
"Kita ke kamar, yuk," ajak Dion.
"Iya. Udaranya sudah sangat dingin," jawab Dila.
Keduanya bangkit dari kursi. Dion dan Dila menghentikan langkah sejenak memandang Reyhan, Anna, Diki serta Maya. Kedua pasangan itu terdiam saja di kursi mereka.
"Kalian tidak mau masuk?" tanya Dion.
"Papa Dion masuk saja duluan. Nanti kami menyusul," sahut Diki.
"Oh ... ya, sudah ... kami masuk duluan," pamit Dion sembari memegang tangan Dila.
"Mama masuk duluan, Sayang."
"Iya, Ma," sahut Anna serta Maya.
Dion dan Dila masuk ke dalam rumah. Reyhan serta lainnya hanya bisa menatap sepasang suami istri yang saling melempar senyum tersebut.
Satu per satu pakaian terlepas dari tubuh keduanya. Satu kecupan mendarat lembut di bahu nan polos itu. Dion serta Dila menjatuhkan diri di atas tempat tidur beralaskan seprai putih.
"Apa aku masih menarik?" tanya Dila saat tangan Dion merajalela ke segala arah.
"Tentu, Sayang," jawab Dion.
"Berulang kali melakukan perawatan tetap saja kondisi fisikku tidak akan kembali muda."
Dion terdiam sesaat sembari memandang lekat wajah Dila. Ia teringat perkataan Reyhan yang mengatakan bahwa istrinya pasti akan merasa tidak cantik lagi.
"Sayangku ... bisakah kita tidak membahas masalah mengenai fisik? Tubuhku akan menua dengan seiring waktu. Kekuatanku akan berkurang dengan bertambahnya umur. Ini hanyalah masalah kamu yang menua terlebih dulu," tutur Dion.
Dila mengangguk. "Maafkan aku yang tidak percaya diri ini."
"Kita lewatkan malam ini bersama dengan cinta. Jangan pikirkan masalah lain," ucap Dion.
Senyuman terukir pada bibir keduanya. Dion mengecup lembut kening, hidung hingga turun pada lembah manis. Indra perasa keduanya malu-malu untuk saling menyentuh.
Tangan nakal Dion menangkup benda padat, lalu membelainya dengan lembut. Ia dengar Dila mengeluarkan suara berat dari bibir sembari menyebut namanya.
Dila mengerang lirih tatkala Dion menangkup sisi padat sebelahnya. Tangan itu memilin sesuatu yang menghancurkan pertahanannya. Ia menginginkan lebih dari sekadar sesapan serta permainan jari-jari Dion.
"Sabar, Sayang. Aku belum mulai," ucap Dion seraya memandang wajah Dila yang sudah merona.
Rasanya Dila tidak percaya dengan apa yang terjadi pada dirinya. Usianya sudah hampir kepala enam, tetapi gelombang hasratnya masih mengebu-ngebu.
Baru beberapa hari yang lalu ia merasakan penurunan dalam melayani Dion, tetapi saat ini ... gelombang hasratnya membuncah dan ingin segera diledakkan.
Dila mengulurkan tangannya menyentuh tubuh Dion. Melebarkan jemari menyusuri bagian bidang yang sedari tadi menggoda mata. Dila mencondongkan sedikit kepalanya untuk mengecup bahu polos Dion dan berhasil membuat pria itu kaget.
"Kamu mulai nakal, Sayang," ucap Dion.
__ADS_1
"Kamu tidak suka?"
"Tentu aku sangat menyukainya," jawab Dion.
Kembali Dion mengecup bibir Dila. Kali ini sedikit kasar dan menuntut. Pria itu juga mendorong kaki Dila agar terbuka hingga jemari nakalnya dapat menjelajah pada lembah madu di sana.
Dila bergumam dengan jemari yang mencengkeram punggung Dion. Wanita itu memejamkan mata karena tidak mampu mengendalikan reaksi panas pada tubuhnya.
"Jangan siksa aku," ucap Dila.
"Aku akan segera mulai." Dion mengambil pelumas dan segera mengoleskannya pada bagian yang seharusnya. "Apa tadi sakit? Aku lupa mengoleskannya di awal."
Dila mengeleng. "Tidak ... malah terasa nyaman."
Dion sudah berada dalam posisi yang seharusnya. Pria itu mendorong masuk hingga tubuhnya jatuh dalam dekapan Dila. Sejenak pria itu terdiam. Menyakinkan Dila apakah dirinya telah membuat rasa sakit, tetapi sebuah anggukkan serta senyuman menjadi jawaban jika istrinya baik-baik saja.
Gerakan itu pelan, luwes hingga keduanya merasakan kenyamanan tiada tara. Naik menuju puncak, lalu turun dengan ledakan dahsyat.
...****************...
Siulan merdu terdengar di telinga Diki dan Reyhan. Keduanya saling memainkan mata saat memandang pria yang datang dengan wajah bersinar.
"Sepertinya kamu sangat bahagia?" tanya Diki.
Dion mendaratkan tubuhnya di sofa. "Aku selalu bahagia."
"Aku tidur dengan nyenyak. Sangat nyenyak malahan," ungkap Dion.
Dion menaikkan sebelah kaki kiri ke atas kaki kanan, lalu kembali bersiul dengan kedua tangan membujur di atas bantalan sofa.
"Dia sangat bahagia," ucap Reyhan.
"Mungkin semalam dia berhasil menuju surga dunia," sahut Diki.
"Sarapan dulu, yuk," ajak Dion.
Keduanya mengangguk, lalu beranjak menuju ruang makan. Menu sarapan sudah tertata rapi di meja. Masing-masing sudah duduk di kursi mereka.
"Habis ini kita jalan-jalan, bagaimana?" usul Anna.
"Boleh saja," sahut Reyhan.
"Mama juga ingin jalan-jalan," sambung Dila.
"Sarapan dulu yang banyak," kata Dion dengan memberikan salad buah pada Dila.
Keenam orang itu sarapan dengan sesekali diselingi obrolan serta candaan ala Diki yang selalu mengoda kedua sahabatnya.
"Sayang ... aku ke kamar mandi sebentar," ucap Dila.
__ADS_1
"Iya ... sekalian bawakan baju hangatku. Kamu juga ... pakai pakaian hangat," kata Dion.
"Aku akan sekalian ganti baju," sahutnya.
Dila melangkah menuju kamar tidur, sedangkan Anna dan Maya membersihkan meja makan. Diki, Dion dan Reyhan menuju teras depan sembari duduk santai menunggu istri mereka.
"Kenapa pusing kepalaku datang lagi?" Dila memijit pelipis dekat alis dengan dua buah jari tengahnya. Saat bangun tidur, ia sudah merasakan sedikit pusing, tetapi hal itu wajar; sebab Dila sudah sering merasakannya.
"Di mana aku menyimpan kotak obat?" Dila membuka laci mencari kotak obat yang ia bawa dari rumah. "Oh ... aku lupa. Obat pusing aku simpan di kotak pelembab sensitif dan itu ada di kamar mandi."
Dila membuka pintu kamar mandi. Bayangannya buram dengan kepala yang berdenyut. Ia melangkah masuk dan pandangannya semakin gelap.
"Kepalaku," jerit Dila.
Bugh ... !
Suara Dila mengerang lirih saat kepalanya membentur ujung bak mandi. Matanya perlahan mengatup hingga ia tidak sadarkan diri.
"Ayo berangkat," ajak Anna. "Eh ... mama mana?"
"Belum keluar juga dari kamar?" tanya Dion.
"Biar aku yang panggil," kata Maya.
"Biar aku saja, Maya," sanggah Dion.
"Oh ... baiklah."
Dion beranjak dari duduknya dan bergegas menuju kamar tidur. Pintu ia buka dan Dila tidak ada di tempat tidur.
"Sayang ... kamu di mana?" teriak Dion. "Pasti di kamar mandi." Dion melangkah ke kamar mandi. Pria itu tersentak melihat Dila dengan kepala yang mengeluarkan kucuran noda merah. "Astaga! Dila ... apa yang terjadi?"
Segera mungkin Dion mengangkat tubuh Dila dari lantai marmer yang basah. Air mata tidak tertahan untuk keluar dari kedua pelupuk matanya.
"Reyhannnn, Dikiiii," teriak Dion.
Semuanya masuk ke dalam rumah setelah mendengar teriakan Dion. Semuanya kaget melihat Dion menggendong Dila.
"Siapkan mobil," pekik Dion.
Diki bergegas keluar menyiapkan mobil, sedangkan Reyhan lekas membuka pintu mobil untuk Dion.
"Dila ... bangun," isak Dion. "Jalankan mobilnya cepat."
Diki bergegas menyalakan mesin dan segera mengemudikan mobil menuju rumah sakit. Anna, Maya serta Reyhan ikut serta dengan mobil lainnya.
Bersambung.
Dukung Author dengan like, vote dan koment.
__ADS_1