeh geli. "Iya ... aku akan makan banyak."


Dion mengusap serta memberi kecupan lembut pada perut sang istri. Tidak peduli beberapa pasang mata yang tengah melihat keromantisan mereka. Yang jelas Dion sangat bahagia akan kehamilan istrinya.


"Malu dilihatin orang, Sayang. Di rumah saja nanti mesra-mesranya," ucap Dila.


"Mereka iri melihat kita, Sayang. Sebenarnya mereka ingin seperti kita, tetapi tidak bisa," bisik Dion.


Dila memutar mata malas. "Bisa-bisanya kamu berkata begitu. Ini bukan luar negeri, Sayang."


"Baiklah, Ibunda Ratu. Maafkan hambamu ini," ucap Dion.


Dila menutup mulut karena celetukkan yang keluar dari bibir suaminya. Ingin sekali ia tertawa, jika orang-orang tidak ada setelah mendengarkan kalimat itu.


Nama Dila dipanggil. Segera Dion bangkit dari duduknya mengambil obat sekaligus menyelesaikan adiministrasi yang lain.


"Sudah semua obatnya?" tanya Dila.


Dion mengangguk. "Sudah ... kita pulang, yuk!"


"Kita ke tempat Kiano. Aku kangen padanya," ucap Dila bernada manja.


"Iya. Kita ke tempat Kiano," sahut Dion dengan merangkul pundak istrinya.


...****************...


"Mama," seru Anna.


Anna merangkul Dila dan mendaratkan kecupan di pipi kiri serta kanan, kemudian berganti dengan bersalaman dengan papa mertuanya.


"Mama rindu Kiano," ucap Dila.


"Kiano ada, Ma. Dia ada di kamar bermain," sahut Anna sembari membawa mertuanya itu masuk ke dalam. "Kebetulan Mama dan Papa datang. Tadinya Anna ingin menelepon buat makan malam."

__ADS_1


"Mama sama Papa datang tepat waktu kalau begitu," cetus Dila.


Anna menyengir. "Iya. Mama sama Papa habiskan waktu di sini saja."


Pintu kamar bermain Kiano dibuka. Terlihat balita tersebut tengah bermain dengan ditemani oleh pengasuh.


"Nenek kangen sama Kiano," seru Dila sembari meraih balita tampan itu ke pangkuannya.


"Kakek juga kangen sama Kiano," sahut Dion.


"Kok Kakek sih, Sayang," sanggah Dila.


"Kamu Nenek dan aku Kakeknya," jawab Dion.


"Apa kamu enggak malu?" kembali Dila bertanya.


"Kenapa harus malu sih? Kalau memang begitu yang harus terjadi," jawab Dion. Pria itu meraih ponsel dari saku celananya. "Aku akan mengundang Papa kemari." Mata Dion memandang Anna. "Apa kamu mengundang Diki juga? Papa juga kangen dengan Sara."


Anna mengangguk. "Iya, Pa. Anna juga mengundang semuanya."


Retina Dila tidak lepas dari memandang Dion yang tengah berbicara melalui telepon genggam. Pria seumuran Reyhan itu telah menerima Dila apa adanya.


Tanpa malu sedikitpun Dion menganggap dirinya sendiri sebagai seorang pria yang memiliki cucu. Lucu memang ... tetapi keadaan yang memang mengharuskan Dion mendapat predikat kakek meski umurnya masih sangat muda.


"Papa sangat mencintai Mama," ucap Anna.


Dila mengangguk. "Mama juga sangat mencintai papamu."


...****************...


"Selamat datang, Om," sambut Reyhan dengan merangkul Bastian.


Dion beranjak dari kursi setelah melihat papanya datang. Pria itu langsung memberi sambutan pelukan kepada Bastian.


"Hai, Om," sapa Diki.


"Dalam rangka apa Papa disuruh datang?" tanya Bastian sembari duduk di sofa samping Dion.


"Anna mau buat kejutan dan juga acara temu kangen," jawab Reyhan.


"Aku juga punya kejutan buat kalian," sela Dion.


"Apa?" tanya ketiganya serempak.


"Bukan kejutan namanya, jika diberitahu sekarang." Dion menyengir.


Reyhan serta Diki mendengus karena alasan Dion, sedang Bastian hanya menghela napas atas ucapan yang putranya berikan.


"Suka sekali buat orang penasaran," kesal Diki.


"Nanti juga kamu bakalan tahu," sahut Dion.


Keempat pria yang tengah asik mengobrol tersebut dipanggil untuk segera menuju meja makan. Para istri telah berada di ruang makan menunggu para suami mereka.


Dila merangkul Bastian serta sedikit berbasa-basi menanyakan kabar dari mantan sekaligus ayah mertuanya itu. Setelah itu semuanya duduk di meja makan dan makan malam bersama terlebih dulu.

__ADS_1


Dentingan gelas berbunyi. Semua mata memandang Reyhan yang ingin memberikan sebuah pengumuman.


"Beberapa hari ini aku sangat bahagia. Bukan beberapa hari, tetapi setiap hari aku sangat bahagia. Terlebih dua hari lalu saat kami berdua berkunjung ke rumah sakit. Hasilnya ... dokter mengatakan aku dan Anna mendapat bayi kembar," beber Reyhan dengan mimik wajah senang.


"Kembar?" ulang Dila.


Reyhan mengangguk. "Iya, Ma. Anna mengandung bayi kembar. Programnya berhasil."


"Selamat, Sayang," ucap Dila senang. "Kenapa tidak memberitahu Mama tadi?"


"Kan kejutan, Ma," sahut Anna.


"Selamat, Anna," ucap Maya.


"Terima kasih, Maya."


Suara dentingan gelas berbunyi, tetapi kali ini milik dari Dion. Pria itu bahkan berdiri untuk memberikan sebuah pengumuman.


"Ini kejutan untuk semuanya. Terutama bagi Reyhan dan Papa." Dion menatap anak sambung sekaligus sahabatnya. "Rey ... aku turut senang akan kebahagian yang kamu dapatkan. Kamu punya Kiano dan sebentar lagi akan memiliki bayi kembar, tetapi aku ingin menambahkan satu bayi lagi untukmu."


"Satu bayi?" potong Reyhan.


Dion mengangguk. "Satu bayi yang akan menjadi adikmu."


"Apa?!" kaget semuanya.


"Dion ... maksudmu apa?" tanya Reyhan semakin tidak sabar.


Dion tertawa kecil. "Istriku juga hamil."


"Benarkah itu?" tanya Bastian. "Papa akan dapat cucu?"


"Benar, Bas. Aku tengah hamil," sahut Dila.


"Ma-ma hamil?" tanya Reyhan.


"Iya, Sayang," jawab Dila.


"Mantap, Dion. Jadi juga akhirnya. Selamat buatmu dan juga Mama," ucap Diki.


Reyhan masih terpaku memandang istri, sahabat, serta kakek sambungnya yang saling merangkul memberi ucapan selamat kepada Dion serta Dila.


Rasanya Reyhan berada pada dimensi lain. Dimensi di mana ia sendiri tidak mempercayai atas takdir yang Sang Pencipta berikan.


"Sayang," tegur Anna.


"Apa aku mimpi punya adik lagi?" tanya Rey dengan pandangan mata ke depan.


Anna mencubit lengan tangan Rey dan sontak pria itu merasakan sakit. "Ternyata bukan mimpi."


Diki tidak kuasa menahan gelak yang meledak. "Kamu tidak mimpi, Rey. Kenapa wajahmu serius begitu?"


Reyhan juga tidak kuasa menahan tawa. Pria itu membayangkan bagaimana adik kecil yang akan lahir itu memanggil dirinya dengan sebutan kakak.


"Selamat Ma, Pa. Aku turut bahagia," ucap Reyhan.

__ADS_1


Bersambung.


Dukung Author dengan vote, like dan koment.


__ADS_2