
"Pa ... Delilah izin pergi, ya?"
Dion melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul sebelas siang. Putrinya sudah rapi dengan memakai dress ungu muda serta sepatu sport putih.
"Mau ke mana?" tanya Dion.
"Tante Ardila mengundang Deli ke acara pembukaan salon miliknya."
"Sayang ... akhir-akhir ini kamu sangat dekat dengan nona Ardila. Apa temanmu yang lain tidak ada?" tanya Dion.
"Tante Ardila sangat asik diajak bicara. Dia bisa memahami Delilah. Namanya juga sama seperti mama. Bisa dibilang dia penganti mama."
Dion tersentak, "Kamu tidak menyuruh Papa menikah lagi, kan?"
Delilah tertawa, "Kalau Papa mau, kenapa tidak?"
"Kamu pergilah. Pakai taksi online saja. Papa tidak bisa mengantar." Dion beranjak dari duduknya, lalu melangkah masuk ke kamar.
Delilah mengeluarkan ponsel miliknya kemudian memesan taksi online untuk mengantarnya ke pusat perbelanjaan, tempat Ardila membuka cabang salon terbaru.
Dion meraih bingkai gambar yang terpampang wajah Dila. "Semudah itukah, Sayang?" Ia peluk foto mendiang istrinya. Delilah mengatakan hal itu dengan tawa, tetapi Dion merasakan sakit hati. "Kamu tidak akan tergantikan, Dila."
...****************...
"Tante Ardila!" seru Delilah.
Ardila melambaikan tangannya saat mendengar seruan dari Delilah. Wanita itu menghampiri dan memberikan pelukan hangat.
"Kamu hanya sendiri?"
"Iya ... kenapa? Apa Tante mengharapkan papaku datang?"
Ardila terkesiap, "Ah ... tidak, kok. Tante kira papamu yang mengantarmu kemari."
"Kalau hari libur, papa akan menghabiskan waktu di kamar. Pagi mengunjungi makam mama, lalu siang sampai sore akan terus di kamar."
"Mamamu pasti orang yang sangat cantik. Papamu sepertinya tidak bisa move on," ucap Ardila.
Delilah mengambil ponsel dari dalam tas selempang miliknya. Ia membuka galeri penyimpanan foto, lalu menunjukkan foto Dila bersama dengan Dion.
"Ini mamaku," kata Delilah sembari menunjukkan foto Dila.
Pupil Ardila melebar. "Bukannya ini nyonya Dila Alberto?"
"Bukan! Nama mamaku Dila Handoko."
"Nama kakakmu Reyhan Alberto Pratama?" tanya Ardila.
Delilah mengangguk, "Iya, nama belakang kami berbeda karena kami saudara tiri. Tante kenal mamaku?"
__ADS_1
Ardila tersenyum, "Siapa tidak kenal nyonya Dila. Dia, kan, pernah masuk majalah bisnis."
Tidak sangka Delilah putri kandung dari nyonya Dila. Aku tidak sempat membaca berita. Ternyata tuan Dion suami beliau.
"Kapan-kapan, Tante harus makan malam di rumahku. Sangat sepi di rumah. Papa, kakek, semua menyibukkan diri," kata Delilah.
"Boleh saja kalau diundang," sahut Ardila.
...****************...
Delilah menikmati acara pembukaan salon. Cukup ramai pengunjung serta teman-teman Ardila yang datang, dan tanpa terasa hari pun sudah petang.
"Tante ... aku permisi mau pulang," kata Delilah.
"Biar Tante yang antar. Ini sudah sore."
Delilah mengangguk, "Boleh."
"Kamu tunggu di luar pintu masuk mall. Tante ambil mobil dulu di parkiran."
Delilah mematuhi apa yang Ardila perintahkan. Ia menunggu wanita itu di depan pintu masuk mall. Setelah beberapa saat, suara klakson berbunyi, lambaian tangan menyuruh Delilah masuk ke dalam mobil.
"Oh, ya, apa Tante punya anak?" tanya Delilah setelah masuk ke dalam mobil dan selesai memakai sabuk pengaman di tubuhnya.
"Punya. Anak Tante cowok berusia dua puluh tahun, dan sekarang menempuh pendidikan di luar negeri. Dia mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di Amerika."
"Wah! Pasti anak Tante pinter banget sampai dapat beasiswa," ucap Delilah kagum.
Delilah tersenyum, "Iya ... aku juga akan begitu nantinya."
Mobil melaju menuju kediaman Dion setelah Delilah memberitahu alamat rumahnya kepada Ardila.
"Singgahlah dulu, Tante," tawar Delilah.
"Rumahmu sangat indah. Apa lampu-lampu kerlap-kerlip itu sengaja dipasang di sepanjang tubuh bagian rumah?" tanya Ardila.
"Iya, papa yang memasangnya. Mamaku suka dengan keindahan ini. Ayo ... kita ke taman belakang rumah."
Keduanya keluar dari dalam mobil. Delilah membawa Ardila ke taman belakang lewat pintu samping. Saat Ardila sampai di taman, ia begitu takjub melihatnya.
Hamparan berbagai bunga menghiasi, lampu berwarna-warni menjadi penghias. Di sana ada ayunan, bangku goyang dengan bantalan busa.
"Indah sekali," kata Ardila. "Rasanya aku sedang berada di luar negeri."
Delilah tertawa, "Papaku yang membuat taman ini. Bunga-bunga ini kesukaan mamaku. Tidak ada yang mekar karena papa selalu memetiknya untuk dibawa ke makam mama."
"Papamu sepertinya orang yang sangat romantis."
"Memang benar. Setiap saat papa selalu membuat kalimat-kalimat indah untuk mama."
__ADS_1
"Beruntungnya mamamu. Oh, ya, Tante pamit dulu, ya. Sudah malam. Titip salam saja buat orang di rumahmu," ucap Ardila.
Delilah mengantar Ardila sampai menuju mobil. Ia melambaikan tangan saat Ardila sudah berlalu dengan mobilnya.
"Sayang!" seru Dion.
"Papa dari tadi di sini?"
"Tidak biasanya kamu mengajak orang luar kemari. Biasa temanmu tidak pernah kamu ajak ke taman belakang," kata Dion.
"Tante Ardila bilang dia menyukai rumah kita, makanya Delilah memperlihatkan taman belakang. Ternyata dia suka."
"Kamu sangat suka padanya?" tanya Dion.
"Iya ... aku suka padanya," jawab Delilah.
...****************...
Kedekatan Delilah dan Ardila semakin akrab. Setiap waktu keduanya menghabiskan waktu bersama. Kadang Dion juga diajak putrinya untuk menghabiskan waktu bersama-sama.
Ketiganya juga sudah pernah makan malam bersama di restoran. Memang Dion dan Ardila belum pernah berkencan berdua saja. Tetapi sedikit demi sedikit, Ardila tahu tentang Dion.
Menurut Ardila, ayah dari Delilah itu sangat penyayang, berhati lembut dan penuh perhatian. Sosok yang selama ini Ardila cari. Ya ... benih-benih cinta telah muncul dalam hati Ardila.
...****************...
"Aku dengar Delilah dekat dengan seorang wanita?" tanya Reyhan.
Reyhan sengaja datang berkunjung menemui Dion di rumah. Ia datang memastikan cerita yang Delilah sampaikan. Ya ... gadis remaja itu menceritakan perihal ia dekat dengan seorang wanita dewasa.
"Iya ... dia suka menghabiskan waktu bersama pemilik salon. Namanya hampir sama dengan Dila, karena itu dia menyukainya," jawab Dion.
"Delilah butuh kasih sayang seorang ibu, Dion," kata Rey.
"Apa benar begitu?" tanya Dion.
"Aku tidak menyuruhmu untuk melupakan mama, tetapi lihat Delilah ... dia butuh perhatian dan pelukan seorang ibu."
Dion beranjak dari duduknya. Ia melangkah masuk ke dalam kamar meninggalkan Reyhan. Suatu kebiasaan saat membahas yang berkaitan dengan Dila, pasti Dion akan pergi.
"Dion mana?" tanya Bastian.
"Sudah masuk ke kamar."
"Apa dia mau menikah lagi dan melanjutkan hidupnya? Wanita itu sepertinya baik dan sangat cocok untuk Dion. Dia dengan cepat mengambil hati Delilah," tutur Bastian.
"Aku setuju saja jika Dion mau menikah lagi. Delilah juga butuh sosok ibu."
"Kalau Delilah meminta, pasti Dion mau menikah lagi," kata Bastian.
__ADS_1
Bersambung.
Dukung Author dengan vote, like, dan koment.