
"Apa yang membuat Papa jatuh cinta pada mama?" tanya Dion pada Bastian.
"Mamamu bukan hanya istri. Dia sahabat dan selalu ada saat Papa dalam kesulitan. Rasanya sangat hancur saat mamamu pergi. Sampai sekarang Papa masih terbayang wajah cantiknya."
Dion tersenyum. "Ya ... mama memang cantik."
Bastian menepuk pelan pundak Dion. "Setiap pria berbeda menyelesaikan masalahnya. Papa melarikan diri dengan menuruti napsu duniawi. Tetapi Papa bangga karena kamu sangat setia pada Dila."
Dion menatap Bastian. "Papa mau berjanji kepadaku?"
"Apa?"
"Jaga Delilah untukku," pinta Dion.
"Kamu bicara apa, sih? Sudah pasti Papa akan menjaganya. Dia cucu Papa satu-satunya. Ya ... sudah, Papa masuk dulu." Bastian beranjak dari duduknya, dan melangkah masuk ke rumah.
Tidak ada yang tahu dibalik tawa dan senyum yang dipancarkan Dion, ada kesedihan dalam benaknya. Setiap berkumpul bersama keluarga, Dion selalu teringat akan istrinya. Berada di tengah banyak kebahagiaan, tetapi hatinya merasa kesepian. Raganya di sana, tetapi jiwanya entah ke mana.
Kondisi itu membuat kesehatan Dion menurun. Seperti orang tua, Dion begitu cerewet untuk memeriksakan kesehatannya. Ada saja alasan untuk tidak mengunjungi dokter. Mau tidak mau Rey membawa suster pribadi untuk mengurus Dion.
"Lihat dirimu ... sudah begitu tua. Baru beberapa bulan sudah kurus begini," kata Diki yang datang menjenguk. "Wajahmu sudah mengalahkan om Bastian saja. Kamu makan tidak? Apa suster itu tidak mengurusmu?" Diki mengambil makanan yang belum sama sekali disentuh Dion. "Buka mulutmu. Biar aku suapkan."
Dion mengelengkan kepala, "Aku enggak napsu makan. Taruh saja disitu. Lagian ... si Reyhan kenapa menyewa suster? Aku tidak mau disentuh olehnya."
"Itu supaya kamu minum obat teratur. Ayo makan. Ini pertama kalinya aku menyuapimu. Kapan lagi kamu bisa disuapi pria ganteng sepertiku," ucap Diki.
Dion tertawa, "Baiklah."
Bukan Diki namanya kalau tidak iseng terhadap sahabatnya. Belum habis makanan yang dikunyah, sudah ia sodori lagi suapan demi suapan.
"Bunuh saja aku, Dik. Ini mulut masih penuh."
"Kamu makannya lama. Kunyah yang cepat. Tinggal lima suapan lagi. Cepat habiskan," kata Diki seraya menyodorkan kembali sendok berisi makanan. "Habis ini minum obat."
"Iya, Ma," jawab Dion, "kamu seperti mamaku saja."
"Papa!" seru Delilah yang langsung naik ke atas tempat tidur. Memang pintu kamar tidak ditutup. Itu sebab Delilah langsung masuk saja.
"Ganti baju sana. Baru pulang sekolah sudah naik ke tempat tidur," kata Dion.
"Nanti dulu. Delilah mau pastikan Papa minum obat."
"Papamu sudah menghabiskan sepiring nasi. Hebat, kan? Hebat, dong," ucap Diki.
"Om yang suapin?" tanya Delilah.
__ADS_1
"Iya, dong," jawab Diki sembari mengecup pipi Delilah.
"Ish ... om genit." Delilah langsung turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar.
Diki tertawa, "Pergi juga, tuh, bocah."
"Dik ... kalau aku tidak ada. Jaga putriku. Anggap dia putrimu sendiri," pinta Dion.
"Ngomong apa, sih, kamu? Kamu harus sehat buat menjaga Delilah. Putrimu sangat cantik. Pasti banyak pria di luar sana yang menyukainya."
"Aku berharap Delilah mendapatkan pria terbaik dalam hidupnya," ucap Dion lirih.
...****************...
Waktu Dion hanya dihabiskan di kamar. Ia terus berbaring di atas tempat tidur. Tubuhnya semakin kurus. Wajah tampan itu berubah drastis menjadi tirus. Tubuh kekar yang bertahun-tahun dibentuk, menghilang sudah.
Dibilang sakit parah atau ada penyakit tidak juga. Dokter mengatakan Dion hanya demam biasa. Ya ... memang Dion tidak sakit seperti Dila, tetapi kondisi kesehatannya saja yang menurun.
"Rey ... bawa aku ke taman belakang rumah," pinta Dion.
"Baiklah." Reyhan mengambil syal rajut dan melingkarkan syal itu di leher sahabatnya. Ia mengiringi Dion untuk duduk di kursi roda.
"Ambilkan buku dan foto istriku."
Reyhan menurutinya. Mengambil buku kesayangan Dion dan bingkai foto Dila. "Ada lagi?"
Reyhan membawa Dion menuju taman belakang. Suara canda tawa terdengar karena memang semuanya berada di taman menikmati udara sore.
Dion tersenyum saat melihat keluarga kumpul bersama. "Diki tidak datang?"
"Mau aku panggil ke sini?" tanya Rey.
"Panggil saja. Biar semua pada kumpul," jawab Dion.
"Aku akan meneleponnya." Reyhan meraih ponsel dalam saku celana. Belum sempat ia menelepon, suara Diki sudah terdengar memanggil. "Aku baru saja meneleponmu."
"Papa apa kabar?" tanya Maya.
"Baik, May."
"Hai, Kakek," sapa Sara.
"Sara semakin cantik saja. Cocoklah sama Kiano," goda Dion.
"Sara enggak mau sama Kiano." Sara langsung berlari menghampiri Delilah dan lainnya.
__ADS_1
"Imutnya cucuku," ucap Dion.
Diki dan Reyhan geleng-geleng kepala. Baik Dion maupun mendiang Dila memang ingin kedua anak itu berjodoh, tetapi Reyhan dan Diki tidak menginginkan hal itu. Biar saja kedua anak mereka menemukan pasangan masing-masing nantinya.
Dion usap foto Dila yang ia pegang. "Lihat, Sayang. Mereka bahagia." Dion tersenyum melihat satu per satu wajah yang begitu ia sayangi.
Tawa bahagia itu lama-lama terasa jauh dari pendengaran Dion. Mata yang melihat anak cucunya berlari, sahabat, orang tua, dan menantu yang tertawa mulai kabur dari pandangan. Dion mengerjap, ia tersenyum. Dion mengucapkan lafaz tahlil hingga foto dan buku di tangannya terlepas.
Aku terbelenggu dalam kesengsaraan.
Kesedihan telah menyatu dalam jiwa ini.
Sayapku patah dan tidak dapat terbang.
Aku tanpa dia tidak bisa hidup.
Jiwa kami telah menyatu.
Dalam sujud kupanjatkan doa.
Semesta, pertemukan kami. Satukan kami dalam indahnya surga.
Delilah menangis tersedu setelah membaca buku harian milik Dion. Ia peluk buku dan foto mendiang kedua orang tuanya. Dion telah pergi meninggalkan dirinya. Mengapa? Tidak ... Delilah sama sekali tidak menanyakan mengapa papanya juga pergi meninggalkannya.
"Semoga papa dan mama bisa bersama selamanya," ucap Delilah.
Reyhan memeluk adiknya. "Papa dan mama sudah bersatu di surga. Mereka bahagia di sana, dan kita yang ditinggalkan harus bahagia juga menjalani hidup."
Delilah mengangguk. Ia raih mini album yang tergeletak di atas meja. Delilah buka album foto yang tertanda bahwa itu hadiah untuk ulang tahunnya yang keenam belas.
"Papa membuatkan ini untuk Delilah. Ada foto dari Deli masih kecil. Ada foto Kakak, Kiano, si kembar, Sara, Kakek, semuanya ada di sini," ucap Delilah. "Ada pesannya juga, Kak." Delilah membaca tulisan di bawahnya. "Papa dan mama menyayangi kalian."
Kembali Delilah terisak. Reyhan juga ikut meneteskan air mata. Memang sedih mendapati dua orang yang disayang pergi begitu cepat. Namun, kepergian kali ini sama sekali tidak menimbulkan luka, malah kebahagian. Keduanya berharap orang tua mereka bersatu di sana.
"Kita keluar, yuk," ajak Reyhan.
Delilah mengiyakan ajakan Reyhan. Keduanya keluar dari kamar. Delilah disambut oleh Anna yang datang memeluknya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kita semua ada di sini," ucap Anna.
Bastian mengulurkan tangannya. "Kakek di sini, Sayang."
Delilah beralih memeluk Bastian. "Delilah tidak apa-apa. Papa pernah bilang kalau Deli tidak sendirian."
"Kamu benar, Sayang. Kita semua ada di sini," ucap Reyhan.
__ADS_1
TAMAT.
Dukung Author dengan vote, like dan koment.