
"Kenapa kalian kemari?" tanya Dion.
"Apa aku tidak boleh mengunjungi Papaku?" kata Reyhan.
"Aku sahabatmu. Apa tidak boleh menjengukmu?" sambung Diki.
"Bukan begitu. Kalian tidak sibuk, apa?" Dion beranjak dari kursi kebesarannya, lalu pindah ke sofa tempat Reyhan dan Diki duduk.
"Ada undangan reuni sekolah SMA kita. Semua angkatan, lo. Ikutan, yuk!" ajak Diki.
Dion mengeleng, "Reuni hanya tempat mencari masalah saja. Ada setan yang akan mengoda setiap pasangan."
"Tergantung orang, Dion. Masa semua yang datang mau selingkuh. Nah, kalau Reyhan baiknya jangan pergi. Bisa bahaya sampai Anna bertemu mantan-mantannya," sindir Diki.
"Kenapa aku lagi, sih? Aku juga enggak mau ikut. Kalian saja," ucap Rey.
"Enggak asik, dong, Rey. Tanpa kamu kayak sayur tanpa garam," sahut Diki dengan pandangan mata melotot ke arah Reyhan.
"Iya ... aku akan datang."
"Kapan acaranya?" tanya Dion.
"Besok malam di hotel Sandika," jawab Diki. "Undangannya akan aku kirim lewat pesan singkat."
Dion mengangguk, "Baiklah ... aku akan datang."
Diki dan Reyhan saling melirik. Keduanya tersenyum karena berhasil membujuk Dion untuk ikut bersama. Sebenarnya alasan Diki untuk mengajak Dion, adalah untuk mengembalikan keceriaan pria itu lagi.
Rupanya Dion memang sudah kembali seperti sedia kala, tetapi dalam jiwanya ada sesuatu yang hilang, dan Dion tidak bisa menyembunyikan hal itu. Pria itu masih diliputi kesedihan.
...****************...
Malam reuni itu akhirnya tiba juga. Sebuah pesan dari Diki mengabarkan jika ia dan Reyhan akan menunggu kedatangan dirinya. Rasa malas menghantui Dion. Ia enggan untuk pergi, tetapi sudah terlanjur berjanji.
"Delilah!" seru Dion.
"Iya," teriak anak itu dari dalam kamar.
"Keluar dulu dari kamar," kata Dion.
"Kamu mau keluar?" tanya Bastian.
Dion menoleh pada Bastian. "Iya, Pa. Dion mau keluar sebentar."
"Kamu pergi saja. Biar Papa yang kasih tahu Delilah kamu pergi."
"Dari tadi dia di kamar terus. Pasti joget-joget enggak jelas dia," gerutu Dion yang tahu putrinya tengah tergila-gila akan satu media sosial.
__ADS_1
"Namanya juga anak muda. Biar saja," kata Bastian.
Dion mengangguk, lalu melangkah keluar rumah. Bastian semakin lega melihatnya. Dion perlahan melupakan segala kesedihannya.
"Papa harap kamu melanjutkan hidupmu lagi, Dion," harap Bastian.
...****************...
Dion menunjukkan kartu undangan dari ponselnya kepada pelayan hotel. Salah satu dari mereka mengantar Dion menuju ballroom tempat diadakannya reuni.
"Silakan, Tuan," ucap pelayan pria itu.
"Terima kasih." Dion melangkah masuk ke ballroom. Rupanya sudah banyak tamu- tamu yang datang dan mereka saling berkumpul sesama angkatan.
"Dion!" seru Diki yang melambaikan tangannya.
Tentu yang menjadi pusat perhatian, adalah Reyhan dan kedua sahabatnya. Siapa yang tidak kenal seorang Rey, Diki dan Dion. Dari dulu sampai mereka dewasa tetap menjadi yang terpopuler.
"Asik juga ketemu sama teman-teman seangkatan," kata Diki.
"Dion angkatan yang paling tua karena dia tidak naik kelas sebanyak dua tahun," sambung Reyhan.
"Hei, aku bukan tidak naik kelas. Aku hanya menganggur saja selama dua tahun," kata Dion membela diri.
"Ya, kami tahu. Kamu berhenti sekolah karena mengejar seorang tante-tante," ungkap Reyhan.
"Jaga mata kalian di sini. Awas saja, tuh, mata jelalatan," kata Anna.
"Iya, kami dengar," sahut Reyhan dan Diki bersamaan.
"Apa kata mereka kalau tahu kalian berdua takut sama istri?" celetuk Dion.
"Kamu juga begitu." Diki memelankan suaranya. "Aku mau ambil makanan dulu." Bergegas Diki menuju meja makanan demi menyelamatkan dirinya dari rasa bersalah akibat tidak bisa mengontrol bibirnya sendiri.
"Aku pergi dulu," kata Dion.
"Papa baru saja sampai. Kita makan dulu, ya," bujuk Anna.
"Aku tidak lapar. Kalian lanjutkan saja acaranya. Yang penting aku sudah menampakkan wajah di sini."
"Papa Dion ... Diki pasti tidak bermaksud begitu," kata Maya.
"Aku tidak apa-apa," ucap Dion dengan menyunggingkan senyum.
Reyhan tidak dapat berkata apa-apa. Ia biarkan saja Dion pergi dari acara. Diki yang melihat itu juga merasa bersalah. Ia benar-benar tidak sengaja mengungkit kenangan Dion bersama Dila.
"Aku benar-benar tidak sengaja, Rey," kata Diki.
__ADS_1
"Sudahlah, Dik. Dia masih mengingat mama," ucap Rey.
...****************...
"Seharusnya aku tidak pergi ke acara itu. Buang-buang waktu saja," ucap Dion dengan pandangan mata fokus menatap jalan. Ia menepikan mobil di tepi jalan. Dion keluar dari dalam mobil menuju mini market.
Ia butuh sesuatu yang dapat mendinginkan hati dan kepalanya. Dion sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Diki. Dulu ia juga begitu, dan menggoda Dila, adalah kebiasaan yang sangat ia sukai. Dion pergi dari acara pesta karena teringat saja pada istrinya.
"Andai kamu ada di dekatku, Sayang," ucap Dion sembari mengembuskan napas panjang.
Satu lambaian tangan Dion lihat di lemari pendingin mini market. Ia menoleh ke belakang, dan seorang wanita tersenyum padanya.
"Nona Ar di sini?" sapa Dion.
"Kebetulan saja, Tuan. Habis dari salon singgah mau beli minuman dingin. Eh, enggak tahunya ketemu Tuan di sini," ucap Ardila sembari tersenyum.
"Oh, silakan saja," kata Dion, lalu beranjak pergi menuju kasir.
Ardila mengambil minuman dingin secara sembarangan. Ia bergegas menyusul Dion yang telah membayar minumannya di kasir.
"Tuan ... Anda dari mana?" tanya Ardila.
Dahi Dion berkerut. "Apa saya harus menjawab pertanyaan Anda? Saya rasa kita tidak saling mengenal." Dion menarik pintu, lalu keluar dari mini market.
"Tunggu, Tuan," ucap Ardila.
"Ada apa lagi?" tanya Dion.
Ardila mengeluarkan surat undangan dari dalam tas, lalu memberikannya kepada Dion. "Ini undangan pembukaan salon saya."
"Untuk siapa undangan ini?" tanya Dion.
"Untuk Tuan dan Delilah," kata Ardila.
"Untuk siapa undangan ini?!" tanya Dion sekali lagi.
Ardila tersentak, "Untuk Tuan dan Delilah."
"Apa menurutmu aku pria yang akan mengunjungi salon wanita? Aku ingatkan padamu. Jika kamu ada niat terselubung, buang jauh-jauh pemikiran itu. Aku sudah terbiasa menghadapi wanita sepertimu," kata Dion.
"Maksud Tuan apa?" tanya Ardila.
"Justru aku yang bertanya. Maksudmu apa memberiku undangan ini?" Dion menunjukkan kertas undangan itu ke hadapan Ardila. "Putriku baru berumur lima belas tahun. Dia bukan gadis yang menghabiskan waktu hanya untuk berlama-lama di salon." Dion membuang kertas undangan itu, lalu masuk ke dalam mobil dan berlalu dari hadapan Ardila.
Ardila mengambil kertas undangan yang dibuang oleh Dion. "Kenapa dia marah? Aku hanya memberikan undangan saja. Kalau tidak mau datang, ya, terserah."
Di dalam perjalanan Dion mengumpat karena kesal. "Apa dia pikir aku tidak tahu niat terselubungnya? Pura-pura polos padahal ada maunya."
__ADS_1
Bersambung.
Dukung Author dengan vote, like dan koment.