
"Ini apartemen Mama dulu," kata Dila mempersilakan keluarganya untuk masuk ke dalam.
"Wah! inikan tempat si Reyhan bawa cewek," sahut Diki.
Reyhan melotot pada Diki yang senang sekali mengungkit masa lalunya. Jika waktu bisa diputar kembali, Reyhan tidak mau menjadi seorang casanova.
Anna mendengus, "Pasti banyak sekali wanita yang tidur di sini."
Reyhan mengaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. "Jangan percaya pada Diki. Dia senang sekali mengodaku."
Dion tertawa, "Memang benar, kok. Karena perilaku buruknya itu, Dila sampai mengusirnya."
"Aku jadi gelandangan di negeri orang," kata Reyhan yang mengingat masa lalunya saat itu.
Dila mengusap lengan Anna. "Sekarang dia setia padamu. Jangan takut kalau Reyhan bersikap buruk. Tinggalkan saja dia kalau sampai itu terjadi."
Reyhan bergidik, "Uang, harta atau apalah yang menjadi kekuasaanku, ambil saja. Asal tidak orang-orang tersayangku yang diambil." Reyhan langsung memeluk Anna seraya mengecup pipi nan lembut itu.
Diki memutar mata malas, "Bicaramu seperti Dion saja."
Reyhan memalingkan wajah dari Diki. Sahabatnya itu selalu saja membuatnya kesal. Baru saja Rey ingin bersikap romantis, pria itu akan segera meledeknya.
"Mama, apa Delilah bisa tinggal di sini nanti?" tanyanya.
"Boleh saja kalau-"
"Tidak boleh! Kamu sekolah dalam negeri saja," potong Reyhan.
"Kiano saja kalau begitu."
"Tidak boleh! Nanti kamu sama seperti papamu. Jangan turuti perilaku papamu," sahut Dion.
"Hei, Dion." Reyhan segera menutup bibirnya, "maksudku, Papa. Kalau Kiano boleh. Dia seorang pria."
"Kakak pilih kasih!" ucap Delilah kesal dengan menghentakkan kakinya.
"Jangan bertengkar lagi. Lebih baik kita makan siang dulu, setelah itu kita jalan-jalan. Oh, ya, Mama ingin menginap di sini satu malam. Kalian bisa pulang ke hotel saja," kata Dila.
Anna mengelar tikar, dan Maya membantu menyusun makanan yang telah mereka pesan sebelumnya. Ketiga keluarga itu makan bersama-sama sembari diselingi tawa serta canda.
__ADS_1
Tanpa sadar Dila mengusap air mata yang menetes menodai pipinya. Ia terharu karena masih bisa merasakan kebahagian seperti ini. Bisa merasakan hamil kembali. Dapat melihat putri serta cucu-cucunya tumbuh menjadi remaja, dan pasti masih bisa merasakan kasih sayang suami yang sangat mencintai dirinya.
...****************...
Selesai makan siang, semuanya pergi jalan-jalan. Dari Big ben, tower bridge, serta london eye. Anak-anak sangat senang bisa diajak jalan-jalan, dan tidak ingin pulang.
"Sara, ini untukmu," ucap Kiano sembari memberikan hiasan bola kristal.
"Kamu memberiku hiasan ini karena merasa bersalah telah merobek buku yang diberikan oleh pacarku, kan?" kata Sara.
"Anak kecil tidak boleh pacaran. Memangnya umurmu berapa, sih?" kata Kiano kesal.
"Kakakmu juga punya pria yang dia suka di sekolah." Sara tidak mau kalah.
"Aku akan mengatakan hal ini kepada orangtuamu, dan juga kakek. Kalian sudah mulai mencari pasangan."
"Bilang saja kamu iri," sahut Delilah.
"Kakak Kiano iri, kan?" sambung dua adik kembar Kiano.
Kiano mendengus, lalu menarik tangan Sara, dan meletakkan bola kristal di tangan gadis itu. "Aku tidak kuat melawan empat orang gadis bawel seperti kalian. Lebih baik aku pergi saja."
"Nak, ayo pulang! seru Anna sembari melambaikan tangannya.
Bergegas keempat anak gadis itu menghampiri Anna. Jalan-jalan sembari menikmati indahnya lampu kerlap-kerlip menjadi hal yang tidak terlupakan. Semuanya berharap dapat liburan kembali secara bersama-sama.
...****************...
Tidak disangka waktu sangat cepat berlalu. Putri dari Dion, dan Dila tumbuh menjadi remaja. Dua hari lagi bertepatan Delilah berumur lima belas tahun, dan kedua orangtuanya akan mengadakan pesta ulang tahun.
Ada perubahan dari diri Dila kali ini. Umurnya semakian bertambah, dan penyakit mulai sering datang. Olahraga tetap dijalankan, tetapi tidak seperti dulu.
Kerutan di sekitar mata juga mulai tampak. Hormon untuk berhubungan suami istri juga berkurang. Bahkan, Dila sudah tidak melayani suaminya lagi. Tepatnya sudah hampir delapan bulan, Dila tidak memberi nafkah batin.
Dion juga tidak meminta. Ia biasa saja, dan mulai sering di rumah menemani Dila. Perusahaan diserahkan kepada sang asisten terpercaya, yaitu Andi.
Hari-hari dihabiskan saling bercerita, membacakan Dila buku, dan juga menulis seperti yang sering Dion lakukan sebagai hobi.
"Kamu tidak menghabiskan makananmu? Lihat ... tubuhmu sudah kurus begitu," kata Dion. "Berolahraga saja kamu tidak mau." Setiap hari suami Dila itu selalu mengerutu.
__ADS_1
"Aku tidak bernapsu makan. Bagaimana kalau kita ke taman saja. Aku ingin melihat bunga-bunga yang kamu tanam," kata Dila.
"Kita ke sana saja. Apa kamu mau dibacakan buku juga?" tanya Dion.
"Tidak perlu, Sayang. Bagaimana kalau kamu memotretku?"
"Boleh juga, tetapi pakai syalmu." Dion memakaikan Dila syal, lalu mengiringi istrinya berjalan ke taman.
Keduanya duduk di bangku taman, menikmati bunga bermekaran dengan semilir angin yang bertiup pelan.
"Persiapan ulang tahun Delilah bagaimana?" tanya Dila.
"Semua sudah siap. Anak itu tidak mau terlalu mewah. Delilah hanya mengundang teman-teman sekolahnya saja," kata Dion.
"Sayang, foto aku dengan bunga-bunga itu." Dila beranjak dari duduknya, lalu berdiri di antara pot-pot bunga mawar.
Dion meraih ponsel kemudian melaksanakan permintaan istrinya. Rambut Dila tergerai, ia tersenyum manis saat kamera ponsel mengabadikan dirinya.
"Semoga kamu bisa tersenyum selamanya seperti ini," ucap Dion.
"Amin," sahut Dila.
"Tuan, ada tuan Andi di ruang tamu," kata Sari yang tiba-tiba saja sudah muncul di taman.
"Andi? Oh, pasti dia lagi menyerahkan laporan." Dion beralih pada Dila. "Masih mau di sini, apa mau masuk?"
"Aku di sini saja dulu. Kamu pergilah."
"Jangan ke mana-mana. Tunggu aku kembali," kata Dion.
Dila mengangguk mengiyakan perkataan suaminya. Dion beranjak pergi dari taman, lalu Sari pergi menuju dapur membuat minuman untuk tamu.
"Masuk saja, deh. Di luar dingin juga." Angin sore membuat tubuh Dila merasa dingin. Tubuhnya memang agak kurang mengenakkan. Ia sering menderita sakit kepala. Dila beranjak dari taman menuju kamar tidur. Sebelum sampai di kamar, dapat ia dengar suara Dion tengah berbincang bersama asistennya.
"Lagi sibuk sepertinya," gumam Dila, lalu masuk ke dalam kamar, dan langsung meraih obat yang di letakkan Dion di atas meja lampu tidur. Dila mengambil satu butir pil sakit kepala, lalu meminumnya. Dila memang sering menderita sakit kepala yang tidak tertahankan, dan semakin umur bertambah, sakit kepala itu semakin menyerangnya.
Dila merebahkan diri di atas tempat tidur. Ia tatap foto-foto kebersamaannya bersama keluarga yang terpajang di dinding. Tidak berapa lama, matanya mulai sayu, lalu tertutup.
Bersambung.
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like, dan koment.