
Dila terbaring tidak berdaya di atas brangkar pasien. Dion duduk di kursi sampingnya sambil mengaji. Dalam keadaan yang seperti ini pun, Dion berharap Dila mendapat keajaiban.
Dion seka mata Dila yang mengeluarkan kotoran dengan tissu. Mata itu tidak lagi bisa terangkat. Dila mengerjap. Tissu basah membuat matanya perih.
"Kamu bangun rupanya," kata Dion dengan menyeka ulang mata Dila dengan tissu kering.
Pintu ruang ICU terbuka. Dokter dan perawat datang untuk mengecek keadaan Dila. Sedikit pun Dion tidak ingin bertanya keadaan istrinya; sebab dokter akan mengatakan perkataan penuh harapan, tetapi keadaan sebenarnya Dila tidak bisa lagi diselamatkan.
"Sabar, Tuan," ucap Dokter Andre.
Dion mengangguk, "Terima kasih."
Dokter dan perawat itu pergi setelah melakukan tugasnya. Dion pandangi wanita lemah yang masih cantik meski dalam kondisi memprihatikan. Rambut Dila dipotong pendek. Meski berguguran, tetapi Dion tidak ingin rambut istrinya dipangkas habis.
Sekali lagi pintu ruangan terbuka. Kali ini putri mereka Delilah yang masuk. Gadis itu memang ikut ke rumah sakit, tetapi menunggu di luar bersama yang lainnya.
"Papa!" serunya.
"Kemarilah," kata Dion.
Delilah memeluk papanya dengan erat. Matanya sudah bengkak karena menangis sejak Dila dibawa kembali ke rumah sakit.
"Mama, Pa," ucapnya.
"Mama akan baik-baik saja. Jangan bersedih. Doakan yang terbaik untuk mamamu."
Meski itu hanya kata sebagai penghibur, nyatanya hati Dion lebih tidak bisa menerima hal itu. Ia hanya kuat di luar saja, tetapi sesungguhnya ia sangat rapuh.
Tidak lama Reyhan dan Anna masuk ke dalam ruangan. Mereka juga turut bersedih, tetapi Rey tidak mengeluarkan air mata. Ia tidak ingin Dion merasa semuanya telah hilang. Sahabatnya tidak mengeluarkan air mata, lalu kenapa ia juga turut menangis? Meskipun Rey tahu jika Dion sangatlah rapuh.
"Di-on," suara Dila terdengar.
Dion melepas pelukan Delilah, lalu mendekat pada istrinya. Ia dekatkan telinganya di bibir sang istri agar dapat mendengar apa yang Dila ucapkan.
"Maafkan aku, Sayang. Jaga anak-anak kita. Bimbinglah aku sekarang," Dila berkata dengan suara samar.
Dion mengangguk. Ia mengigit bibir kemudian mengenggam tangan istrinya. Reyhan, Anna, Delilah berada di sisi samping kiri dan kanannya.
Dion menuntun Dila mengucapkan lafaz tahlil. Berkali-kali ia menuntun Dila mengucapkan lafaz itu hingga embusan napas terakhir yang menandakan Dila sudah pergi untuk selama-lamanya.
Tangis Delilah dan Anna pecah. Keduanya memeluk Dila. Pegangan tangan Dion terlepas. Ia kecup kening istrinya untuk yang terakhir kali. Reyhan juga akhirnya menangis, lalu segera memanggil dokter.
Dokter datang untuk memastikan keadaan Dila. Kondisi Dila dinyatakan sudah meninggal. Selang infus dan oksigen dicabut dari tangan, dan hidungnya.
__ADS_1
Dion terpaku tatkala suster menutup seluruh tubuh istrinya yang tidak bernyawa. Anna, Delillah menangis bersama. Reyhan pergi mengurus kepulangan jasad orangtuanya.
"Kenapa? Kenapa kamu pergi dulu? Kenapa tidak pergi bersamaku? Kita berjanji untuk bersama selamanya," ucap Dion.
Anna tersentak mendengarnya. Segera ia dekati Dion. "Pa, Papa yang sabar. Mama sudah tenang di alam sana. Penyakitnya sudah sembuh. Kita doakan agar mama tenang di surga sana."
"Lalu aku? Bagaimana denganku? Dia membawa hatiku," kata Dion.
"Papa, ikhlaskan mama," kata Anna.
Dion keluar dari ruang ICU. Anna mengejarnya keluar. Reyhan yang berpapasan dengan Dion, menahan lengan pria itu.
"Mau ke mana?" kata Rey.
"Lepaskan!" kata Dion dengan mendorong Reyhan.
"Papa!" seru Anna.
"Sudah, Ann. Mungkin papa butuh waktu sendiri," kata Reyhan.
"Aku khawatir."
"Kita urus mama dulu," ucap Reyhan.
...****************...
Masing-masing memberi ucapan bela sungkawa, tetapi Dion masih belum menampakkan batang hidungnya. Reyhan menyuruh anak buahnya untuk mencari keberadaan papa tirinya itu.
"Ke mana Dion? Kenapa dia belum kembali?" Reyhan sudah gelisah sebab sore ini juga Dila akan dimakamkan.
"Mungkin sebentar lagi," sahut Diki.
"Dik, carilah Dion. Aku sangat khawatir," kata Reyhan.
Diki mengangguk, "Baiklah. Aku akan pergi mencarinya."
"Reyhan, jika Dion tidak juga hadir, kita makamkan saja Dila," usul Bastian.
"Iya, Om. Lebih baik begitu. Jam juga sudah menunjukkan waktunya," sahut Reyhan.
...****************...
"Dilaaaa!" teriak Dion di tepi pantai.
__ADS_1
Pengunjung yang juga berada di pantai itu heran mendengar suara teriakan Dion. Pria itu terduduk di tepi pantai. Berteriak sekencang mungkin.
"Mengapa takdir mengambilmu lebih dulu? Kenapa dia tidak memanggilku bersamamu?" ucap Dion dengan lirihnya.
Air mata menodai pipinya. Hatinya terasa sakit tertusuk ribuan jarum. Nalarnya menolak jika Dila benar-benar tiada meski Dion tahu hal itu akan terjadi selama pria itu merawat istrinya yang sakit.
Kepergian Dila sungguh tidak dapat Dion terima. Ini terlalu sakit untuknya. Ia ingin semesta mengambil hidupnya detik ini juga. Semesta membiarkan jiwanya hidup, tetapi mencabut raganya.
Bunga yang kembang telah mati.
Hari yang cerah telah gelap gulita.
Senyum yang mengembang tidak dapat kulihat.
Mata yang bersinar telah tertutup untuk selamanya.
Tubuh yang biasa kupeluk telah lenyap dari dekapanku.
Semesta dengan sadis telah mengambilnya dari seorang jiwa pencinta.
...****************...
Pemakaman telah berlangsung tanpa kehadiran sosok Dion. Keluarga, teman, sahabat turut mengantar kepergian mendiang dengan duka cita. Sahabat-sahabat mengenang baik akan sifat beliau semasa hidup.
Satu per satu pelayat yang datang, telah pulang. Reyhan beserta keluarga juga pulang setelah menabur bunga, dan mendoakan mendiang.
"Ke mana papa? Aku mengkhawatirkannya, " kata Delilah.
"Sudahlah, Delilah. Papa akan datang ke sini nanti," jawab Reyhan.
"Semoga mama tenang di sana," ucap Delilah.
"Aminn," ucap semuanya.
Seorang pria yang jiwanya terluka datang. Pria itu terseok-seok melangkah menuju makam yang taburan bunganya masih harum. Dion hadir setelah semuanya pergi. Bersimpuh di hadapan makam istrinya. Dengan lelehan air mata ia genggam tanah yang menimbun sang istri. Ia peluk dan kecup nisan yang bertuliskan nama wanita yang ia cintai.
"Sayang, hidupku kini penuh dengan kegelapan. Cahaya mentariku telah tenggelam untuk selama-selamanya. Lihatlah aku. Bahkan, kaki ini tidak bisa lagi berjalan. Aku merangkak karena tidak ada lagi yang menuntunku. Mengapa kamu pergi secepat ini? Tidakkah kamu kasihan padaku?"
Dion menangis tersedu-sedu. Jika ada yang melihat maupun mendengar rintihannya, pastilah orang tersebut akan ikut bersedih. Sungguh ia mencintai istrinya hingga kematian sang istri membuatnya terpuruk sebegitu dalam.
Diki melihat sahabatnya dari kejauhan. Tidak disangka ia menemukan Dion yang sudah berada di makam. Diki tidak ingin menganggu, hanya memperhatikan saja.
"Aku berharap kamu bisa menerimanya dengan ikhlas, Dion," ucap Diki yang turut bersedih.
__ADS_1
Bersambung.
Dukung Author dengan vote, like, dan koment.