
"Aku perhatikan bos kita wajahnya semakin tampan. Setiap hari selalu tersenyum dan bersikap ramah. Wajahnya yang manis malah semakin manis. Jika aku menjadi istrinya, betapa bahagianya diri ini," cetus salah satu wanita karyawan Dion berbaju biru dongker.
"Hush! Jangan berpikir terlalu tinggi. Bos kita sudah punya istri. Sudah sewajarnya dia bahagia dengan kehidupan rumah tangganya," sahut rekan si wanita yang juga turut memperhatikan Dion.
Selama menikahi Dila, memang Dion selalu tebar senyum dan bersikap ramah pada karyawannya. Naluri kebahagian selalu terpancar hingga tanpa disadari senyum mengembang tertarik sendiri di bibirnya.
"Aku heran ... kenapa dia malah tertarik pada nyonya Dila. Aku akui nyonya Dila memang cantik, tetapi tetap saja sudah tua," ucap wanita berbaju biru.
"Namanya juga cinta. Wajahmu jelek bagaimanapun, akan tetap cantik jika pacarmu benar-benar cinta mati," sahut rekannya.
Wanita itu mendengus. "Gini-gini pacarku banyak."
"Kok marah? Aku kan berkata benar," ujar rekan wanita itu.
Senyum manis Dion menjadi pemandangan mengagumkan bagi para karyawan wanita. Rasa penat karena pekerjaan menumpuk menjadi penyemangat ketika pria itu tersenyum.
Namun sayangnya, meski banyak yang tergila-gila, cinta Dion hanya untuk satu orang saja. Wanita yang membuatnya tidak bisa berpaling meski ada seribu wanita cantik yang menggoda.
"Sayang ... kamu lagi apa?" tanya Dion lewat video panggilan.
Terlihat Dila memutar mata malas dari layar ponsel. "Sayang ... kita baru saja berpisah tiga puluh menit yang lalu. Kamu baru saja sampai di kantor. Malah sekarang bertanya aku sedang apa."
Dion tertawa geli. "Tandanya cinta, Sayang."
Terlihat Dila mendengus di layar. "Aku mau mandi. Kamu yang semangat kerjanya."
"Ikutan dong, Sayang." Dion tertawa geli. "Kamu mengoda dengan perut buncitmu itu."
Tanpa mendengar jawaban dari Dila, panggilan video itu diputus. Dion kaget dan mencoba melakukan panggilan lagi, tetapi Dila enggan untuk menjawab.
"Senang sekali menggoda istri cantikku," gumamnya.
...****************...
"Sayang ... duduklah. Aku pusing melihatmu mondar mandir tidak karuan begitu. Aku yang menjalankan operasi lalu kenapa malah kamu yang tidak tenang," cerocos Dila.
"Tentu aku takut, Sayang. Kalau terjadi apa-apa bagaimana?" ucap Dion.
Setelah Anna melahirkan putri-putri cantiknya, kini giliran Dila yang akan menjalani operasi caesar. Semenjak tiga hari menuju jadwal operasi, Dion selalu tampak gelisah.
Pria itu bahkan tidak tenang untuk memejamkan mata. Rasa takut, khawatir, menghantui Dion seolah dirinya yang akan menghadapi meja operasi.
"Jika kamu begitu terus, yang ada malah membuat istrimu tidak tenang," ucap Bastian.
"Mama juga perlu tenang, Dion," sahut Reyhan.
__ADS_1
Dion mendekat pada Dila, mengecup kening serta mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut. "Maafkan aku, Sayang."
Dila tersenyum. "Kamu yang tenang. Aku pasti baik-baik saja."
Dion mengangguk. "Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu. Aku akan baik-baik saja."
Empat orang perawat masuk ke dalam ruang rawat dan artinya Dila akan segera dibawa ke meja operasi. Dion ikut serta menghantar istrinya tanpa melepas genggaman tangan dari Dila.
"Kamu yang tenang, Sayang," ucap Dion.
Hanya senyuman yang Dila berikan hingga pintu ruang operasi ditutup oleh para suster. Dion menangkup kedua tangan di depan tubuh bidangnya. Dalam hati pria itu berdoa semoga Dila bisa melewati semuanya.
Baik Reyhan serta Bastian juga turut mendoakan agar persalinan Dila berjalan dengan lancar. Sebenarnya Rey malah lebih cemas dari Dion. Hanya pria itu tidak menunjukkannya secara terang-terangan.
Sekitar empat puluh menit dua orang suster keluar dengan membawa satu bayi perempuan yang akan dipindahkan ke ruang perawatan bayi.
"Selamat, Tuan. Bayinya perempuan. Mari ikut kami ke ruang bayi," ucap suster.
"Kamu ikut dulu ke sana," kata Reyhan.
Dion mengangguk. "Baiklah ... aku akan segera kembali."
Dengan suka cita Dion menyambut bayi perempuan yang diberikan oleh suster setelah ia sampai di ruang perawatan khusus bayi. Rasa haru sekaligus bahagia menyelimuti benaknya.
Bayi perempuan berhidung mancung dengan bibir kecil kemerahan masih dalam keadaan mata terpejam. Dion mengecup kecil pipi dari putri pertamanya dan segera mengazani serta mengucapkan iqamat pada telinga kanan dan kiri.
"Papa pergi dulu, Sayang," ucap Dion.
Bergegas Dion menuju ruang operasi untuk mengetahui keadaan istrinya, tetapi saat sampai, Dila sudah keluar dan mau dipindahkan ke ruang perawatan.
"Sayang," serunya.
"Mama baik-baik saja," ucap Reyhan.
Dion bernapas lega. "Syukurlah."
"Cucu Papa bagaimana?" tanya Bastian.
"Cantik, Pa," jawab Dion.
...****************...
Siangnya Dila sudah siumam dan putri kecilnya sudah berada di dalam kamar rawat. Dila menjalani operasi pada jam lima pagi. Anna bersama Kiano sudah datang serta Maya dan Diki dengan membawa Sara.
"Selamat, Mama, Papa," ucap Anna.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang," balas Dila.
"Selamat, Dion. Akhirnya jadi papa juga," ucap Dion.
"Cantik sekali, Ma," puji Maya.
"Mamanya cantik, Kakak dan Papanya juga tampan. Otomatis dia juga cantik," sahut Dion.
"Kakeknya juga tampan," tambah Bastian sembari tertawa.
Apa aku pantas disebut Kakak? Apa jadinya jika adikku tumbuh dewasa, sedangkan rambutku sudah memutih. Sedangkan Dion, dia malah akan dipuji awet muda," batin Reyhan.
Reyhan menatap putri kecil yang tengah tertidur pulas. Bayi cantik perpaduan Dion serta Dila dan kemungkinan besar saat dewasa akan mirip dirinya sendiri.
"Siapa nama adikku?" tanya Reyhan.
"Delilah," jawab Dion.
Diki serta Reyhan tercengang sebab nama Delilah seperti nama orang zaman dahulu, meski nama Delilah sangat terkenal.
"Aku mau namanya mirip Dila," ucap Dion.
"Dasar bucin," kata Diki.
"Sesama bucin jangan saling mengejek," sambung Reyhan.
"Nama yang bagus, Nak. Delilah adalah pewarisku. Dia akan menjadi seorang putri," kata Bastian.
"Papa ... bagaimana dengan ketiga cicit Papa yang lain? Jangan pilih kasih," ucap Dion.
"Aku sudah membagi hartaku untuk mereka semua. Aku juga sudah membuatkan rumah khusus untuk keempatnya bermain," tutur Bastian.
"Syukurlah kalau begitu," kata Dion.
Dion mendaratkan kecupan kecil di hidung istrinya. Tangannya terulur mengenggam jari-jemari Dila yang masih terpasang jarum infus.
"Terima kasih telah menghadiahkan malaikat kecil dalam hidupku," ucap Dion.
"Sudah jadi kewajibanku memberimu keturunan. Delilah menjadi kesempurnaan dalam pernikahan kita," tutur Dila.
"Kamu pasti kesakitan." Dion dapat melihat Dila menahan tawa saat mendengar dirinya bicara pada Rey serta Diki. "Kamu meringis sakit tadi."
"Nanti juga akan membaik. Kamu tenang saja," ujar Dila.
"Aku akan merawatmu hingga membaik." Dion mengecup kening Dila berkali-kali. "Aku semakin mencintaimu."
__ADS_1
Bersambung.
Dukung Author dengan vote, like dan koment.