MY SWEETIE BOYFRIEND

MY SWEETIE BOYFRIEND
TERLALU, TIDAKLAH BAIK


__ADS_3

"Tante tidak ingin bertanya apa pun, tetapi kalau kamu ingin bercerita, Tante akan siap mendengarkan," ucap Dila.


"Sebenarnya kami dalam proses perceraian. Suamiku tidak terima dengan keputusanku. Dia mengamuk, dan memukul,” jawab Nilam.


Luka di wajah Nilam sudah diobati oleh Dila. Daripada saat pertama kali datang, kondisinya sudah terlihat baik. Rambutnya dirapikan, kening serta bibirnya sudah diberi obat.


"Apa rumahmu di sekitar sana?" tanya Dion.


Nilam mengeleng, "Kami berada di dalam satu mobil. Kami bertengkar. Dia memukulku, dan aku melarikan diri."


Nilam terisak. Ia menutup wajahnya berusaha untuk tidak mengingat kejadian di dalam mobil tadi. Ia juga merasa malu karena telah merepotkan Dila, dan Dion.


Dapat Dila dengar suara tangisan dari wanita itu. Dila juga pernah dalam kondisi yang sama seperti Nilam. Ia usap lengan Nilam sembari memberi wanita itu kata-kata menenangkan.


"Kamu yang sabar, Nilam. Semuanya akan baik-baik saja," ucap Dila.


"Benar, Nilam. Jangan bersedih. Kamu beristirahatlah dulu. Aku sudah menyuruh Sari untuk menyiapkan kamar untukmu," kata Dion.


"Terima kasih semuanya. Aku benar- benar sangat merepotkan," kata Nilam merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa. Malam sudah larut. Kamu pergilah istirahat," ucap Dion.


Sari mengajak Nilam untuk ke kamar yang telah disediakan untuknya, sedangkan Dila, dan Dion melangkah menuju kamar mereka sendiri.


"Aku merasa melihat Nilam, adalah diriku. Dia begitu muda, dan sudah mendapat cobaan seperti itu," celetuk Dila.


"Nilam, dan kamu berbeda," kata Dion.


"Beda kenapa?"


"Jelas beda, Sayang. Kamu istriku, sedangkan dia istri orang lain," jawab Dion.


"Ish, Sayang. Aku serius," ucap manja Dila.


"Aku juga serius. Kamu, dan dia berbeda. Kamu menahan kesedihanmu, menyembunyikan semuanya dari orang lain. Kamu, adalah wanita tangguh yang pernah aku kenal," ucap Dion sembari merebahkan istrinya ke atas tempat tidur.


Dila masuk ke dalam pelukan hangat suaminya. "Bantulah dia, Sayang. Kasihan Nilam."


"Iya, aku akan membantunya. Sekarang kita istirahat. Sudah larut malam," ucap Dion.


...****************...


Seperti permintaan istrinya, Dion membantu Nilam mengurus surat perceraian. Membantu wanita itu mendapatkan hak asuh atas putra semata wayangnya.

__ADS_1


Dion juga mengancam mantan suami Nilam agar tidak lagi menyakiti temannya itu. Nilam berdiam diri bersama putranya yang berumur lima belas tahun di rumah Dion.


Meminta bantuan Reyhan ataupun Diki, rasanya tidak patut untuk dilakukan. Reyhan terlalu sibuk dengan perusahaannya yang besar, dan Dion dapat melakukan semuanya sendiri.


"Jadi, Nilam tinggal di tempatmu," kata Diki.


"Dila yang menginginkannya. Aku juga membantu proses perceraian Nilam," ucap Dion.


"Jika mama Dila menyuruhmu menenggelamkan diri di laut, apa kamu akan bersedia?" tanya Diki.


"Aku bersedia jika dia yang menyuruhku."


"Ish, kamu membuatku takut." Diki melirik putrinya. "Sara, ayo kita pulang!"


Sara berlari menghampiri Diki. Memang Sara tengah berkunjung ke rumah Delilah. Diki langsung menyuruh Sara masuk ke dalam mobil, dan berlalu dari sana.


Dion mengaruk-garuk kepalanya, "Apa aku salah bicara? Kenapa dia yang takut?"


"Dion, aku membuatkanmu kue red velvet. Cobalah sedikit," kata Nilam sembari menyodorkan kue dalam piring yang sudah dipotong-potong.


Dion mengambil sepotong kue tersebut, lalu memakannya. "Rasanya enak. Aku suka."


"Syukurlah kamu suka," ucap Nilam sembari tersenyum.


Dila melihat kedekatan Nilam bersama suaminya. Akhir-akhir ini keduanya memang dekat. Jika Dila sibuk mengurus Delilah, maka Nilam yang mengantikan perannya.


Dion tidak keberatan, dan terlihat menerima perlakuan manis temannya itu. Putra Nilam juga akrab bersama Delilah. Kadang Dion, Nilam, Delilah, dan putra temannya itu saling bercengkerama, dan Dila hanya melihat itu saja.


"Nilam, aku ingin bicara padamu. Aku tunggu di ruang keluarga," kata Dion lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


"Bicara padaku, ada apa, ya?" gumam Nilam.


...****************...


Dila, Dion serta Nilam sudah berada di ruang keluarga. Delilah serta putra Nilam sudah disuruh masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.


"Begini, Nilam. Aku hendak menyuruhmu tinggal di apartemen. Kebetulan apartemen milikku itu sudah lama tidak ditinggali. Aku berniat untuk memberikannya kepadamu. Perceraianmu sudah kelar, mantan suamimu juga tidak akan menganggumu lagi. Jadi, aku menginginkanmu untuk pindah dari rumahku," ucap Dion.


"Sayang, kamu."


"Kamu tidak diizinkan bicara, Dila!" kata Dion.


Nilam tersentak mendengar Dion yang terkesan mengusirnya. Ia sudah merasa nyaman dengan tinggal di rumah Dion.

__ADS_1


"Bukan maksudku untuk mengusir, tetapi ini tidak baik bagi keluargaku. Aku pria beristri, dan menampung wanita yang bukan kerabatnya sungguh tidak baik," ucap Dion.


"Maafkan aku, Dion. Sungguh aku wanita yang tidak tahu diri. Aku terlupa akan statusku. Aku akan pindah, dan mencari rumah untuk disewa," kata Nilam.


"Tinggallah di apartemen milikku. Anggap aku menghadiahkan itu untuk putramu. Surat-suratnya sudah aku siapkan, dan kamu tinggal menandatanganinya saja. Pindahlah sekarang juga. Paijo akan mengantarmu." Dion beranjak dari duduknya, lalu melangkah masuk ke dalam kamar.


"Nilam, maafkan Dion. Dia tidak bermaksud begitu," kata Dila.


"Tidak apa-apa, Tante. Aku akan membereskan barang-barangku."


...****************...


"Ini surat-surat kepemilikkannya. Kalian tidak perlu lagi menyewa rumah," kata Dion.


"Terima kasih atas bantuanmu Dion. Dengan ini kami akan hidup mandiri," ucap Nilam.


Karena perpisahan itu, hidup Nilam seakan melarat; sebab mantan suaminya tidak memberi sedikitpun harta. Mobil serta rumah pria itu sita.


"Aku juga menyediakan mobil untuk kalian. Kamu bisa mengunakannya untuk pergi bekerja. Besok mobilnya akan diantar ke apartemenmu," kata Dion.


"Terima kasih, Dion. Kamu sangat baik," ucap Nilam.


"Paijo, antar Nilam, dan putranya."


"Baik, Tuan," jawab Paijo yang langsung mempersilakan Nilam, dan putranya masuk ke dalam mobil.


"Ya, Delilah tidak punya teman lagi," cetusnya sembari menatap mobil yang keluar dari gerbang rumah.


"Sari! teriak Dion yang membuat Dila serta Delilah kaget.


"Iya, Tuan." Sari tergesa-gesa menghampiri Dion.


"Bawa Delilah masuk ke kamar! Jangan sampai dia keluar!" perintah Dion.


Sari bergegas membawa Delilah masuk ke dalam kamarnya. Dion ikut masuk ke dalam kamar tidur dengan diikuti Dila dari belakang.


"Puas kamu!" kata Dion.


Pria itu berbicara sembari membelakangi istrinya. Dila tidak mengerti mengapa Dion dalam keadaan marah saat ini.


"Maksudmu apa?" tanya Dila tidak mengerti.


"Berapa umurmu, Dila? Sudah kepala enam, kan? Di mana pikiranmu?" Dion terkekeh kecil, "aku lupa, kadang wanita berumur tua memang akan kembali berpikir kekanak-kanakan. Oh, aku juga lupa. Umur tua tidak menjadikan seseorang itu dewasa."

__ADS_1


Bersambung.


Dukung Author dengan vote, like dan koment.


__ADS_2