
"Kalian pulang saja dulu, biar aku yang menemani Dila di sini," ucap Dion.
"Apa kamu perlu sesuatu?" tanya Reyhan. "Aku akan menyuruh Sari untuk mengantarkan keperluanmu."
"Katakan pada Sari. Bawakan perlengkapan Dila dan juga buku agendaku di laci meja kerja. Jangan sampai dia membuka buku itu, dan berhati-hati saat membawanya," tutur Dion.
"Buku apa-" Diki menutup bibir untuk tidak melanjutkan kalimatnya saat Reyhan melototkan mata.
"Akan aku suruh dia mengantarkannya kepadamu. Besok sore kami akan kemari lagi. Kami akan lihat anak-anak dulu," tutur Reyhan.
"Kami pulang, Dion," ucap Diki dengan memberi pelukan kepada sahabatnya.
Kedua pasangan itu keluar dari rumah sakit setelah berpamitan kepada Dion, sedangkan Dila masih tertidur pulas akibat pengaruh obat yang dokter berikan.
"Apa Dion masih menuliskan keluh kesahnya pada buku?" tanya Diki pada Reyhan.
Reyhan mengedikan bahu. "Entahlah. Aku juga tidak tahu. Mungkin saja ia masih menanamkan kebiasaannya itu."
...****************...
Perlahan mata yang tertutup mulai terbuka. Dila mengerjap beberapa kali agar kedua matanya bisa memandang pria yang saat ini, juga menatapnya.
"Sayang," ucap Dila dengan suara lembut penuh kasih.
"Mau minum? Biar aku ambilkan," kata Dion seraya beranjak ke arah nakas.
Tubuh Dila disandarkan di atas bantal yang sudah suaminya tumpuk. Dion menyodorkan air mineral yang telah diberi sedotan, dan Dila meminumnya.
"Cukup," kata Dila menyudahi.
"Makan dulu, ya?" kata Dion.
Dila mengeleng. "Aku tidak berselera."
"Jus buah saja, bagaimana?" kata Dion memberi sebuah penawaran. "Aku akan membelinya."
"Aku hanya ingin memandangmu saja. Apakah suamiku ini tengah dilanda kesedihan?" Dila mengangkat tangan untuk mengusap wajah Dion. Dengan lembut ia telusuri mata, hidung, dan pipi dari pria itu.
Dion meraih tangan Dila. Ia kecup tangan halus selembut sutera itu. "Mata dan hati tidak bisa berbohong. Tentu kamu tahu apa sebab diriku dirundung kesedihan."
"Maafkan aku, Sayang. Perkataanku tadi tentulah menyakiti dirimu. Ketakutan bercokol dalam hatiku. Aku tidak sanggup melihatmu terluka setelah kepergianku," tutur Dila.
"Seperti katamu. Takdir sudah menentukan jalannya masing-masing. Mungkin saja aku dulu yang akan dipanggil menghadap-Nya. Lalu kenapa kamu seakan mendahuluinya?" Dion menatap lekat kedua mata bening yang mulai mengandung air mata.
Air mata yang mengenang, sekarang tumpah ruah menodai pipi putih Dila. Dengan tangannya, Dion menyambut tetesan air mata yang jatuh. Pria itu mengecup air mata berharga yang istrinya tumpahkan.
"Maafkan perkataanku yang telah membuatmu menangis," ucap Dion.
__ADS_1
Dila mengeleng. "Ini salahku."
Dion memeluk Dila dengan erat, mengusap punggung belakang istrinya, dan berbisik mengucapkan kata-kata menenangkan.
"Sudah, Sayang. Jangan kamu takutkan hal-hal di luar kehendakmu. Jalani saja hidup ini dengan apa adanya," ucap Dion.
...****************...
Ketukan pintu mengalihkan perhatian Dion yang tengah menyeka tubuh istrinya. Bergegas ia membuka pintu ruang rawat untuk mengetahui siapa gerangan yang datang.
"Oh, Sari rupanya. Masuklah," ucap Dion.
"Terima kasih, Tuan," balas Sari dengan melangkah masuk membawa barang perlengkapan Dila dan Dion.
"Kamu membawa barang yang kuminta?" tanya Dion.
"Iya, Tuan. Semuanya sudah saya bawa." Sari meletakkan tas besar di atas kursi sofa. Setelah itu, ia mendekati Dila. "Bagaimana keadaan, Nyonya?"
"Aku baik-baik saja. Delilah bagaimana?" tanya Dila balik.
"Nona Delilah bersama kakeknya." Sari melihat Dion yang kembali ingin menyeka tubuh istrinya. "Tuan, biar saya saja yang melakukannya."
"Aku bisa melakukannya. Kamu pulang saja. Jaga Delilah, dan katakan padanya bahwa ibunda yang ia kasihi baik-baik saja," tutur Dion.
Sari mengangguk. "Iya, Tuan. Kalau begitu saya pamit pulang."
"Biar saja Sari pulang. Delilah lebih membutuhkan dirinya," ucap Dion.
"Sayang, aku bisa ke kamar mandi sendiri untuk mandi. Tidak perlu kamu menyeka tubuhku dengan handuk basah seperti ini," kata Dila.
"Tidak-tidak." Dion mengelengkan kepala dengan cepat. "Nanti kamu jatuh lagi. Biar aku menyeka tubuhmu saja."
Dila hanya bisa membiarkan sang suami melanjutkan kegiatannya. Dalam hati ia berucap syukur mendapat suami perhatian seperti Dion.
...****************...
Kekasihku
Wajahmu selayaknya embun pagi yang menyejukkan. Bibirmu laksana madu yang memabukkan, tutur katamu bagai seorang penyair yang mengetarkan jiwa.
Beruntungnya pria sepertiku dapat mereguk segala kenikmatan yang ada pada dirimu. Namun, kenikmatan itu menjadi hambar saat dirimu mengatakan sebuah takdir.
Tidak ada yang tahu takdir hidup kita. Ketakutanmu juga melanda diriku. Semua hal buruk berputar di pikiranku. Bisa apa aku tanpa dirimu di sisiku? Cinta ini Dia yang memberikannya. Jika Dia mengambilmu, maka aku ingin Dia juga mengambilku.
"Kamu sedang apa?" tanya Dila.
"Hanya menulis saja, Sayang," jawab Dion.
__ADS_1
"Bolehkah aku membacanya?" tanya Dila.
"Tentu." Dion memberikan buku miliknya. "Aku mau cari makanan sebentar. Aku akan menyuruh suster menemanimu."
Dila mengangguk. "Iya ... kamu pergilah. Aku akan baik-baik saja."
Setelah Dion keluar dari ruang rawat, Dila membaca tulisan-tulisan yang suaminya buat. Setiap lembarannya berisi isi hati Dion yang membuat Dila terharu.
Seorang suster masuk untuk menemani Dila. Ia heran memandang Dila yang meneteskan air mata. "Nyonya kenapa?"
"Aku baik-baik saja," jawab Dila dengan memeluk buku agenda milik suaminya.
Suster berkacamata itu, tidak ingin lagi bertanya perihal Dila yang meneteskan air mata. Ia paham betul jika pasiennya tidak ingin diganggu.
...****************...
Saat ini, Dion berada di restoran dekat rumah sakit. Makanan di kantin tidak cocok untuk lidahnya. Sembari menunggu pesanan makanan, ia menyempatkan diri menelepon Delilah.
"Mama ... baik-baik saja. Kamu jangan merepotkan kakek. Besok mama juga akan pulang." Dion mematikan sambungan telepon setelah sang putri mengiyakan pesannya.
Mata Dion tanpa sengaja memandang ke arah meja, yang berdampingan dengan jendela kaca restoran. Seorang wanita berumur tiga puluhan, memandang dirinya dengan tersenyum.
Dahi Dion berkerut mendapati senyum manis dari wanita itu. Ia mengalihkan pandangan ke arah ponsel, dan tidak menghiraukan pandangan tersebut.
Bagi Dion, hanya Dila seorang yang pantas untuk ia pandang, dan ia nikmati senyum manisnya.
"Kamu sama seperti dulu."
Dion terkesiap mendapati suara yang menegurnya. Ia menengadahkan kepala, dan tersentak memandang wanita yang duduk di meja tadi, ada di hadapannya.
"Ada apa?" tanya Dion.
"Kamu tidak mengenalku? Aku Nilam, teman kuliahmu dulu," ucap wanita itu.
"Nilam siapa, yah?" tanya Dion.
Nilam memutar mata malas. "Nilam, mantan pacar Reyhan."
Dion memperhatikan penampilan wanita di hadapannya sembari mengingat nama yang wanita itu ucapkan.
"Nilam Kandi?" tanya Dion.
Wanita itu mengangguk. "Iya."
"Astaga! Aku melupakanmu, Teman. Ayo duduk," kata Dion mempersilakan.
Bersambung.
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan koment.