MY SWEETIE BOYFRIEND

MY SWEETIE BOYFRIEND
NIAT


__ADS_3

"Hari ini aku lembur. Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," ucap Dion.


"Maafkan aku, Sayang. Gara-gara kamu menjagaku di rumah sakit, pekerjaanmu menjadi terbengkalai," sahut Dila.


"Hei, kenapa bicara seperti itu?" Dion memeluk tubuh Dila, dan mendaratkan kecupan di pipi. "Sudah tugasku untuk menjagamu. Aku usahakan pulang sebelum jam makan malam."


Dila mengangguk, "Iya, kotak makan siangnya jangan lupa dibawa."


"Oke, Sayang." Dion mengecup bibir Dila kemudian melambaikan tangan melangkah keluar rumah.


"Nyonya, apa mejanya boleh dibereskan?" tanya Sari yang tiba-tiba sudah berada di samping Dila.


"Kamu bereskan saja. Aku mau istirahat. Tubuhku gampang lelah," kata Dila sembari beranjak menuju kamar tidur.


Dila masuk ke kamar tidur, dan langsung menghadapkan dirinya pada cermin. Ia lihat kondisi tubuhnya di sana. Tubuh itu masih langsing, kencang, dan wajahnya juga cantik dengan beragam perawatan yang ia lakukan.


Cantik memang harus sakit. Demi menyenangkan suaminya, Dila melakukan perawatan apa saja. Benang-benang halus tertanam di wajahnya. Ini bukan Dila yang sebenarnya. Ia menyukai perawatan dengan memakai krim saja.


Perawatan yang Dila lakukan memang biasa saja, dan sebagian wanita melakukannya asal tidak mengubah wajah dengan operasi plastik. Namun, tetap saja proses itu melelahkan.


Dila merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tidak ada niat ia untuk melakukan olahraga. Biasanya, setiap pagi Dila akan berolahraga. Setelah kembali dari rumah sakit, ia tidak berniat melakukan itu. Hanya tidurlah yang ingin ia lakukan.


...****************...


"Jam berapa klien kita datang? Ini sudah telat sepuluh menit," kata Dion kesal.


Sudah sepuluh menit Dion bersama asistennya menunggu klien yang akan datang di restoran. Ia juga terlihat kesal siang ini; sebab Dila tidak mengangkat telepon.


"Aku mau pulang. Istriku tidak mau mengangkat telepon," ucap Dion.


Asisten Dion bernama Andi menghela napas, "Paling istri Tuan lagi tidur. Ini, kan, jam tidur siang. Pekerjaan kita juga banyak, Tuan. Hari ini kita lembur."


Dion mendengus, "Aku tidak mau menunggu lagi. Batalkan saja kerja samanya. Aku mau pulang."


Dion beranjak dari duduknya, lalu melangkah keluar dari restoran. Andi yang memanggil tidak ia hiraukan. Saat ini ia ingin pulang menemui Dila.


"Tuan, pekerjaan bagaimana?" Andi menghela napas panjang. "Hari ini aku bakal lembur sendirian."


Dering ponsel Dion terdengar tatkala pria itu telah masuk ke dalam mobilnya. Sebuah panggilan video dari yang terkasih, yaitu My lovely wife. Segera Dion mengangkat panggilan itu, dan meletakkan ponsel di atas penyangga ponsel.


"Kamu ke mana? Aku telepon dari tadi tidak di angkat?" tanya Dion.


"Aku tertidur. Ini baru bangun," jawab Dila.


"Aku mau pulang."


"Kenapa? Katanya tadi mau lembur," kata Dila.


"Karena kamu yang tidak mengangkat telepon dariku. Aku khawatir karena kamu baru keluar dari rumah sakit," tutur Dion.

__ADS_1


"Sayang, aku baik-baik saja. Sekarang aku pergi belanja. Kamu menyusul saja ke tempat biasa." Dila langsung mematikan panggilan videonya.


Dion berdecak, "Kebiasaan Dila. Dia selalu mematikan telepon lebih dulu."


...****************...


Dila sampai di pusat perbelanjaan dengan diantar taksi online. Terlihat Dion sudah sampai duluan, dan menunggu kedatangannya di depan pintu masuk. Dila keluar, dan Dion segera membayar ongkos taksi.


"Sudah lama, Sayang?" tanya Dila.


"Mau kamu setahun lagi sampai juga, bakal aku tungguin," jawab Dion.


"Gombal terus," kata Dila.


Keduanya masuk ke dalam, dan langsung menuju area supermarket. Dila memang datang hanya untuk berbelanja kebutuhan rumah saja.


"Sayang, kamu bantu ambil sayur sama buahnya," kata Dila, "aku pilih dagingnya dulu."


"Gampang itu, Sayang," jawab Dion sembari menuju gerai sayur serta buah yang tidak jauh dari gerai olahan daging.


"Tante Dila," tegur seorang wanita.


Dila menoleh, "Ketemu di sini rupanya."


"Nilam juga belanja, Tan."


Dila memperhatikan wajah Nilam yang sedikit memar di pelipis, dan bibir. Meski wanita itu menutupinya dengan riasan, tetapi tetap saja akan tampak.


Nilam terkesiap, "Ti-tidak, Tan."


"Wajahmu memar," ucap Dila tersenyum, "aku pernah merasakan dalam posisimu."


"Dion memukul, Tante?" tanya Nilam tidak percaya.


Dila mengeleng, "Mantan suamiku dulu. Dion sangat menyayangiku, dan dia tidak pernah memukul."


"Beruntung sekali, Tante," ucap Nilam.


"Aku memang beruntung," jawab Dila sembari memandang Dion yang memilih buah.


"Andai saja Dion suamiku," celetuk Nilam. "Eh, maksudku, andai aku punya suami yang sifatnya sama seperti Dion."


Dila melebarkan senyum, "Suamiku memang idola para wanita, tetapi hatinya beku. Semuanya telah ia berikan kepadaku."


Ucapan Dila memang benar. Dion memang mencintainya dengan segenap hati. Ada banyak wanita di luar sana, tetapi ia tetap memandang Dila seorang.


"Oh, ada Nilam rupanya. Sudah lama?" Dion meletakkan buah serta sayur ke dalam keranjang belanjaan.


"Barusan," jawabnya.

__ADS_1


"Sepertinya belanjaan dapur sudah semua. Kita pulang saja," kata Dion kepada Dila.


"Iya." Dila memandang Nilam. "Kita duluan, ya, Nilam."


"Iya, Tan."


...****************...


"Delilah, kalau main ingat waktu. Kenapa enggak menginap di rumah Sera saja?" Lewat jam makan malam Dion harus menjemput putri kesayangannya di rumah Diki. Padahal Dion berharap Delilah menginap, dan tidak akan menganggu acara bermesraannya bersama Dila. Namun, sebuah deringan telepon dari Diki, membuat acara itu gagal total.


"Malam ini Deli mau tidur di rumah. Kami sedang bertengkar," ucap anak itu. Tadinya Delilah memang berencana menginap di rumah Sera, tetapi keduanya malah bertengkar.


"Bertengkar kenapa?"


"Papa tidak boleh tahu. Ini masalah anak gadis," ucap Delilah.


"Anak zaman sekarang, semua serba rahasia," gumam Dion.


"Papa, lihat orang itu. Kenapa dia lari-lari?" kata Delilah.


Dion memperlambat laju kendaraannya. Wanita yang berlari itu menuju mobil, dan mengetuk kaca. Delilah langsung memeluk Dion karena takut.


"Tolong saya, Tuan."


Dion memperhatikan wajah yang terlihat ketakutan itu. Ia kaget karena mengenal wanita dengan penampilan yang acak-acakkan.


"Nilam." Kaca mobil diturunkan. "Ada apa denganmu."


"Siapa dia, Pa?" tanya Delilah takut.


"Jangan takut, Sayang. Dia teman Papa."


"Dion, tolonglah aku. Suamiku mengamuk. Bawalah aku ke tempat aman," pinta Nilam.


"Masuklah."


Nilam langsung masuk ke dalam mobil, dan Dion segera melaju. Dari kaca spion, Dion memperhatikan wajah memar serta rambut Nilam yang berantakan.


"Tante, ambilah tisu ini. Wajah Tante terluka," kata Delilah.


"Terima kasih, Sayang." Nilam mengambil tisu itu, dan mengusap luka di bagian bibirnya.


Mobil sampai di rumah. Dila sudah menunggu kedatangan suami, dan anaknya. Namun, ia kaget ada Nilam bersama keduanya.


"Nilam!"


"Maaf, Sayang. Aku tidak tahu harus membawanya ke mana. Dia terluka," kata Dion.


"Tidak apa-apa. Kita masuk saja dulu," ucap Dila.

__ADS_1


Bersambung.


Dukung Author dengan vote, like dan koment.


__ADS_2