
Bukankah mata ini buta untuk melihat siapa dirimu? Aku mengawali cinta ini dengan hati dan doa. Setiap doa kupanjatkan agar semesta menyatukan kita berdua di dunia. Kali ini pun aku berdoa agar semesta segera menyatukan kita di surganya kelak.
"Delilah ... bisakah Papa bicara padamu sebentar?" tanya Dion.
"Papa mau bicara padaku, bicara saja," sahutnya.
"Kita bicara di taman belakang. Jangan lupa pakai jaket rajutmu," ucap Dion kemudian berlalu dari pintu kamar menuju taman belakang rumah mereka.
Delilah memakai celana panjang kain serta jaket rajut karena memang hari sudah malam. Kemudian ikut menyusul Dion yang telah berjalan lebih dulu.
"Duduklah dekat Papa," ucap Dion saat putrinya sudah datang.
Delilah duduk di samping Dion. "Ada apa, Pa?"
"Sayang ... kamu menyukai nona Ardila?" tanya Dion.
"Iya, Delilah suka. Orangnya baik, kok. Kenapa Papa bertanya begitu?" Delilah mengerutkan dahi karena tidak paham pertanyaan dari papanya.
"Mau Papa ceritakan sebuah kisah?"
Delilah mengangguk, "Iya, Deli mau."
"Kisah sederhana. Kisah seorang pria menyukai wanita yang memiliki umur berbeda. Meski ada banyak wanita cantik yang memperebutkannya. Dia tetap mencintai wanita berumur itu. Mereka menikah, lalu takdir mengambil salah satu dari mereka, dan tinggallah pria itu meratapi kesedihannya."
"Lalu?" tanya Delilah.
"Pria itu tidak bisa melupakan istrinya, tetapi keluarganya ... menyuruhnya untuk menikah lagi demi putri mereka." Dion mengusap lembut puncak kepala Delilah. "Kamu masih lima belas tahun. Belum mengerti apa-apa. Pergilah tidur."
"Delilah tidak ingin memaksa Papa. Siapa yang mengatakan Delilah menginginkan ibu baru?" Delilah menatap wajah Dion. "Hanya suka karena tante Ardila mengisi kekosongan dalam hati ini. Rasanya belum lama Delilah menghabiskan waktu bersama mama."
Bulir bening menetes dari kelopak mata Delilah. Ia mengerti maksud dari cerita yang di sampaikan Dion. Sebenarnya Ia pun merasa sangat kehilangan akan sosok Dila. Belum lama ia bisa bersama ibunya, tetapi dengan cepat takdir sudah memisahkan keduanya.
Dion memeluk putrinya. "Maafkan Papa, Nak. Jika kamu menyuruh Papa untuk memberikan seorang pengganti mamamu, Papa minta maaf karena tidak bisa mengabulkannya."
__ADS_1
Menikahi wanita lain tidak ada dalam daftar hidup Dion. Lebih baik ia tiada daripada tersiksa hidup bersama wanita lain selain Dila. Egoiskah Dion? Ia lebih mementingkan perasaannya daripada perasaan putrinya.
Delilah mengeleng, "Tidak ... siapa yang bilang begitu? Tidak ada yang bisa mengantikan mama. Siapa pun itu."
Dion juga tidak dapat menahan air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Ini salahnya juga yang tidak ada untuk Delilah. Ia memang berubah, tetapi tetap saja kekosongan dalam hatinya terlihat. Ia selalu mengurung diri di kamar, padahal Delilah juga kesepian.
"Putri Papa mau mengenang masa-masa bersama mama? Kita akan lakukan kegiatan seperti saat ada mama," kata Dion.
Delilah mengangguk, "Iya ... Delilah mau, Pa."
...****************...
"Ini apa?" tanya Ardila.
"Itu hadiah buat Tante dari Delilah."
Saat ini Delilah berada di salon milik Ardila. Setelah pulang sekolah dan berganti pakaian, Delilah meminta Paijo mengantarnya ke salon.
Ardila membuka kotak hitam yang baru saja ia terima sebagai hadiah. Namun, ia kaget dengan isi di dalamnya. Sebuah jam bermerek ia dapatkan dari putri berumur lima belas tahun.
Tidak aneh Delilah mendapatkan barang mewah seperti itu. Kakak dan papanya pengusaha. Belum lagi warisan dari ibunya yang semuanya diberikan untuk Delilah seorang.
"Tidak, kok, Tan. Papaku sudah tahu jika aku akan memberikan Tante hadiah. Selama ini Tante sudah mau jadi temanku. Aku sangat berterima kasih karena Tante, Delilah tidak kesepian lagi. Tante sangat perhatian, dan Deli merasa dekat sama mama."
Ardila tersenyum, "Anggap Tante sebagai mamamu."
"Terima kasih, Tante. Delilah akan menganggapnya begitu jika Tante mengizinkannya. Tapi, Delilah tidak ingin Tante menikah dengan papa. Cukup mama yang menjadi pendamping papa," ucap Delilah tersenyum.
Ardila tersentak mendengarnya. Ia mengira Delilah menyukainya dan ingin menjadikannya sebagai pengganti dari Dila. Apa ia yang salah mengira semua ini? Atau dirinya yang terlalu menganggapnya berlebihan? Tidak ada yang salah jika anak umur lima belas tahun berteman dengan wanita dewasa. Apalagi wanita itu memberi pengaruh positif pada dirinya. Rasanya memang Ardila sendirilah yang membawa perasaan akan kedekatan antara mereka berdua.
"Iya ... Tante akan menjadi teman Delilah."
"Terima kasih." Delilah langsung memeluk Ardila.
__ADS_1
...****************...
"Delilah bilang Nona ingin bertemu saya. Ada apa, ya?" tanya Dion.
"Saya ingin membuat pengakuan," ucap Ardila.
Ketika Delilah mau pulang, Ardila menitipkan pesan kalau ia ingin bertemu Dion di restoran dekat salon. Meski sudah akrab bersama Delilah, tetapi Ardila tidak punya nomor kontak duda satu anak itu.
"Pengakuan?" tanya Dion.
Ardila menatap wajah Dion. Seharusnya ia tidak mengatakan hal ini, tetapi ia harus melakukannya sebab jika tidak, hatinya akan sangat penasaran akan jawaban dari Dion.
"Saya menyukai Anda," ungkap Ardila.
Dion terdiam mendengarnya. Kaget? Sama sekali tidak ada karena ia tahu Ardila menyimpan rasa kepadanya. Dion tersenyum manis dan membuat Ardila terkesiap karena pertama kali ia melihat Dion tersenyum di hadapannya.
"Apa Nona Ar tahu, kenapa saya tidak memanggil nama Nona dengan panggilan Dila?"
Ardila mengeleng, "Tidak."
Dion kembali tersenyum. "Nama Dila, adalah nama istri saya. Sebelum Nona mengatakan suka, ada banyak wanita yang mengatakan hal sama. Cinta dan hidup saya hanya untuknya. Tiada wanita selain Dila di hati ini."
"Saya mengerti jika pernyataan perasaan ini terlalu cepat. Anda pasti belum bisa melupakan beliau," ucap Ardila.
"Mana mungkin saya melupakannya. Bertahun-tahun saya memendam perasaan cinta. Mengejarnya, bahkan merebutnya dari tangan papa saya sendiri. Setelah ia tiada pun, cinta ini tetap tumbuh semakin besar, bahkan menyiksa. Saya hidup dengan kehampaan, merasa gila. Jangan tertipu dengan penampilan saya saja. Sesungguhnya ini hanyalah kepura-puraan semata."
Ardila tersentak mendengarnya. "Tuan ... apa yang Anda katakan?"
Dion beranjak dari duduknya. "Terima kasih untuk segala yang Anda berikan kepada putri saya. Tetapi maaf, saya tidak bisa menerima perasaan Anda."
Dion melangkah pergi dari restoran. Ardila terpaku memandang pria yang ia sukai. Ia tidak habis pikir dengan apa yang Dion ucapkan. Adakah cinta gila seperti itu di dunia? Sihir apa yang digunakan Dila hingga Dion menjadi gila karenanya? Para wanita cantik sama sekali tidak terlihat dari pandangan mata pria itu.
Jika aku diberi satu permintaan oleh semesta, maka aku akan meminta satu hal padanya. Sebuah mesin waktu. Aku akan memutar kehidupan kita, yaitu menikmati sekali lagi kebersamaan kita berdua.
__ADS_1
Bersambung.
Dukung Author dengan vote, like dan koment.