
Jodoh, maut, sakit, sehat, rezeki, tidak ada yang tahu. Semua ketentuan dari-Nya. Begitu pula kehidupan rumah tangga Dila, dan Dion. Sempat ada badai yang ingin menerjang, sekarang lenyap akan kuatnya cinta.
Sudah seminggu ini Dila terbaring di atas tempat tidur. Tubuhnya lelah, dan tidak ingin melakukan apa-apa. Dion sampai cuti, dan menghabiskan waktu dengan merawat istrinya.
"Makan dulu, Sayang. Semalam makannya cuma sedikit," kata Dion.
Dila tatap makanan yang berada di tangan suaminya. Makanan sehat yang selalu ia makan. Sedikit karbohidrat, dan lebih banyak protein serta vitamin. Nasi, ayam rebus tanpa kulit, serta sayuran.
"Nanti saja, Sayang. Aku mau tidur saja," kata Dila.
"Habis ini minum obat. Kapan kamu mau sembuh kalau begini?"
"Kamu tidak mau mengurusku!"
Dion tersentak, "Eh, bukannya begitu. Aku cuma ingin kamu sehat."
Dila kembali merebahkan diri. Ia membalik tubuh membelakangi Dion, lalu memejamkan mata. Hanya helaan napas yang Dion embuskan akan perilaku istrinya.
Akhir-akhir ini dia sangat sensitif. Aku salah bicara, dan harus membujuknya.
"Dila sayang. Jangan ngambek, dong! Kamu enggak kasihan sama suamimu ini? Aku sendiri yang membuatkan makanan untukmu. Makanlah, barang sedikit," bujuk Dion.
Dila membalik tubuhnya, lalu bangun menyandar di kepala ranjang dengan bantal kepala sebagai penyangga.
"Makan, ya, Sayang," bujuk Dion.
Dila mengangguk, lalu menerima suapan demi suapan makanan yang Dion berikan. Ia susah untuk menelan, tetapi melihat kesungguhan Dion rasanya tidak tega untuk menolak kembali.
"Nanti buatkan makanan lembut saja. Aku kesusahan untuk menelan," kata Dila.
"Apa perlu kita ke dokter lagi? Sepertinya obat yang dokter berikan tidak manjur," ucap Dion.
Dila tersenyum, "Dokter tidak akan mampu menyembuhkannya. Umurku sudah lanjut, dan ini hanya keadaan biasa saja."
"Aku lihat masih banyak yang sehat meski umurnya lebih dari kamu," ucap Dion membantah.
"Sayang, tidak ada yang tahu kondisi kesehatan masing-masing. Yang sehat bisa saja sakit, dan yang sakit bisa saja sangat sehat."
"Aku mau yang kedua. Cepatlah sembuh, dan kita ke Inggris. Kamu ingin ke sana, kan?" kata Dion.
__ADS_1
Dila mengangguk, "Iya, kita ke sana, ya."
...****************...
"Bagaimana keadaan Mama?" tanya Reyhan yang datang menjenguk.
"Baik-baik saja. Kamu pesankan tiket ke Inggris. Mama mau berangkat secepatnya ke sana bareng papamu."
"Bukannya masih sakit? Aku enggak mau," tolak Dion.
"Sudah sehat, kok, Sayang. Kita berangkat saja besok atau lusa," kata Dila.
"Makan saja kamu tidak mau. Ini mau ke luar negeri lagi. Pokoknya tidak boleh. Kamu harus tetap di rumah." Dion naik ke atas ranjang meminumkan istrinya obat.
"Benar, Ma. Di rumah saja istirahat," kata Reyhan.
"Kamu tidur dulu saja. Aku mau bicara dulu sama Reyhan," kata Dion.
Dila mengangguk mengiyakan perkataan suaminya. Dion menyelimuti tubuh Dila, dan tidak lupa kecupan selamat malam di kening sebelum ia keluar kamar bersama Reyhan.
"Ada apa?" tanya Rey.
"Aku ingin pensiun. Kamu tolong lihat-lihat perusahaanku. Papaku juga pensiun, dan perusahaan ini untuk Delilah nantinya," tutur Dion.
"Satukan saja perusahaan kita. Lagian kamu, kan anakku."
"Aku sangat kesal mengetahui kalau aku ini, anak tirimu. Kamu kenapa mau pensiun dini?" tanya Reyhan heran.
"Aku mau bersama Dila saja." Dion duduk di kursi sofa sembari menundukkan kepala.
Reyhan menepuk pundak sahabatnya. Ia tahu mengapa Dion merasa lemah tidak berdaya. Dila tidak kunjung sembuh dengan penyakitnya. Bukan penyakit yang sebagaimana bisa ditetapkan, tetapi penyakit penurunan fungsi organ tubuh karena faktor umur.
"Mama pasti akan sembuh," ucap Reyhan.
"Bagaimana mau sembuh? Makan saja tidak mau. Minum obat harus dibujuk dulu. Dia selalu sensitif, aku bicara biasa saja, dia menganggapnya marah."
"Kamu kan, perayu ulung. Rayu saja mama," Reyhan menyenggol lengan Dion agar sahabatnya itu kembali bersemangat.
"Iya, terima kasih, Reyhan," ucap Dion.
__ADS_1
...****************...
Reyhan berpamitan pulang, dan akan kembali besok bersama Anna serta anak-anaknya. Dion masuk ke dalam kamar tidur setelah melihat Delilah di kamarnya.
Dila sudah terlelap, mungkin karena obat yang Dion berikan tadi. Seminggu ini memang melelahkan untuk Dion. Tingkah Dila bagai anak kecil yang serba dibujuk, tetapi itu tidak menyurutkan niatnya agar sang istri cepat sembuh, dan kembali beraktivitas seperti biasa.
Lelah mendera membuat Dion cepat memejamkan mata. Malam ini ia tidak berniat untuk mengurusi masalah perusahaan meski sang asisten Andi, sering menelepon menanyakan kabar kapan akan kembali bekerja.
Dion mengerjap merasa ada yang aneh dalam tidurnya. Ia merasa tubuhnya basah. Karena rasa penasaran membuat tangan Dion merasakan punggung belakangnya.
"Kok, basah?" Ia raba lagi kasur yang memang sudah basah. Dion bangun, lalu turun dari tempat tidur. Tempat tidur basah, dan bajunya juga hingga pada punggung belakang. Ia mendekatkan tangannya ke hidung, menghirup aroma yang basah. "Bau pesing. Apa aku mengompol?"
Dion meraba celananya yang ikut basah, tetapi tidak mungkin ia mengompol di tempat tidur. Dion membuka selimut tebal yang menyelimuti istrinya. Sisi sebelah Dila basah termasuk baju tidur yang istrinya kenakan.
"Dila mengompol rupanya? Apa dia ketiduran sampai tidak sadar?" gumam Dion sembari menjauhkan selimut, dan juga melepas pakaian yang ia kenakan.
"Sayang, bangun. Tubuhmu basah." Dion menguncang pelan tubuh Dila agar terbangun.
Dila mengerjap, mengosok matanya agar terbuka. "Ada apa?"
"It-itu, kamu mengompol, ya?" Dion tidak enak hati mengatakannya.
Dila melihat Dion yang hanya memakai dalaman, dan ia lihat keadaannya. Dila kaget karena tubuhnya basah oleh air seni yang ia keluarkan tanpa sadar.
Wajah Dila merona malu. "Maafkan aku."
"Tidak apa-apa, Sayang. Biar aku bersihkan."
"Jangan! Biar aku saja," tolak Dila.
"Aku akan siapkan air hangat untuk kamu mandi. Kamu tunggu sebentar." Dion bergegas masuk ke kamar mandi. Tidak lama pria itu kembali dengan memakai kimono. "Ayo, kamu mandi dulu. Tubuhmu sudah basah begini."
Dion membuka baju tidur Dila, dan membawa istrinya ke kamar mandi. "Mandi sendiri bisa? Aku akan membereskan tempat tidur."
Dila hanya menganggukan kepala karena ia masih sangat malu akan apa yang terjadi. Sudah berumur, tetapi masih bisa mengompol di tempat tidur. Entah apa yang terjadi padanya pada saat tidur tadi.
Dion melepas seprai, sarung bantal, lalu membawanya ke halaman belakang buat dicuci besok. Dila keluar setelah ia membersihkan dirinya.
"Pakaianmu sudah aku siapkan. Jangan tidur di kasur yang basah. Kita tidur di kamar lain saja," kata Dion yang langsung masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya.
__ADS_1
Bersambung.
Dukung Author dengan vote, like, dan koment.