MY SWEETIE BOYFRIEND

MY SWEETIE BOYFRIEND
SEPASANG SAYAP


__ADS_3

Kita adalah sepasang merpati yang tengah terbang tinggi bersama di angkasa. Kita hinggap di dahan pohon rindang. Saat itulah aku menatap wajahmu yang kau sembunyikan dibalik sayap putih.


Aku bertanya, "Kenapa?"


Kau pun menjawab, "Aku tidak sanggup terbang bersamamu. Salah satu sayapku patah."


Aku pun membalas ucapanmu, "Ini bukan akhir segalanya."


Lalu kau pun mengatakan hal yang membuat nuraniku tertusuk ribuan panah dari sang pemburu. Tanpa sadar kau pun telah mematahkan sayapku. Aku berubah menjadi merpati hitam, meninggalkanmu dengan sayap yang patah. Aku tidak mampu terbang. Aku ingin mati saja karena panah tertancap tepat di jantungku.


Seberkas cahaya membawaku kembali padamu. Kulihat kau tetap berada di dahan pohon itu. Aku mengulurkan sayapku dan kau pun mengapainya.


"Aku akan membantumu terbang. Sayapku tidak bisa terbang tanpa kau di sisiku."


Dengan perlahan Dion membuka pintu kamar tidur setelah beranjak dari ruang kerja. Saat pulang dari rumah Diki, istrinya memang tidak menyambut; sebab itulah Dion langsung masuk ke ruang kerja.


Terlihat Dila sudah lelap dengan selimut yang membalut dirinya. Dion langsung berganti pakaian dan naik ke atas tempat tidur. Ia tidak ingin membangunkan Dila saat ini, biarlah esok hari saja ia berbicara kepada istrinya.


Dila membuka mata. Wanita itu belum tidur, tetapi pura-pura saja. Mana mungkin Dila bisa tidur dikala nalarnya tidak berhenti memikirkan Dion. Nuraninya selalu menimbulkan tanya pada nalar. Apa suaminya bersenang-senang?Apa wanita yang diajak Dion sangat cantik? Dila ingin menarik kata-kata yang sudah terlanjur terucap. Ia tidak sanggup berbagi. Dion adalah miliknya seorang. Hanya miliknya.


...****************...


"Selamat pagi, Sayang," ucap Dion.


"Pagi," balas Dila. "Air hangat sudah aku siapkan. Kamu mandilah dulu. Kamu pasti lelah semalam."


Dion tersenyum. "Iya, terima kasih."


Dila langsung pergi di saat Dion ingin mengecup kening istrinya. Pria itu terheran-heran akan tingkah yang Dila tunjukan.


"Itu sayangku kenapa, ya? Apa marah? Tapi kenapa?" tanya Dion pada dirinya sendiri.


Dion turun dari tempat tidur dan langsung beranjak ke kamar mandi. Seperti kata Dila, ia langsung berendam di dalam air hangat yang dapat membuat tubuhnya menjadi rileks.


"Delilah mana?" tanya Dion.


"Sudah pergi dijemput kakeknya," jawab Dila.


"Tumben mau pake mobil ke sekolahnya. Biasa mau diantar Paijo pake motor."


"Entahlah."


"Dia tidak pamitan padaku," ucap Dion.


"Kamu lama keluarnya."


Dion mengerutkan dahi akan jawaban-jawaban datar yang Dila lontarkan. Sarapan untuknya sudah siap dan kali ini sangat aneh. Secangkir kopi hitam dan sepotong roti lapis isi telur.


"Tumben menu sarapannya ini," ucap Dion.


"Kenapa? Tidak suka?" tanya Dila.


Dion mengeleng cepat. "Suka kok, Sayang."

__ADS_1


Segera Dion mengigit roti lapis yang dihidangkan istrinya. "Rasanya kok asam, ya?"


Dila mengerutkan dahi. "Asam?"


Dion mengangguk. "Iya ... coba saja sendiri."


"Aku tidak menambahkan tomat." Dila mengigit roti lapis milik Dion dan rasanya biasa saja, malah enak. "Enggak kok. Enak malah."


"Rasanya asam karena kamu enggak senyum," ucap Dion.


"Ish ... apaan sih? Pagi-pagi udah gombal," ucap Dila dengan senyum tertahan.


Dion menyesap secangkir kopi hitam setelahnya. "Pahit, Sayang."


"Jangan mengada-ngada," kesal Dila.


"Cobain deh."


Dila menyesap kopi hitam itu. "Manis kok."


"Kopinya pahit, tetapi senyummu lebih dari manis."


Dila melipat bibir agar tawanya tidak meledak. Ia bahkan menutup bibir dengan kedua tangan dan tidak ingin memandang wajah Dion.


"Jangan ditahan, Sayang. Nanti jadinya buang angin lho," ucap Dion.


Dila tertawa. "Kamu bikin aku kesal."


"Eh ... kenapa?"


"Kok, jadi marah? Kamu sendiri yang menyuruhku mencari wanita lain," jawab Dion.


Mata Dila melebar mendengarnya. "Jadi beneran, kamu main serong? Iya ... aku tahu, aku sudah tua."


Dion beranjak dari duduknya kemudian memeluk Dila. "Istriku yang cantik marah karena cemburu? Aku tidak seperti yang kamu pikirkan, Sayang. Semalam aku bertemu Diki dan Reyhan."


"Maafkan aku, Dion," ucap Dila. "Mulut sangat mudah berkata, tetapi hatiku sangat sulit untuk menerimanya. Aku sudah jatuh terlalu dalam pada dirimu."


"Lupakan, Sayang. Maaf juga karena aku semalam marah padamu." Dion mengecup ubun-ubun Dila beberapa kali. "Kita ke dokter, yuk!"


"Dokter?"


"Kita perlu konsultasi, Sayang."


Dila mengangguk. "Iya ... aku mau."


...****************...


Dila gelisah duduk di kursi tunggu ruang dokter yang khusus menangani masalah hubungan suami dan istri. Rasa malu terlalu menghantui dirinya. Dalam hati ia menyesali keputusan yang Dion ajukan tadi pagi.


"Jangan malu. Aku ada di sampingmu," ucap Dion.


"Kamu selalu tahu apa yang aku pikirkan," tutur Dila.

__ADS_1


"Kita kan sehati dan sejiwa."


"Dalam keadaan begini ... kamu masih saja mengombal," kesal Dila.


Nama Dila dan Dion dipanggil oleh suster. Dila enggan untuk masuk, tetapi Dion menarik tangannya untuk masuk ke dalam sana. Dila kaget karena dokternya laki-laki.


"Sayang ... aku malu," bisik Dila.


"Tenang ... ada aku."


"Silakan Tuan, Nyonya," sapa ramah dokter. "Ada keluhan apa?"


Dila menunduk malu. Wajahnya memerah di depan dokter berkacamata. Dion memberitahu keluhan-keluhan Dila dan meminta saran yang terbaik.


"Ini bukan masalah. Masih banyak cara yang bisa dilakukan. Makan sehat tentu saja. Lakukan senam kegel dan saya akan berikan pelembab serta pelumas. Saling menghabiskan waktu bersama dan komunikasi juga penting."


Dila tersenyum. "Terima kasih, Dok."


"Terima kasih banyak, Dokter," ucap Dion.


Dion dan Dila beranjak keluar dari ruang dokter setelah menerima resep dan berpamitan. Selagi mengantri obat, keduanya duduk di kursi tunggu.


"Pakai pelembabnya setiap hari, Sayang," ucap Dion.


"Iya," jawab Dila. "Kenapa kamu tiba-tiba punya ide kemari?"


"Diki dan Reyhan yang mengatakannya," jawab Dion.


Dila tersentak. "Sayang ... aku kan malu."


"Mereka anak-anak kita dan juga sahabatku. Kenapa mesti malu? Dari mereka juga hubungan kita membaik," tutur Dion.


"Aku bersyukur punya anak-anak seperti mereka."


"Oh, ya ... kita berencana buat pergi bulan madu. Pasti seru kumpul-kumpul bareng."


"Itu bukan bulan madu, Sayang. Pergi rame-rame namanya wisata," ucap Dila.


Benar juga apa kata Dila. Masa bulan madu bareng. Tapi asik juga kalau saling cerita sama Diki dan Reyhan. Bisa tanya-tanya masalah gaya.


...****************...


"Perasaanmu bagaimana?" tanya Dion setelah keduanya berada di dalam mobil.


"Lebih lega," jawab Dila.


"Aku boleh menikah lagi tidak?" tanya Dion sembari menaikan-turunkan kedua alisnya.


"Enggak boleh. Kamu milik aku."


Dion membawa Dila ke dalam pelukannya. "Kamu juga milikku." Mobil berhenti di tepi jalan sepi. Dion mengecup bibir Dila dengan penuh kelembutan dan dalam.


Teruslah bersamaku. Kita terbang bersama ke awang-awang dengan sayap-sayap yang mengepak. Semoga tujuan akhir kita sampai pada taman indah Firdaus.

__ADS_1


Bersambung.


Dukung Author dengan vote, like dan koment.


__ADS_2