MY SWEETIE BOYFRIEND

MY SWEETIE BOYFRIEND
BULAN MADU


__ADS_3

"Delilah tinggal sama kakek dulu, ya?" ucap Dion.


"Papa sama Mama mau pergi ke mana? Liburan enggak ngajak Delilah," sahutnya dengan wajah cemberut.


"Kiano, Sara dan dua adik kembarmu enggak ikut, Sayang. Mereka tinggal semua," kata Dila menambahkan.


"Iya, Sayang. Cuma sebentar saja. Hanya selama dua hari ... lepas itu Mama dan Papa akan pulang," sambung Dion.


"Kalian tinggal di rumah kakek saja. Biar kakek enggak kesepian," ucap Dila.


Delilah mengangguk. "Iya, deh. Delilah akan tinggal bersama kakek saja."


Dila dan Dion bernapas lega. Akhirnya Delilah mau ditinggal juga. Biasanya setiap liburan, putri semata Dion itu akan selalu ikut bersama. Jadi aneh saja, jika kali ini Delilah tidak diajak dan malah disuruh tinggal bersama Bastian.


"Maafkan Papa, Sayang. Papa mau berduaan dulu sama Mama," ucap Dion sembari mengedipkan mata pada Dila.


"Untung saja, Delilah sudah keluar kamar," sahut Dila.


Dion memeluk Dila. "Mumpung Delilah sudah keluar kamar. Kita bisa berduaan."


"Lepas dulu. Kapan mau selesai mengepak pakaiannya? Nanti sore kita berangkat, kan?"


Dion mengangguk. "Iya, Sini ... biar aku bantu mengepak pakaiannya."


...****************...


"Kiano, Ayanna, Anthea ... kalian semua tinggal di tempat opa Bastian dulu. Mama dan Papa mau pergi," ucap Reyhan.


"Papa mau buat adik terus. Sudah banyak adik buat Kiano."


Reyhan tersentak mendengarnya. "Da-dari mana kamu tahu hal begituan? Ayanna, Anthea ... tutup telinga kalian."


Segera kedua putri kembar itu menutup telinga. Kiano berkacak pinggang menghadapi Reyhan. Seolah menantang jika dirinya tahu segalanya.


"Papa selalu bilang begitu pada mama. Setiap pulang kerja pasti begitu, 'sayang ... kita buat adik buat Kiano, yuk!'. Lepas itu mama dan papa ke kamar," ungkap Kiano.


"Begitu ... kalau bicara tidak lihat situasi dan kondisi," celetuk Anna.


"Kalian bertiga beres-beres pakaian sana. Nanti Papa antar ke tempat opa."


"Apa Sara akan di sana juga?" tanya Kiano.


"Iya ... Sara juga akan di sana," jawab Anna.


Kiano berlari setelah mendengar Sara akan berada juga di tempat yang sama. Anna serta Reyhan hanya tersenyum melihat tingkah putranya.


...****************...


"Hai Delilah," sapa Sara.


"Hai Sara," sahut Delilah.


"Reyhan dan Anna belum datang? Katanya mau berangkat sore. Keburu malam entar," ucap Diki.


"Sebentar lagi mungkin. Tungguin saja," sahut Dion.


Dua buah mobil berwarna merah mendekat ke gerbang rumah Bastian. Siapa lagi kalau bukan rombongan Reyhan beserta anak istri serta para pengasuh.


"Sudah lama?" tanya Reyhan.

__ADS_1


"Lumayan," jawab Diki.


"Ya, sudah ... kita berangkat saja sekarang," usul Rey.


"Kalian berangkat saja. Anak-anak akan aman bersama Papa," sahut Bastian.


"Bas ... titip anak dan cucu-cucuku," pinta Dila.


"Mereka juga cucu-cucuku. Tentu aku akan menjaga mereka. Kalian pergi saja dan hati-hati menyetir mobilnya," ucap Bastian.


"Mama, Papa pergi dulu. Kalian jangan pada nakal," ucap ketiga pasangan itu secara bergantian.


Semuanya masuk ke dalam mobil masing-masing. Lambaian tangan menjadi bagian perpisahan antara orangtua dan anak.


...****************...


Mobil melaju menuju kota hujan. Reyhan memiliki vila di sana. Sudah lama mereka tidak berkunjung. Selain karena sibuk bekerja, liburan biasa mereka habiskan ke kota yang sedikit jauh ataupun ke luar negeri.


"Sayang ... aku ingin kembali Inggris," ucap Dila.


"Nanti kita akan ke sana. Kamu pasti merindukan apartemen milikmu," sahut Dion.


Dila merebahkan kepalanya di bahu Dion. "Iya ... aku merindukannya. Aku ingin mengulang masa-masa di sana."


Mobil sampai di tujuan. Udara sejuk dapat dirasakan oleh ketiga pasangan itu. Rumah kayu bercat coklat tua memberi kesan hangat. Ada balkon dari tiap kamar yang menghadap ke arah perkebunan teh. Serta kolam renang sebagai pelengkap.


"Sejuknya," ucap Dila.


Dion langsung memeluk Dila. "Sini ... biar aku hangatkan."


"Ehem ... baru aja nyampe," celetuk Diki.


"Ganggu saja, Diki," kesal Dion.


"Kita buat makan malam dulu. Kalian pasti sangat lapar," sela Dila.


"Ayo, Ma. Kita buat makan malam dulu," ajak Maya.


"Biarkan para pria bawa masuk barang-barang. Kita masak makan dulu," tambah Anna.


Sehari sebelum berangkat, Reyhan sudah mengabarkan penjaga vila untuk mempersiapkan kedatangan mereka termasuk dalam urusan dapur. Jadi ... mereka datang hanya membawa pakaian saja tanpa perlu repot membawa perlengkapan yang lain.


"Mumpung istri-istri kita lagi masak, mari kita bertiga duduk-duduk santai dulu," ajak Dion.


"Ada maunya, nih," sahut Diki.


"Kamu memang sahabat terbaikku, Dik. Tahu saja pikiranku."


Reyhan memutar mata malas. "Aku jadi merasa malu sendiri. Kamu bicarakan istrimu dan istrimu itu mamaku, Dion."


"Baru sadar kamu, Rey?" sahut Diki.


"Kamu, kan, sahabat sekaligus anak, Rey. Justru itu malah bagus. Kamu tahu kalau aku sangat mencintai mamamu," tutur Dion.


Ketiganya duduk di kursi santai sembari memandang hijaunya perkebunan teh dari atas. Udara sejuk serta pemandangan lampu membuat rasa penat terbuang begitu saja.


"Sudah kamu coba pelembab dan pelumasnya?" bisik Diki.


"Malam ini mau coba. Doakan berhasil," balas Dion berbisik.

__ADS_1


"Mau jamu, tidak?" tawar Diki


"Tidak perlu, deh. Aku masih kuat."


"Ngapain kalian bisik-bisik?" tanya Reyhan.


"Biasa ... masalah dapur," jawab Diki.


"Kalian di sini rupanya. Makan malam sudah siap," ucap Dila yang muncul dari balik pintu.


"Iya, Ma," ucap ketiganya serempak.


...****************...


"Dingin, Sayang?" tanya Dion.


Dila mengangguk. "Iya."


Dila dan Dion tengah berada di kursi panjang, tetapi dilengkapi dengan busa kasur yang bisa dibuat untuk tidur. Reyhan dan Diki juga berada di tempat yang sama dengan pasangannya.


Dion semakin erat memeluk Dila. Keduanya dalam posisi duduk sembari menatap lampu-lampu jalan di bawah sana.


"Indahnya, Sayang."


Dion mengangguk. "Iya."


"Apanya?"


"Kamunya yang indah," ucap Dion.


"Bagian mana yang terlihat indah?" tanya Dila.


Dion tampak berpikir. "Apa aku harus menjabarkannya?"


Dila mengangguk. "Iya. Apa wajah dan tubuhku yang indah?"


Dion mengeleng. "Bukan. Wajah dan tubuh akan hilang keindahannya seiring berjalannya waktu."


"Tadi kamu mengatakan aku lebih indah dari pemandangan lampu di bawah sana." Dila mulai sedikit kesal.


"Kamu memang indah. Pemandangan di sana tidak ada apa-apanya dibanding dirimu."


"Terus ... bagian mananya yang indah?" tanya Dila.


"Di hati dan di bibirmu. Di hati kamu memberi cinta, sedangkan bibirmu, selalu mengucapkan kata cinta," ucap Dion. "Aku ingin bertanya kepada Tuhan. Bagaimana dia bisa menciptakan makhluk seindah dirimu?"


"Yang pasti ... aku diciptakan dari tulang rusukmu," jawab Dila.


Dion tertawa mendengarnya. "Istriku pandai mengombal rupanya."


Dari kursi yang lain kedua pasangan menjadi penonton saja. Sedari tadi keempat orang itu memperhatikan Dila dan Dion.


"Apa kita tengah menonton live drama romantis?" tanya Diki.


"Aku rasa begitu. Dua orang saling berpelukan sembari melempar kata-kata rayuan," sahut Reyhan.


Bersambung.


Dukung Author dengan vote, like dan koment.

__ADS_1


__ADS_2