MY SWEETIE BOYFRIEND

MY SWEETIE BOYFRIEND
HAMPA


__ADS_3

Ingatkah kamu, Sayang, Saat kita berada di langit dengan penuh bintang dan rembulan yang bersinar terang?


Kamu memandangku dengan mata hitam yang penuh akan sinar cinta. Bibir merahmu merupakan anggur yang memabukkan.


Wahai kekasihku, Dila. Anggur apa yang telah kamu berikan? Mengapa jiwa ini tersiksa setelah anggur itu kuteguk? Jiwa ini tidak dapat melupa dan malah jadi menggila karena kehausan. Ke mana aku harus mencari anggur yang dapat menghilangkan rasa dahaga ini?


Pintu ruang kerja diketuk dari luar. Segera Dion menghapus air mata yang menetes di pipi dan ia letakkan buku miliknya di dalam laci meja kerja.


"Papa," tegur Delilah yang sudah membuka pintu sebelum Dion.


"Masuklah, Sayang."


Delilah masuk dengan membawa secangkir teh buatannya. Ia letakkan secangkir teh itu di meja dan segera Dion menyesapnya.


"Rasanya enak. Kamu pintar membuatnya. Sama seperti buatan mama," kata Dion.


"Mama yang ajarin, makanya rasanya sama. Tapi pasti buatan mama lebih enak."


Dion terkekeh, "Sama enaknya, kok. Kamu kenapa belum tidur? Ini sudah malam."


"Besok Papa temani Delilah ke salon tante Dila itu, ya," pintanya.


"Besok Papa sibuk. Kamu minta kakek saja."


"Masa kakek, sih? Kalau sama kakek malah jadi gosip," kata Delilah.


Dion tercengang, "Kenapa bisa jadi gosip? Itu kakekmu sendiri."


Delilah menundukkan wajahnya. Andai Dion tahu apa yang terjadi pada dirinya dua minggu lalu. Gara-gara Bastian menjemputnya saat di cafe, seorang pria remaja menyebarkan gosip yang tidak-tidak di sekolah. Saat itu Delilah tengah bertemu teman-teman sekolahnya.


"Ada apa, Sayang?" kata Dion.


"Ada teman Delilah yang menyebarkan gosip di sekolah. Dia bilang kakek pacar Deli. Itu karena kakek yang suka tebar pesona."


"Kamu dibully? Wah! Besok Papa akan datang ke sekolahmu. Berani sekali mereka menganggu putri Papa satu-satunya," kata Dion.


Delilah mengangguk, "Iya, Papa harus kasih nasihat cowok itu."


"Ya, sudah. Kamu tidur saja. Sudah malam," kata Dion.


"Iya, selamat malam, Pa." Delilah hendak melangkah keluar dari ruangan, tetapi ia menghentikan kakinya karena suara Dion.


"Enggak kecup pipi Papa dulu?"


"Delilah sudah umur lima belas. Enggak boleh biar itu Papa sendiri." Setelah itu, Delilah keluar dari ruang kerja.


"Putriku sudah remaja. Sudah bisa membedakan mana baik dan tidak. Mungkin karena dibully dia jadi berubah. Ada baiknya juga, sih," gumam Dion.

__ADS_1


Delilah sangat manja kepada kakek dan papanya. Selalu saja ada kecupan sayang di antara mereka. Menurut Dion wajar saja mengecup pipi orang tua. Jika orang lain yang tidak kenal melihatnya, mungkin beranggapan berbeda.


Dion kecup foto Dila yang terpajang di meja kerjanya. "Putri kita sudah berubah, Sayang. Pemikirannya sudah sedikit dewasa. Semoga dia bisa sepertimu."


...****************...


"Saya dengar dua minggu ini ada pembullyan di sekolah ini dan itu terjadi pada putri saya. Apa pihak sekolah tidak tahu? Mau itu parah atau tidak tingkat perundungannya, tetap saja ini tidak boleh terjadi," kata Dion.


"Saya sebagai wali kelas Delilah meminta maaf, Tuan. Masalah ini sudah kami bicarakan baik-baik dengan pelaku. Awalnya hanya bercanda, lalu melebar menjadi gosip yang tidak seharusnya," ucap wanita yang menjabat sebagai wali kelas Delilah.


"Baguslah jika pihak sekolah cepat tanggap. Saya berharap ke depannya tidak akan terjadi hal-hal yang seperti ini. Kalau begitu, saya permisi." Dion beranjak dari duduknya. Ia merapikan jas, lalu melangkah keluar dari ruang guru.


"Kenapa duda ganteng itu makin mempesona saja? Meski sifatnya jadi dingin, tetapi tetap saja jantung ini berdetak kalau melihatnya," gumam wali kelas Delilah.


Sudah jadi gosip dalam dua minggu ini. Dion yang menduda menjadi topik hangat pembicaraan para guru wanita. Siapa yang tidak mau dengan duda anak satu yang kaya dan tampan. Mereka belum tahu saja kondisi Dion yang hampir saja gila karena ditinggal Dila.


...****************...


"Kirain Papa tidak jadi ke sekolah," kata Delilah.


"Jadi, dong. Papa sudah bicara pada wali kelasmu. Katanya, masalahnya sudah selesai."


Keduanya sudah berada di dalam mobil. Dion berkunjung ke sekolah Delilah satu jam sebelum putrinya pulang sekolah agar bisa sekalian pulang bersama.


"Sudah selesai, tapi masih saja ada menyindir," kata Delilah.


"Kata tante Ardila, dia punya diskon."


"Kenapa tidak ajak Sera dan adikmu yang lain?" tanya Dion.


"Mereka punya jam tambahan pelajaran. Delilah ingin potong rambut jadi pendek."


Mobil menuju ke jalan Seruni tempat salon Ardila berada. Dion menepikan mobil di tempat parkir yang tersedia. Salon Ardila cukup besar


Gedungnya bertingkat dua dengan papan nama bertuliskan Ardila spa and beauty.


"Ini tempatnya?" tanya Dion.


"Katanya begitu lewat pesan singkat. Kita masuk saja, Pa," kata Delilah.


Keduanya masuk ke dalam salon. Ternyata Ardila telah menunggu kedatangan Delilah yang akan berkunjung ke tempatnya.


"Hai, selamat datang," ucap Ardila.


"Tempatnya bagus, Tante," kata Delilah.


"Terima kasih," ucap Ardila. "Apa kita langsung saja?"

__ADS_1


"Lebih cepat lebih bagus," kata Dion.


Delilah duduk di bangku, sedangkan Dion duduk di sofa tunggu sembari melihat majalah yang tersedia di meja. Ardila melakukan pekerjaannya memotong rambut sesuai dengan keinginan dari gadis itu.


"Apa potongannya sesuai?" tanya Ardila.


"Iya, Tante. Delilah suka."


"Rambutnya kita cuci dulu, ya." Ardila memanggil anak buahnya untuk mencuci rambut Delilah.


"Tuan ingin minum teh?" tawar Ardila.


Dion meletakkan majalah yang ia pegang ke meja. "Air mineral saja."


Ardila tersenyum kemudian mengambil air mineral gelas yang terletak di meja kasir, lalu meletakkanya di meja hadapan Dion.


"Silakan."


"Terima kasih," ucap Dion. "Sudah lama Nona membuka usaha ini?"


"Sebelum menikah saya sudah membuka salon ini dan pada minggu nanti akan membuka cabang di salah satu mall," kata Ardila.


Dion menganggukkan kepala, "Anda wanita yang sukses rupanya."


"Tidak juga. Saya bekerja keras karena sebagai tulang punggung keluarga."


Delilah telah duduk kembali di hadapan kaca besar setelah mencuci rambut. Terlihat gadis itu menyukai potongan rambut barunya.


"Putri Anda sangat cantik," puji Ardila.


"Ya, dia cantik seperti mamanya. Matanya indah, senyumnya manis. Semua keindahan ada padanya," ucap Dion.


Ardila tertawa kecil, "Anda memuji atau mengenang?"


"Memang seperti itu Dila di mataku. Hanya dia yang tercantik."


"Anda pasti pria yang sangat romantis," kata Ardila.


"Tidak. Saya hanya memperlakukan orang yang saya sayangi dengan lembut."


Ardila tersenyum, "Melupakan memang sulit, tetapi hidup akan terus berlanjut, kan? Saya juga pernah merasakan hal seperti itu, tetapi saya sadar jika ada orang-orang yang masih membutuhkan saya."


Dion malah tergelak, "Ucapan Anda sama saja seperti yang lain." Dion beranjak dari duduknya, lalu menghampiri Delilah.


Kamu tidak mengerti apa-apa. Hidup memang akan berlanjut sebagaimana mestinya. Namun, Jiwaku yang sudah pergi meninggalkan raga ini. Hidupku hampa tanpa Dila di sampingku.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2