
"Bagaimana kabarmu?" tanya Dion.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja," jawab Nilam.
Pelayan datang membawa makanan. Nilam sempat memberitahu pelayan restoran agar pesanan makanannya diletakkan di meja Dion.
"Kita makan dulu!" ajak Dion.
Keduanya makan dengan lahap. Terlebih Dion yang sudah sangat kelaparan. Pelayan kembali datang membawa bungkusan makanan yang pria itu pesan untuk istrinya.
"Itu untuk siapa?" tanya Nilam.
"Untuk istriku. Dia sedang dirawat," jawab Dion.
Nilam kaget, "Benarkah?"
Dion mengangguk, "Dila terjatuh dari kamar mandi, dan syukurlah dia baik-baik saja."
"Apa aku boleh menjenguknya?" tanya Nilam.
"Tentu, lagian kamu belum pernah bertemu ibunya Reyhan, kan?"
Nilam mengerutkan dahi. Nalarnya berpikir apa hubungan ibunya Reyhan, dan istri Dion? Apa mungkin, istri Dion dijaga oleh ibunya Reyhan? Dion tersenyum memandang ekspresi tanda tanya pada wajah temannya.
"Mamanya Reyhan, adalah istriku," ucap Dion.
"Apa?!" Nilam terbelalak.
Dion tertawa, "Biasa saja kagetnya."
Nilam mengeleng tidak percaya, "Tipe wanitamu tidak berubah rupanya."
"Kita langsung ke rumah sakit saja," kata Dion.
Nilam mengangguk, lalu keduanya beranjak dari restoran setelah membayar tagihan makanan. Dion dan Nilam berjalan kaki saja untuk sampai ke rumah sakit; sebab memang jarak restoran sangat dekat.
"Berapa anakmu?" tanya Dion.
"Baru satu," jawab Nilam, "kalau kamu?"
"Kalau aku dua. Satu Reyhan, dan satu lagi Delilah putri kandungku bersama Dila."
Ternyata Dion punya anak dari mamanya Reyhan.
Dila menoleh saat pintu kamar rawatnya dibuka. Ia tersenyum saat melihat suaminya yang masuk, tetapi alisnya menyatu ketika seorang wanita ikut masuk bersama sang suami.
"Terima kasih, Suster. Sudah mau menjaga istri saya," ucap Dion.
"Sudah tugas saya, Tuan," balas suster, lalu beranjak pergi.
Dion meletakkan makanan di meja, lalu mendaratkan kecupan di kening istrinya. Nilam memperhatikan wajah Dila yang cantik meski, kerutan tidak dapat disembunyikan.
Waktu muda mama Reyhan pasti sangat cantik. Tua saja masih sangat menarik.
"Sayang, aku kenalkan pada mantan kekasih anak kita, Reyhan. Dia Nilam, teman kuliah kami," ucap Dion.
Dila tersenyum, "Halo."
"Hai, aku Nilam." Sungguh Nilam tidak tahu harus menyebut Dila dengan sebutan apa. Jika panggil nama saja rasanya tidak pantas. Kalaupun dipanggil dengan tante, statusnya, adalah istri dari temannya.
__ADS_1
"Panggil saja Tante," ucap Dila yang mengerti ketidaknyamanan Nilam.
"Iya, Tan."
"Kamu mantan kekasih Reyhan rupanya," ucap Dila.
"Ah, itu hanya cinta monyet, Tan. Waktu masih kuliah dulu," sahut Nilam. "Bagaimana keadaan, Tante? Apa sudah mendingan?"
"Lumayan. Hanya pusing sedikit-sedikit."
Obrolan itu berlanjut dengan Nilam menceritakan masa lalunya bersama Reyhan, Diki, dan Dion. Masa-masa mereka kuliah hingga menikah.
"Kamu tinggal di mana selama ini?" tanya Dion sembari menyuapkan Dila makanan.
"Di kota Bali, dan aku baru kembali lagi ke Jakarta karena pekerjaan," jawab Nilam.
"Begitu rupanya," jawab Dila, dan seketika wanita itu terbatuk-batuk.
Bergegas Dion memberi Dila minum, lalu mengusap punggung belakang istrinya. Bibir Dila yang belepotan air, juga ia lap dengan tisu.
"Kalau makan jangan sambil bicara. Tersedak jadinya, kan?" kata Dion.
Perhatian sekali Dion terhadap istrinya.
"Dion, Tante, saya pamit pulang. Sudah malam juga," kata Nilam.
"Biar aku antar ke depan," kata Dion.
"Hati-hati di jalan, Nilam," ucap Dila.
Dion membuka pintu untuk temannya itu. "Terima kasih sudah mau menyempatkan diri menjenguk istriku, Nil."
Dion masuk kembali, dan membuat Dila heran. "Katanya mau antar Nilam sampai ke depan."
"Aku sudah mengantarnya."
"Cepat sekali pulangnya?" tanya Dila.
"Aku hanya mengantar sampai di pintu ruang rawat."
Dila menepuk kening, "Aku kira kamu mau mengantarnya sampai keluar rumah sakit."
"Buat apa? Dia sudah besar, dan bisa berjalan sendiri. Kamu juga belum selesai makan," kata Dion.
Suamiku terlalu bucin. Dila merebahkan kepala di atas bantal. Matanya kembali terpejam. Pengaruh obat masih ia rasakan.
"Malah tidur, Sayang. Makanannya enggak mau dihabiskan?"
"Aku sudah kenyang, dan mau tidur saja," ucap Dila.
Dion membereskan sampah makanan, lalu ikut naik ke atas ranjang pasien. Tidak sah bagi Dion untuk tidur tanpa memeluk istri tercintanya.
"Selamat malam, Kesayanganku," ucap Dion sembari mengecup pipi Dila.
Di lain sisi Nilam mengendarai mobil sembari mengingat perlakuan Dion pada Dila. Dalam hati ia ingin sekali diperlakukan begitu oleh suaminya sendiri.
"Kapan aku bisa diperlakukan romantis seperti itu. Kehidupan pernikahanku hanya ada pertengkaran saja," gumam Nilam. "Sungguh beruntung tante Dila. Ya, Dion memang sangat baik, dan juga lembut orangnya. Andai saja aku berjodoh dengan pria seperti dia."
...****************...
__ADS_1
"Semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap dokter.
"Jadi saya boleh pulang, Dok?" tanya Dila.
Dokter wanita dengan kacamata bertengger di hidung mengangguk, "Iya."
"Syukurlah. Terima kasih, Dok," ucap Dion.
"Biar Anna bantu bereskan barang Mama."
"Maya juga," sahutnya.
Selesai mengantar dokter ke depan pintu, Dion mendekati sahabat baiknya Reyhan. Pria itu menyenggol lengan Rey sembari berbisik dengan mata melirik Anna.
"Rey," bisik Dion, "semalam mantanmu kemari."
"Apa, sih? Mantan siapa," sahut Reyhan yang ikut berbisik.
Diki menajamkan alat pendengarannya. Mencoba mencuri dengar bisik-bisik di antara kedua sahabat itu.
"Mantan kekasihmu waktu kuliah. Nilam, masa kamu lupa," kata Dion.
Reyhan mencoba mengingat-ingat mantan-mantan kekasihnya. Bagi Reyhan tidak ada wanita yang menjadi kekasih yang sebenarnya. Para wanita yang menjalin hubungan dengannya hanya sekadar keisengan saja.
"Nilam? Siapa, ya?" gumam Reyhan pelan.
"Maksudmu Nilam Kandi?" tanya Diki yang berhasil membuat perhatian. "Nilam, kan, mantan kekasih Reyhan dulu."
"Apa?" sahut Anna.
Reyhan dan Dion melotot ke arah Diki yang tidak bisa menjaga mulutnya. Maya juga kaget, pasalnya ia tahu siapa itu Nilam Kandi.
"Semalam, wanita yang bernama Nilam datang menjenguk Mama," kata Dila.
Anna memandang Maya. "Nilam itu orangnya cantik, May?"
Maya melihat ke arah tiga pria yang memberi isyarat untuk mengatakan tidak. Anna memandang lekat Maya untuk mengetahui segalanya.
"Kalau wanita pasti cantik," jawab Maya.
"Malam ini kamu tidur di luar, Rey," kata Anna.
"Kenapa aku?" protes Reyhan. "Ini semua karena Dion."
"Sayang, kamu juga tidur di luar kamar," sambung Dila.
"Kamu juga, Diki. Kalian semua tidak bisa jaga mulut," tambah Maya.
"Tidak bisa begitu," protes ketiganya.
Ketiga pria bersahabat itu saling menyalahkan satu sama lain. Reyhan memukul kepala Diki, sedang Diki tidak terima, dan membalas Reyhan. Dion menjadi sasaran keduanya, dan jadilah ketiganya bergelut.
"Lihat, umur sudah kepala empat, mereka tetap seperti anak-anak," kata Dila.
"Biarkan saja, Ma," sahut Anna dengan mengabadikan moment itu dalam sebuah video, dan foto.
Bersambung.
Dukung Author dengan vote, like, koment.
__ADS_1