MY SWEETIE BOYFRIEND

MY SWEETIE BOYFRIEND
HUKUMAN MANIS


__ADS_3

"Sayang, kamu marah kenapa?" tanya Dila.


"Jangan berlagak tidak mengerti, dan polos, Dila!" Dion memutar diri memandang tajam istrinya. "Aku ini suamimu! Apa kamu ingin melemparku kepada wanita itu, hah?!"


Dila tersentak, "Aku tidak bermaksud begitu."


Dion bertepuk tangan, "Bagus, Dila. Kamu memberi kesempatan kepada wanita lain untuk dekat denganku. Melayaniku, dan tertawa bersamaku. Di mana pikiranmu itu!"


"Aku tidak bermaksud begitu," bantah Dila.


"Berapa lama aku mendiamkan sikapmu itu. Namun, kamu seakan biasa saja. Jika aku tidak menyuruh Nilam pergi, kamu akan membiarkan dirinya tinggal di sini untuk selamanya, kan? Apa kamu tidak sakit hati melihat kedekatanku bersamanya? Katakan padaku, Dilaa!"


Dila menyuruh Dion membantu proses perpisahan Nilam, dan suaminya itu menurutinya. Dion kira, setelah itu Dila akan menyuruh Nilam pergi.


Namun, Dila malah menyuruh Nilam untuk tinggal bersama; sebab wanita yang juga mantan Reyhan itu, tidak punya apa-apa. Rumah orangtua Nilam memang ada, tetapi di luar kota.


Semakin hari Dion memperhatikan Nilam yang berusaha untuk dekat dengannya. Kadang keduanya bercanda, dan Dila menyaksikan itu. Namun, Dila tidak marah, dan bersikap biasa saja.


Menurut Dion, jika suami yang bercanda bersama wanita lain, bukankah istrinya akan marah, dan cemburu. Namun, berbeda dari Dila. Wanita itu malah mengabaikan kedekatan keduanya.


Kedekatan itu lalu menjadi-jadi. Nilam mulai berani melayani Dion seperti menyambut ia saat pulang bekerja. Kadang Dion berpikir, apa Nilam pulang kerja memang lebih awal darinya? Setiap Dion kembali ke rumah, Nilam selalu ada.


Nilam juga sering membuat kue untuknya. Bahkan, Nilam berani untuk menyiapkan sarapan, dan makan malam. Dion merasa yang menjadi nyonya rumah, adalah Nilam, dan bukannya Dila.


Lalu, di mana Dila? Istrinya itu banyak menghabiskan waktu di kamar, dan bersama dengan Delilah. Sikap Dila itu masih Dion abaikan.


Pada puncaknya, adalah ketika Nilam masuk ke ruang kerja sembari membawakannya minuman hangat. Dion benar-benar menahan amarahnya, dan tidak tahu apa yang terjadi pada istrinya.


"Apa maksudmu, Dila? Apa maksudmu!" bentak Dion.


"Ak-aku tidak bermaksud begitu," bantah Dila.


"Apa kamu ingin menjadikan Nilam istriku begitu?"


Dion tidak habis pikir. Di mana Dila yang bersikap tegas itu? Bisa-bisanya istrinya membiarkan wanita lain berbuat seenaknya.


"Kalau kamu memang ingin aku menikahi wanita itu, sekarang juga aku akan meminta Nilam untuk menikah denganku!"

__ADS_1


"Tidakkkk!" jerit Dila.


Segera Dila memeluk Dion dengan erat. Ia memang sempat berpikir seperti itu, tetapi hati Dila sakit saat melihat kedekatan Dion bersama Nilam.


Awalnya Dila merasa Dion memang tidak keberatan akan kedekatan keduanya. Namun, Nilam seakan memanfaatkan kelonggaran yang Dila berikan.


Ya, siapapun akan memanfaatkan kesempatan jika tuan rumah sendiri yang memberikan peluangnya. Namun, sebagai seorang yang telah dibantu, bukankah setidaknya merasakan rasa malu atau rasa tidak nyaman? Tetapi Dila tidak menemukan hal itu pada diri Nilam.


Dila juga memperhatikan Nilam yang seakan mengambil perhatian Dion. Ia hanya membiarkannya saja, dan belum ingin bertindak.


Dila berpikir, suaminya sendiri yang tertarik pada janda anak satu tersebut. Nilam cantik, dan muda. Lebih pantas mendampingi Dion ketimbang dirinya.


"Aku kira kamu memang menyukai Nilam," isak Dila.


"Mimpi kamu! Mana mungkin," ucap Dion kesal.


"Kenapa kamu tidak marah? Malah kamu menerima perlakuannya?"


"Kamu yang tidak marah? Aku menuruti kemauanmu untuk membantunya, lalu menuruti kemauanmu agar dia tinggal di sini. Kamu sadar tidak? Jika hal itu tidak baik bagi pernikahan kita!" tutur Dion.


"Aku merasa tidak enak untuk menegur, dan mengusirnya. Tetapi untung saja kamu bertindak cepat," kata Dila.


"Bukannya begitu. Aku ingin, tetapi sudah keduluan Nilam. Saat aku ingin mengantarkan minuman di ruang kerja, dia sudah masuk duluan. Saat aku ingin menyambutmu selepas dari kantor, Nilam duluan yang menghadang. Bahkan, dia tidak sempat untuk berganti pakaian kantor," tutur Dila.


Dion meraih kedua wajah Dila, "Lalu, di mana macan betina itu? Kenapa kamu tidak menerkamnya?"


"Aku tidak sanggup untuk berdebat. Aku sangat terbawa perasaan akhir-akhir ini. Hatiku ini sangatlah rapuh," kata Dila.


"Sayanggg!" Dion mencubit kedua pipi Dila. "Kamu sengaja untuk mengujiku?"


"Siapa bilang?"


"Tidak, kamu pasti sengaja agar aku yang mengusir Nilam dari rumah. Kamu mempermainkanku, dan harus diberi hukuman," kata Dion dengan merebahkan Dila di atas tempat tidur.


"Sebentar, Sayang. Aku tidak mempermainkamu, tetapi hanya melihat kesungguhanmu."


Dion melepas pakaiannya satu per satu, dan juga melepas pakaian yang Dila kenakan. Tidak ketinggalan pelumas serta bacaan doa sebelum berhubungan suami dan istri.

__ADS_1


"Jangan siksa aku! Kasihanilah umurku ini," kata Dila.


Dion tertawa geli, "Aku akan pelan-pelan."


...****************...


"Bi Sari, mama dan papa kenapa? Mereka teriak-teriak di kamar. Sepertinya papa marah. Ayo, kita ke kamar mereka," ajak Delilah.


"Jangan, Nona. Nanti papa Dion marah. Lebih baik Nona tidur saja," kata Sari.


"Tapi, aku takut papa marah. Apa aku telepon kakak saja?"


"Jangan! Sudah malam. Tuan Reyhan pasti lelah, dan sudah tidur," kata Sari.


"Tapi aku mau ke kamar mama," rengek Delilah.


"Nona tunggu di sini saja. Biar Bi Sari yang periksa."


Delilah mengangguk, dan membiarkan Sari keluar melihat keadaan. Sari berdiri di depan pintu kamar Dion. Ia ragu untuk menguping, tetapi Delilah pasti akan meminta kabar akan orangtuanya.


"Maaf tuan, nyonya, Sari menguping." Sari menempelkan daun telinganya di pintu. Tidak ada suara pertengkaran di dalam sana. "Apa tuan dan nyonya sudah tidur?" Bergegas Sari menjauh dari kamar Dila. Ia masuk kembali ke kamar Delilah.


"Bagaimana?" tanya Delilah.


"Nyonya, dan tuan sudah tidur."


Delilah bernapas lega, "Syukurlah. Tapi tadi papa kelihatan marah."


"Sudahlah, Nona. Jangan dipikirkan. Lebih baik tidur saja," kata Sari.


Dila mengusap puncak kepala Dion dengan lembut. Suaminya sudah terlelap dalam mimpi setelah menuntaskan kewajiban, dan segala hasrat yang bergelora. Dila kecup kening, mata, hidung serta bibir suaminya.


"Maaf, Sayang. Aku juga kesal pada Nilam. Sudah ditolong, kok, masih ingin merebutmu dariku. Untung saja kamu peka, dan langsung mengusir Nilam." Dila mengusap tubuh bidang Dion yang polos.


Tuh, kan, Dila memang sengaja menyuruhku mengusir Nilam. Secara tidak langsung dengan sikap acuhnya itu sebagai tanda ia tidak senang akan perbuatan Nilam. Pantas saja Reyhan licik. Keturunan dari mamanya. Awas saja kamu, Sayang.


Dion hanya berpura-pura tidur. Dila turun dari tempat tidur, lalu memakai jubah satin di tubuhnya. Ia tatap rembulan malam lewat kusen jendela.

__ADS_1


"Nilam, tidak perlu aku yang melemparmu. Suamiku sendiri yang mengusirmu dari rumah." Dila tertawa kecil, "kasihan. Pasti harga dirimu tercabik-cabik akan perkataan Dion tadi."


Bersambung.


__ADS_2