
Tiada senyum yang indah melihat wanita yang paling kamu cintai tersenyum bahagia. Tiada tawa yang paling lepas seperti tawa dari wanita yang kamu cintai.
Rona bahagia terpancar jelas di wajah wanita yang Dion kasihi saat ini. Bagaimana tidak; dokter mengatakan jika istrinya masih kemungkinan untuk bisa mengandung.
Hidup sehat yang Dila jalani selama ini menjadi faktornya. Senyum lebar jelas terpatri di sudut bibir sang istri. Genggaman tangan erat, kepala yang berada di lengan Dion, menyuarakan betapa berbunganya hati Dila saat ini.
Tiada henti senyum itu terus mengembang. Seolah Dila tidak peduli akan saliva yang mencuat dari bibirnya, dan mungkin saja orang lain beranggapan Dion tengah membawa wanita tidak waras karena bibir Dila yang tidak terkatup sedari tadi.
Peduli apa Dion dengan penglihatan orang-orang. Bila perlu ia juga akan melompat-lompat seperti anak kecil mendapat hadiah saking bahagianya.
Hadiah, tentu Dion akan menantikan hadiah dari Sang Pencipta. Hadiah yang akan membawa kesempurnaan untuk istri serta pernikahannya.
"Sayang ... aku mau ke supermarket. Kita beli susu dan juga buah-buahan," ucap Dila.
Satu cubitan kecil di hidung Dion berikan pada Dila. "Iya ... apa saja yang kamu mau beli, maka beli saja."
"Mulai hari ini, kamu juga harus menjalankan pola hidup sehat. Kita harus membeli banyak sayuran, buah serta seafood," tutur Dila.
"Iya, Sayang," jawab Dion.
Jika rumput bisa dikategorikan sebagai makanan sehat untuk Dion, maka pria itu tidak akan segan untuk memakannya. Namun sayangnya, rumput diperuntukkan untuk lembu perah yang mana akan menghasilkan susu yang menyehatkan bagi manusia.
Keduanya masuk ke dalam mobil setelah keluar dari gedung rumah sakit. Dion mengemudikan kendaraan beroda empat menuju pusat perbelanjaan.
Sekitar setengah jam perjalanan, mobil sampai di tempat yang dituju. Keduanya keluar dari dalam mobil dan segera masuk ke dalam gedung pusat perbelanjaan.
"Apa langsung belanja makanan?" tanya Dion.
"Iya ... kita langsung saja. Habis ini kita pulang dan jangan lupa kamu undang Rey buat ke rumah," tutur Dila.
Dion mengangguk. "Iya."
Sesuai dengan apa yang Dila katakan, selesai keduanya berbelanja segala hal yang diperlukan. Mereka langsung pulang ke rumah untuk acara makan malam bersama anak serta menantu.
...****************...
"Kiano," seru Dila dengan segera mengambil Kiano dari tangan Anna.
"Ayo masuk," ucap Dion sembari merangkul Reyhan serta Anna secara bergantian.
"Kita langsung makan malam atau bagaimana?" tanya Dila.
"Kita bincang santai dulu. Biar pengasuh Kiano yang makan duluan," sahut Anna.
Dila mengiyakan permintaan Anna dan menyuruh Sari untuk mengajak pengasuh Kiano makan terlebih dulu. Sari dan Paijo dibawa Dila pindah ke rumah Dion, karena baik ia dan sang suami sudah sangat akrab dengan kedua pasangan tersebut.
__ADS_1
"Sayang ... aku juga ingin dibuatkan taman seperti mama," seru Anna kepada Reyhan saat keempatnya sudah berada di taman.
"Bunga ini ... Papa sendiri yang menanamnya," sahut Dion.
"Romantisnya Papa," puji Anna.
"Aku tidak romantis?" gerutu Reyhan.
"Romantis kok, Sayang. Tapi dengan caramu sendiri," ucap Anna sembari tersenyum penuh godaan.
Anna sangat menyukai taman yang ada di rumah Dila. Taman yang di dominasi warna putih dari tulip serta mawar merah yang melambangkan cinta Dion sangat suci dan besar pada sang istri.
"Mama sudah periksa ke dokter tadi," cetus Dila.
Dahi Reyhan berkerut. "Mama sakit?"
"Bukan. Mama periksa kandungan. Mama mau hamil lagi," ungkapnya dengan antusias.
Reyhan tercengang mendengar apa yang terlontar dari bibir sang mama. Anna memeluk Dila yang tengah memangku Kiano. Ia merasa ikut senang dengan apa yang mertuanya ungkapkan.
Dion menepuk pundak Reyhan. "Doakan supaya kamu cepat punya adik."
Reyhan merasa kehidupannya berada dalam satu kekonyolan. Belum lepas rasa kaget karena Dila bersuamikan sahabatnya, ditambah sekarang mamanya ingin hamil lagi.
Diusia yang sudah matang dengan satu orang anak, ditambah dengan yang dikandung oleh Anna, Reyhan baru akan mendapatkan seorang adik kecil lagi. Terasa lucu tetapi itulah fakta sebenarnya.
"Dokter mengatakan jika Mama bisa saja mengandung. Selama ini Mama selalu menjaga pola makan sehat, kan? Dan mulai hari ini, Dion juga akan ikut menjaga pola makannya," tutur Dila.
Reyhan memandang rona bahagia yang terpancar dari raut wajah Dila. Bisa ia mengerti sebagai istri, Dila juga pasti menginginkan pewaris untuk Dion. Ia tidak tega untuk menentang, meski Rey sangat khawatir jika mamanya mengandung diusia yang sangat matang.
"Semoga Mama cepat diberi momongan," ucap Reyhan.
"Amin," sahut ketiganya.
...****************...
Selesai makan malam bersama, Anna dan Reyhan pamit pulang. Tinggal Dion serta Dila yang masih duduk santai di kursi goyang taman sembari memandang sinar rembulan yang malam ini cerah, secerah raut wajah Dila.
Dila masuk ke dalam pelukan tubuh Dion, aroma harum tubuh suaminya merupakan zat adiktif yang membuatnya kecanduan serta merasa damai.
"Jika aku pergi meninggalkanmu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Dila.
"Aku akan mengerjarmu," jawab Dion.
"Jika aku pergi untuk selamanya?"
__ADS_1
"Maka aku akan memohon pada-Nya, berharap umurku diambil saat itu juga." Dion mempererat dekapannya.
"Kamu menentang takdir jika begitu," sela Dila.
"Takdirku adalah kamu. Aku akan menukarkan seluruh hidupku asal aku bisa tetap bersamamu," ucap Dion.
Dila tergelak. "Kamu begitu puitis."
"Aku bukan seorang pujangga. Aku hanya pria biasa yang mencintai segala kekuranganmu."
"Sayang ... aku meleleh," sahut Dila manja.
"Memangnya kamu Es yang meleleh? Kamu itu benda padat yang siap tempur," goda Dion dengan mengedipkan mata.
Dila memutar mata malas. Sempat-sempatnya Dion malah bercanda. Suasana yang diliputi keromantisan berubah menjadi rasa kesal bagi Dila.
"Kenapa?" tanya Dion dengan dahi berkerut.
"Tadi itu kesannya romantis," gerutu Dila.
Dion mengaruk kepalanya. "Aku merasa biasa saja."
Dila mencubit perut Dion. "Kamu!"
"Kenapa jadi marah?" tanya Dion heran.
Dila melipat kedua tangan di perut dan ia duduk membelakangi sang suami. Dion tersenyum melihat perilaku Dila yang kembali seperti remaja terbawa perasaan.
Pria itu memeluk istrinya dari belakang. "Coba kamu lihat rembulan itu."
Dila memandang sinar rembulan. "Kenapa?"
"Cahayanya menjadi redup," jawab Dion.
"Enggak tuh."
"Lihatlah ... rembulan itu berubah menjadi sendu. Tadi dia sangat gembira. Wajahnya dipenuhi kebahagian," ucap Dion mengajak Dila ke kolam taman. "Lihat rembulan itu." Dion menunjuk ke arah kolam.
Dila tersenyum sebab ia tahu maksud arti Dion sebenarnya. Ia melihat wajahnya di dalam kolam yang diterpa oleh sinar rembulan.
"Rembulannya sudah kembali tersenyum," goda Dion.
Dila berhambur memeluk suaminya. "Kamu bisa saja."
Mata keduanya saling menatap. Baik Dion dan Dila memiringkan wajah hingga bibir keduanya saling bertautan mesra.
__ADS_1
Bersambung.
Dukung Author dengan vote, like dan koment.