MY SWEETIE BOYFRIEND

MY SWEETIE BOYFRIEND
TETAP BERSAMAKU


__ADS_3

Dion segera menghampiri Dila yang tengah menangis di sofa. "Ada apa? Ada yang sakit?"


"Dion, kenapa aku jadi mengompol seperti itu? Apa aku ini sudah sangat tua?" isak Dila.


Dion menghela sebab Dila menangis hanya karena itu. "Mengompol sekali belum bisa dikatakan kamu sakit keras, kan? Kamu tertidur pulas, dan mungkin tanpa sadar mengompol." Dion mengusap wajah Dila yang banjir air mata. "Kamu pernah dengar, ada orang tidur terus mimpi sampai mengompol? Mimpinya itu karena dikejar-kejar makhluk besar."


"Kok, malah horor?" kata Dila yang menahan tawa.


"Ini beneran kejadiannya. Maka dari itu, setiap mau tidur harus baca doa," kata Dion.


Dion hanya teringat cerita asistennya Andi, yang mengatakan jika tengah mimpi dikejar makhluk besar, dan tanpa sadar mengompol dikasur.


Pada saat itu juga Dion menertawakan asistennya karena sudah tua masih mengompol, tetapi asistennya itu bilang melakukannya tanpa sadar.


"Kamu pasti merasa jijik. Aku sangat jorok."


"Tentu tidak. Kamu orang tersayangku. Aku bukan suami yang hanya mau kamu sehat, tetapi tidak mau merawat saat istrinya sakit. Aku bukan pria yang hanya tahu enaknya saja, dan malah pergi ketika kamu sengsara. Aku akan selalu bersamamu," tutur Dion.


Dila langsung memeluk suaminya. Kalimat yang Dion ucapan merupakan penyejuk hati. Dion terlalu baik, terlalu cinta padanya hingga Dila berharap ia dapat berumur panjang, dan sehat selalu.


"Aku tidak tahu harus mengatakan apalagi. Seribu kata cinta pun masih belum bisa mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya. Cinta, cinta, cinta, seribu kali aku mengatakannya pun tidak akan cukup. Entah apa yang pantas disebut selain cinta," ucap Dila.


Dion mengecup lembut kening istrinya. "Hidupmu, jiwamu, semua yang menjadi bagian dirimu. Itulah yang disebut belahan jiwa. Kamulah takdirku, Dila."


...****************...


Seperti yang diinginkan Dila, setelah sembuh akan pergi mengunjungi Inggris. Kondisinya saat ini lebih baik, dan kadang-kadang merasakan yang namanya pusing kepala, dan hal itu sangat wajar bagi usia yang hampir memasuki kepala enam.


Kunjungan kali ini bertepatan dengan hari jadi kelahiran Dila yang telah memasuki usia lima puluh sembilan tahun.


Dion mengajak keluarganya ke Inggris sekalian berlibur. Reyhan sekeluarga, Diki juga sekeluarga. Hanya Bastian yang tidak mau ikut, dan ingin berdiam diri di rumah.


"Akhirnya bisa liburan juga meski hanya tiga hari," celetuk Diki.


"Kamu maunya berapa lama?" tanya Reyhan.


"Sebulanlah, sekalian bulan madu, dan satu lagi ... mumpung gratis," jawab pria itu.


Saat ini semua tengah berada di dalam pesawat pribadi yang membawa mereka menuju negeri Ratu Elizabeth.


"Itu maunya kamu," sahut Dion yang membuat semua tertawa.

__ADS_1


Kunjungan kali ini ditanggung oleh Dion. Istri tercintanya bertambah usia, dan ia ingin menyenangkan semuanya. Sebenarnya tanggal ulang tahun Dila sudah lewat dua hari yang lalu.


Dua yang lalu, Dion serta Dila merayakannya bersama orang-orang yang membutuhkan. Itu juga sebagai bentuk rasa syukur karena Dila sudah bisa beraktivitas seperti biasa.


Awalnya Dila terserang sakit kepala saja, lalu membuat wanita itu tidak dapat bangun dari tempat tidur. Ya, Dila memang hidup sehat, dan selalu berolahraga, tetapi belum tentu penyakit tidak dapat menyerangnya.


Dila baru aktif menjalani hidup sehat saat usia wanita itu memasuki kepala tiga. Penurunan fungsi tubuh atau penyakit akan datang meski orang itu telah hidup sehat; karena segala penyakit dilihat dari keseluruhan riwayat hidup.


Sejak menjalankan perusahaan, Dila sering terkena stres, dan mengonsumsi obat, adalah pilihannya saat itu. Makan yang tidak teratur, tidur malam hingga membuatnya jatuh sakit. Karena sudah merasakan hal itu, barulah Dila mengubah pola hidupnya menjadi sehat.


...****************...


"Akhirnya sampai juga," kata Dila.


"Sayang lelah? Kita langsung ke kamar saja kalau begitu," kata Dion.


Setelah melewati waktu kurang lebih tujuh belas jam hingga sampai ke hotel. Akhirnya ketiga pasangan keluarga itu sampai di negeri jam Big Ben.


"Papa! Delilah ditinggal terus," ucap anak itu.


"Reyhan, kamu urus adikmu. Papa, dan mama mau istirahat. Sudah dini hari, mamamu sudah kelelahan," kata Dion yang langsung berjalan menuju lift.


Reyhan tercengang mendengar perkataan sahabatnya. "Dasar Dion!"


"Delilah, Sara, Ayanna, Anthea, kalian tidur bersama di satu kamar. Kiano tidur sendiri," kata Reyhan.


"Asik," ucap kelima anak itu.


"Mana bisa begitu, mereka masih anak-anak," protes Anna.


"Mereka harus tidur bersama kita," sahut Maya.


"Mana bisa begitu," sahut Diki, dan Reyhan serempak.


"Apanya yang tidak bisa begitu?" kata Anna. "Anak-anak cewek tidur bareng kita, lalu Kiano tidur bareng kalian."


"Jadi kita enggak tidur bareng kalian?"


"Mau bagaimana lagi," ucap Maya, dan Anna sembari terkikik geli. "Anak-anak, ayo ... kita ke kamar."


Keempat anak perempuan itu, dengan lesu mengikuti Anna serta Maya masuk ke dalam lift. Mereka tidak dapat bersenang-senang di dalam kamar jika harus tidur bersama Anna serta Maya.

__ADS_1


"Ini namanya kita jadi pengawalnya Dion. Dia enak-enakkan di kamar sana. Kita berdua tidak dapat bulan madu," kata Diki.


Reyhan mengembuskan napas kasar, "Sudahlah. Malam ini giliran dia, besok giliran kita."


"Pa, Kiano mau tidur sendiri."


"Kamu tidak dengar apa kata mama? Ini negara orang, Kiano," kata Reyhan.


Diki menarik sebelah bibirnya, "Tadi bukannya kamu menyuruh anak-anak tidur di kamar sendiri?"


"Aku baru sadar sekarang. Lagian kita tidak membawa pengawal," kata Reyhan.


...****************...


"Bagaimana perasaanmu?" kata Dion dengan memeluk Dila dari belakang. Saat ini keduanya tengah menatap jalanan kota London lewat kaca jendela kamar hotel.


"Akhirnya bisa kembali ke sini lagi. Nanti kita jalan-jalan ke tempat yang waktu itu kita datangi, ya? Aku juga ingin mengunjungi apartemen lamaku," kata Dila.


"Besok kita ke sana." Dion membawa Dila duduk di sisi tempat tidur. "Selamat ulang tahun, Sayang."


"Kamu sudah beberapa kali mengucapkannya," kata Dila.


"Kali ini aku hanya meminta kesehatan untukmu. Semoga kamu terus diberi kesehatan." Dion tidak sanggup melihat Dila yang terbaring lemah saat itu. Ia ingin segala penyakit itu dilimpahkan padanya saja.


Senyuman Dila mengembang, "Amin."


"Tetaplah bersamaku, Dila."


"Kemarilah." Dila merebahkan kepala Dion di atas pangkuannya. Mengusap kepala suaminya dengan lembut, dan penuh kasih sayang.


"Kamu tidak akan meninggalkan aku, kan?" kata Dion.


"Memangnya aku mau ke mana?" tanya Dila.


"Aku takut jika kamu tinggal."


"Aku akan terus bersamamu," kata Dila.


Aku mencintainya. Menginginkan waktu untuk bersamanya setiap hari. Matanya menatapku teduh, bibirnya membuatku jatuh cinta. Perhatiannya selalu membuat kehangatan pada jiwa ini. Semesta, bolehkah aku meminta padamu? Jagalah belahan jiwaku, berilah keikhlasan dalam hatinya. Sesungguhnya takdir tidak ada yang tahu.


Bersambung.

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like, dan koment.


__ADS_2